
"Woooe, dalam betul mas nyanyi."Tegur Darminah.
"Dek apa mungkin dia bisa jadi istri mas?"
tanya Sarwadi pada adiknya.
"Tanya sama aku emang aku mbah dukun apa. Lagian kalau dia bisa jadi milikmu, apa mas Ses juga bisa jadi milik ku? Kita ikuti sajalah apa yang di katakan bapak." Jawab Darminah.
"Aku kok merasa seperti tidak ada apa-apanya, di bandingkan dengan mas Ses itu. Secara Anah dari kecil sudah tau dia dan selama Anah pindah di sini. Tidak lama dari mas Ses pun ikut ke sini, seperti sudah ada ikatan kasat mata. Dan mas Ses waktu buat masalah, lek Jum juga melindunginya." Ucapan Sarwadi begitu dalam, karena lagi merana.
Sebab cintanya bertepuk sebelah tangan, semetara perempuan yang di cintai sudah punya tempat berlabuh.
Namun kenyataannya Anah tidak memilih siapa-siapa. Dan Anah dalam masa ini belum mengenal apa itu cinta. Yang ia tau jika orang pacaran itu akan punya tujuan. Tujuan yang pasti tentunya yaitu menikah, jika tidak maka tidak perlu pacaran.
"Mas sampean ini seperti sudah tau saja. Jodoh itu di tangan Tuhan. Dan jodoh itu sudah di tentukan, yang seperti apa. Belum tentu juga Anah jadi istri mas Ses atau mas.
Aku tau Anah, dia pernah bilang 'kalau orang pacaran itu pasti punya tujuan, yaitu menikah. Jika tidak punya tujuan maka tidak perlu pacaran. Biar dia masih kecil, tapi dia itu cabe rawit." Nasehat Darminah panjang lebar untuk masnya yang sedang merana.
"Mungkin begitu, terima kasih atas ceramahnya gadis kecil yang manis."ucap Sarwadi. Dengan mencium hidung Darminah yang pesek, lalu berlari masuk.
"Mas..... Kurang asem ini hidung ku sampai pedes banget." Keluhnya, sambil mengejar masnya yang jail.
Setelah hatinya tenang, karena sudah dapat pencerahan. Kini dengan seenaknya, berterima kasih dengan sebuah cubitan di hidung.
...****************...
Hari Kamis dini hari nenek dan Bu Sarinem sudah masak. Untuk bekel pak Jumadi, memang tidak akan langsung di makan sekarang. Tapi untuk di jalan nanti, jika sudah merasa lapar.
Untuk saat ini bu Sarinem menyiapkan ikan asin goreng, sambal terasi. Tidak lupa daun singkong rebus sudah siap. Dan untuk cemilan bakwan sayur, untuk teman ngopi sebelum berangkat.
"Dek Anah belum bangun? yang lain sudah siap malah belum bangun."Gerutu pak Jumadi.
__ADS_1
"Sampean aja mas yang bangunin, aku belum sempat ini lagi siapin bekel." Jawab bu Sarinem.
"Memang jam berapa mau berangkat?"tanya nenek.
"Kalau bisa setelah subuh Mak ini jam 4 kurang sepuluh menit. Sebentar lagi subuh, tapi yang mau ikut belum bangun."Jawab pak Jumadi, setengah ngomel.
Pak Jumadi jalan ke kamar Anah, begitu masuk kaget. Gimana tidak? Anah posisi nya ngangk*ng, bahkan tidak pakai celana pendek. Sehingga memperlihatkan kain segitiga warna hijau.
Karena Anah pakai baju dress warna merah maroon. Yang mana panjang dress tersebut di bawah lutut. Selimut yang di pakainya menggulung di bagian perut. Memang semua yang tidur di kamar pakai kelambu, supaya tidak di gigit nyamuk.
Menggeleng kepala melihat tingkah polah tidurnya Anah. Memang selama setahun ini ia tidak pernah melihat Anah tidur di kamarnya.
Hal itu membuat nya sadar lagi, bahwa anaknya yang satu ini sangat butuh perhatian. Setelah beberapa saat kemudian pak Jumadi tersadar dari lamunannya.
Di tarik lah kaki Anah dengan lurus dua-duanya, lalu di rapihkan bajunya.
"Anah..., Anah jadi ikut apa tidak?" panggil pak Jumadi, sambil menggoyang-goyangkan badan Anah.
"Kamu kalau tidak mau bangun maka bapak tinggal."Kata pak Jumadi dengan nada tinggi.
Anah langsung membuka mata, dan mengingat bahwa dirinya akan ikut bapaknya ke kawasan.
"Iya aku ikut tapi tunggu ya pak. Aku belum masukin baju-baju ku."Ujar Anah.
"Bukannya tadi malam bapak sudah bilang siap-siap kenapa belum?"tanya pak Jumadi dengan ngomel.
"Aku sudah siap semua tinggal masuk plastik aja kok pak."Jawab Anah.
"Kalau sudah siap itu tinggal berangkat aja. Sudah sana cepat, satu lagi selama disana harus pakai celana pendek atau panjang. Kalau pakai rok pun tetap pakai celana pendek. Jangan cuma pakai ****** ***** aja, perasaan ibu itu ajarin kamu pakai celana daleman lutut. Kenapa itu tidak pakai, untung bapak yang masuk kamar. Kalau yang masuk orang jahat gimana? maka kamu tidak akan jauh berbeda dengan Lisa."Nasehat pak Jumadi selesai maka adzan subuh berkumandang.
"Cepat setelah sholat subuh berangkat."lanjut pak Jumadi.
__ADS_1
"Iya pak,"hanya itu yang di ucapkan Anah dan segera ke kamar mandi. Ternyata di kamar mandi masih antri dengan para laki-laki, yang sedang ambil air wudhu.
Akhirnya Anah mencari apa yang di bilang bapaknya dan segera memasukkan plastik. Dan ia siapkan satu untuk di pakainya.
Setelah selesai Anah langsung ke kamar mandi, mandi dan lanjut sholat di kamar. Karena dia belakangan maka tidak ikut jama'ah di ruang tengah. Lebih tepatnya di depan meja TV, dengan menggelar tikar.
Monik pun sudah bangun untuk sholat subuh lebih dahulu. Setelah itu ia akan mencuci pakaian.
"Mau makan dulu sana kalau tidak itu makan bakwan."Ujar pak Jumadi.
"Dek bikin banyak apa gak ini bakwan nya?" tanya pak Jumadi pada istrinya.
"Bikin banyak itu juga sudah aku siapkan untuk di jalan nanti pas istirahat. Air minum juga sudah 3 botol, untuk di jalan."Jawab bu Sarinem.
"Oh... ya sudah, aku berangkat dulu ya. Doain selamat sampai tujuan."Ucap pak Jumadi.
"Ya mas, tolong jangan lengah dengan Anah. Dan sabar ngadepin dia, jangan sampai dia kumat."Ucap bu Sarinem.
Khawatir jika Anah kumat sakit dan ngambek. Sebab itu akan mempersulit pak Jumadi sendiri.
"Ayo jalan, Assalamualaikum," ucap pak Jumadi dan diikuti yang lain.
Berjalan menuju ke puncak gunung, dengan menepuk perjalanan kurang lebih tiga. Jika berjalan tanpa istirahat sama sekali.
Itu tidak mungkin ada yang kuat jika berjalan kaki arah ke puncak. Berbeda dengan arah turun puncak. Sebab hampir di bilang jalan menurun itu ringan. Jika tidak membawa apa-apa, berbentuk barang.
Kini pak Jumadi, Seswanto mendorong gerobak yang berisi bahan pangan dan 2 liter minyak tanah. Minyak tanah untuk bahan penerangan di malam hari. Dengan satu lampu pelita yang di buat dari botol bekas minuman soda. Yang berbahan dasar kaca, dan bunga alang-alang.
Hal itu tidak akan membuat mereka kaget jika hidup dalam sederhana. Apa lagi di tengah hutan, perjalanan juga melewati perkampungan. Kurang lebih satu kilometer, dan itu tidak mungkin Anah, tidak bertemu dengan teman sekolahnya.
"Anah kamu mau ke mana?"tanya Lia Amelia teman sekelasnya.
__ADS_1
*****Bersambung.....