
"Lek bisik bisik apa sih?"tanya Anah yang dari tadi memperhatikan mereka berdua yang sedang berbisik. Itu juga yang membuat Anah dan bu Kokom penasaran.
"Anah cantik, Anah makan rujak aja ya? ini urusan orang gede."Kata bu Kokom.
"Mbah, lek dua ini habis ketawa aku lo, terus mereka pada bisik bisik gitu. Pasti ini, lek dua ini ngomongin aku."Kata Anah yang dari tadi dia curiga dengan Warto dan Sugi.
Sugi nahan tawa, ia memang suka dengan Anah, ya banyak benarnya kalau menebak sesuatu apapun. Dan adanya dia langsung ngomong, tapi dia ingin menjaili Warto, adiknya ini melalui Anah.
"An, lek mau tanya; tapi jawab yang jujur ya?"tanya Sugi.
"Apa?"Anah menanggapi.
"lek Sugi sama lek Warto, gantengan siapa?" tanya sugi.
"Lah bocah ingusan nggo rebutan rupane," gumamnya bu Kokom, sambil nepuk jidat. Lalu beranjak ingin pergi, namun ia urungkan saat mendengar ucapan Anah.
"Ya lek Sugi lah" berhenti sejenak, sedetik kemudian "Tapi galak, kalau lek warto gak ganteng, tapi baik, sayang sama aku, suka belain aku. Kalau aku di nakalin sama mas Angga dan Johan. Kalau lek Sugi itu baiknya kalau lagi ada maunya. Kayak sekarang ini baik sama aku cuma pengen makan rujak bareng habis itu pasti galak lagi."Jawaban yang Anah berikan, benar apa adanya.
Sugi yang mendengar jawaban Anah langsung masam mukanya. Kesel dia niat jahili adiknya malah dia yang kena. Memang ia lebih ganteng, kulit putih, sedikit kasar, tapi hati lembut, sayang sama orang sekitarnya. orang sekitar menganggap dirinya galak, termasuk Anah.
"Hahahaha, ganteng tapi galak mas hahahaha" Warto tertawa penuh kemenangan.
__ADS_1
Sedangkan Sugi sudah melotot matanya ke Anah. Anah langsung bergeser kebelakang Warto.
"Sayang kamu masih kecil dan lagi gak ada bapaknya kamu."Ujarnya lalu berdiri akan pergi, baru 2 langkah berhenti karena pertanyaan Anah.
"Emang kalau aku besar kenapa? kalau ada bapak mau apa lek?"tanya Anah, ya memang masih polosnya.
"Kalau udah besar, dan ada bapakmu mau tak beli buat nakut nakutin burung di sawah."Jawabnya asal, Sugi pikir percuma ngomong sama Anah belum ngerti. Terlebih Anah masih kecil belum waktunya mendengar apa yang ia maksud. Dan berlalu pergi ke sawah, yang di samping rumah Anah. Ya ladang dan sawahnya bersebelahan dengan rumah Anah.
Warto yang sudah paham bernafas lega. Karena kakaknya tidak ngomong yang ia pikirkan. Ya Warto sempet berpikir kalau kakak akan ngomong, kalau Anah besar mau di lamar dan nikahi. Ya Warto memang paling cepat dewasa pikiran nya. Kadang dia minta pada mamaknya mau nikah sama Anah.
"Enak saja ngomong, kalau ada bapak dia juga gak berani. Lek Sugi kalau marah marahin aku kan kalau gak ada bapak."Anah menggerutu.
"Lek udah belum nih, aku mau bawa pulang ni cobeknya."Anah ia ingat sudah sore takut dengar ocehan neneknya.
"Gak usah lek aku bisa bawa sendiri, tapi ini sambelnya masih, mangganya juga masih."Kata Anah.
"Itu buat Anah sama nenek, yok kamu bawa mangga aku cobeknya."Ajak Warto.
"Mbah aku pulang ya?"Pamit Anah pada bu Kokom.
"Iya sana pulang nanti nenekmu ngoceh kalau rumah belum bersih."Kata bu kokom pada Anah.
__ADS_1
Bu kokom merasa kasihan pada Anah, ia selalu mengingatkan Anah. supaya Anah tidak di marahin sama neneknya.
"Iya mbah,"jawab Anah dan berlalu pulang di antar Warto yang membantunya membawa cobek.
Mereka berjalan dan Anah langsung masuk ke dapur di ikuti Warto. Mereka meletakkan bawaan di meja dapur. Warto langsung pulang, setelah pamit sama Anah.
Anah langsung mengambil sapu dan menyapu rumahnya yang masih berlantai tanah. Itu harus bersih, lanjut halaman depannya dan samping kiri belakang. Kalau samping kanan masih bersih karena sudah di sapu, usai mencabut rumput tadi.
Malamnya Anah menyiapkan apa aja yang mau di bawa ke sekolah, buku, pencil, penghapus. Sepatu, kaos kaki, dan seragam. semua ia keluarkan dari lemari di letakkan di meja yang ada di kamar orang tuanya. Dia pun akan tidur di kamar orang tuanya.
Nenek ini pencil gimana nanti gak bisa nulis?"Anah tanya neneknya.
"Sini nenek serut,"kata Nenek.
"Pakai apa nek?"tanya lagi.
"Sana kamu ambil pisau."Perintah Nenek.
Anah tak menjawab, tapi dia pergi ke dapur untuk mengambil pisau. Dan ia berikan pada neneknya, nenek langsung menyerut pensil itu dengan pisau.
Jaman dulu jarang yang punya serutan pensil.
__ADS_1
Anah sering pakai pisau atau silet. Ya kalau sekolah Anah selalu bawa silet buat serut pensil.
*****Bersambung....