
"Aku mau ikut bapak ku ke kawasan Lia. Oh iya apa kamu tidak sekolah juga, aku tidak pernah melihat mu lewat berangkat atau pulang?"tanya Anah.
"Aku juga tidak sekolah An, kan adikku banyak. Bapak dan ibu ku juga gak punya uang kalau aku sekolah. Kalau kamu kenapa tidak sekolah?"Lia balik tanya pada Anah.
Mereka lebih dari 2 bulan tidak bertemu. Sejak ambil rapot dan ijazah, mereka sama-sama tidak pernah ke mana-mana.
"Aku sama tidak sekolah karena tidak ada uang banyak dan cukup untuk masuk pondok pesantren. Jadi aku gak sekolah deh, sudah dulu ya tuh bapak ku sudah jauh. "Jawab Anah sambil menunjuk pada bapaknya yang sudah jauh.
"Iya sampai ketemu lagi,"ucap Lia.
"Iya, dada,"Anah melambaikan tangannya sebelum lari menyusul bapaknya.
Anah sampai di dekat bapaknya, baru jalan beriringan dengan pak Kamidin.
"Tadi temanmu dari mana subuh begitu?" tanya pak Kamidin.
"Bukan dari mana pakde, tapi mau ke mana? Dia itu tidak punya sumur, jadi mandi dan nyuci numpang sama sebrang rumahnya. Paling tadi mau nyuci soalnya bawa ember besar." Jawab Anah.
"Oh begitu," tidak ada lagi yang di bicarakan sampai tanjakan lumayan tinggi dan panjang. Anah dan pak Risman membantu pak Jumadi mendorong gerobak.
Setelah sampai dataran pak Jumadi ngajak istirahat. Akhirnya mereka minggir sedikit dari jalan, supaya yang lewat pakai gerobak juga bisa jalan.
Saat mereka sedang istirahat ada beberapa gerobak yang di tarik sapi atau kerbau. Salah satunya juga teman Anah sekolah, yaitu Kholis.
__ADS_1
Namun mereka tidak saling bertegur sapa, hanya para orang tuanya saja. Sementara Anah hanya memandangi sekitar mereka, yang di jadikan tempat istirahat.
Belum sepenuhnya terlihat indah karena posisi mereka masih sepertiga perjalanan. Tempat meja duduk di antara pohon-pohon besar. Sehingga penglihatan nya sebagian tertutup pohon itu.
Setelah beberapa menit kemudian rasa lelahnya sudah reda. Melakukan perjalanan lagi sampai mereka berada di dataran tinggi lagi. Mereka istirahat kembali, dan pak Jumadi minta pada Anah menyiapkan makanan. Lalu pak Jumadi mengelar karung besar, untuk meletakkan bekal yang di keluarkan oleh Anah.
Meski panas terik, berada di kaki gunung. Suasana terasa berbeda, dengan makanan sederhana saja terasa nikmat.
~gambar hanya pemanis saja~
"Pak masih jauh apa tidak kebun nya?"tanya Anah di sela-sela makannya.
"Wah... Ia, memang boleh pak kita petik. Emang tidak di marahin sama yang punya pohon alpukat itu?" tanya Anah dengan rasa tak percaya.
"Ya boleh, tidak ada yang melarang. Yang jelas nya itu pohon punya Allah."Jawab pak Jumadi, yang membuat Anah langsung menatap bapaknya.
Jiwa penasaran Anah kembali lagi, yang mana pak Jumadi tidak pernah melihat beberapa tahun ini. Lima tahun sudah berlalu Anah dan pak Jumadi tidak berinteraksi.
Pertanyaan demi pertanyaan yang Anah layangkan, terakhir kalinya di sumur. Pada saat itu juga perdebatan antara dirinya dengan maknya.
Pak Jumadi tersenyum mengingat, di mana Anah yang saat itu. Ingin tahu perbedaan pay*dara laki-laki dan perempuan.
__ADS_1
Tapi entah Anah ingat atau tidak, karena itu tidak lagi pernah di bahas. Bahkan bentuk tubuh Anah sekarang juga mulai berisi. Terutama pada bagian dadanya, yang artinya Anah sudah menuju akil balik.
Sudah remaja menuju dewasa, meski belum mengalami datang bulan. Anah tampak memiliki body sweet, yang bagus, tentunya seksi ketika besar nanti.
Dan tinggi Anah yang saat ini hampir sama dengan ibunya. Yang tinggi badan kurang lebih 140 cm dan ibunya memiliki tinggi badan 145 cm. Berbeda kurang lebih 25 cm dengan pak Jumadi.
"Kenapa itu pohon bisa jadi milik Allah pak?"tanya Anah yang penasaran. Di mana saat ini Anah sangat terlihat bodoh. Padahal sudah sekolah sampai lulus SD. Tapi seperti tidak pernah mempelajari tentang tumbuh-tumbuhan saja.
"Ya milik Allah lah. Coba ini kebun punya siapa jika tidak ada pemiliknya. Lebih tepatnya ini tanah, bumi yang kita injak ini milik siapa? yang membuat bumi ini siapa? lalu yang memberikan kehidupan pada pohon yang hidup liar?"tanya pak Jumadi lagi.
"Yang menciptakan bumi Allah, yang ngasih kehidupan pohon besar atau kecil juga Allah pak. Tapi kenapa di sekitar pohon alpukat itu ada pohon kembang kertas. Seperti bekas halaman rumah orang, bukannya ini kebun orang pak?" tanya Anah memang belum tau tentang asal mulanya tanah kawasan ini.
"Ya memang ini dulu sudah ramai bahkan kalau kita datang itu pohon alpukat. Beberapa meter dari situ ada pondasi rumah tertata rapi. Dan sumur yang sudah di beri dingin bata semen bagus, cuma gak ada timba sama ember. Beberapa tahun lalu, kurang lebih nya daerah sini sudah ramai. Sama seperti rumah kita, apa lagi ini tanah garapan. Di mana kita cuma-cuma berkebun, dan mencari penghasilan. Tapi begitu banyak yang melanggar sampai saat gunung itu gundul. Akhirnya terjadi longsor bahkan dan menelan banyak korban. Setelah itu kawasan ini di tutup, sampai batas aman menurut kementerian hutan. Atau pemerintah pusat daerah dan ibu kota. Nah untuk batas aman itu yang tadi perbatasan kebun kopi dan hutan." Jelas pak Jumadi panjang lebar, tapi di singkat.
"Oh berarti yang di cerita pak Safrudin dan pak Harfi. Itu benar adanya, serem juga ya pak? tapi selama kita tinggal di sana nanti aman kan pak? Aku takut kalau kita lagi tidur mimpi indah tiba-tiba ter timpa longsor. Aku kan masih pengen hidup panjang, dan ngerasain jadi orang gede juga." Ada rasa takut yang tiba-tiba muncul di diri Anah.
Membayangkan berapa banyak korban jiwa dan luar yang terkena dampaknya tanah longsor. ada rasa ragu untuk naik ke puncak, sebab kebun bapaknya berada di bawah puncak gunung.
"Insya Allah aman untuk beberapa tahun ke depan. Maka dari itu nanti nih kebun kita harus kita tanami pohon besar. Seperti jengkol alpukat pisang, dengan sepuluh sampai lima belas meter. Di kebun kita ada rawan longsor nya." Ujar pak Jumadi.
Membuat jantung Anah berdetak kencang, bukan karena jatuh cinta. Melainkan ada rasa takut, yang menelusup ke dalam hati dan pikiran Anah.
"Hah longsor?" Anah menatap mata bapaknya dengan tatapan dalam.
__ADS_1
*****Bersambung.....