TAKDIR KU

TAKDIR KU
82.AWAS NANTI JATUH MON....


__ADS_3

"Bukan pak, karena sekarang mas Angga sudah tidak jahil lagi. Tapi yang jahil itu Johan pak, dia itu orang yang aku kenal super jahil."Kata Anah dengan muka kesal.


"Tidak usah di ikut-ikutan jahil pokoknya, bapak gak suka."Ujar pak Jumadi.


Angga senang Anah tidak bilang kalau dirinya orang jahil, yang memang dia sudah tidak lagi jahil.


"Sudah ayo pulang, Ngga pak lek pulang duluan ya kamu bateng mamakmu ya."Kata pak Jumadi.


"Iya lek, dada Anah nanti aku main ke rumah mu."Kata Angga sambil melambaikan tangannya pada Anah.


"Iya ku tunggu."Jawab Anah sambil melambaikan tangannya.


...****************...


Malam hari pak Jumadi kumpul di ruang tamu, ada Parno dan Susi juga.


Mak besok aku dan ibu anak-anak berangkat ke pegunungan. Soalnya sudah sebulan lebih aku di sini, harus segera balik ke sana."Pak Jumadi.


"Yo wes kalau mau berangkat hati-hati." Kata Nenek.


"Monik apa nanti gak nangis kalau di tinggal sama ibu dan bapak?"tanya Parno


"Gak lek, di sana gak ada teman main lagi, teman main aku sudah pindah. Kalau di sini ada mbak Anah sama Nuri, nanti aku sekolah satu kelas sama Nuri."Celoteh Monik.


"Ya biar mbak Anah gak sendiri juga ada temannya. Kasihan temannya laki-laki semua, paling di sekolah teman ada yang perempuan."Ujar Parno.


"Semoga nanti lebih baik dari sebelumnya buat Anah, tidak akan seperti yang lalu." Kata dalam hati pak Jumadi.


"Sudah malam mas aku pulang dulu ya, kasihan Susi sudah ngantuk."Pamit Parno.


"Ya sana hati-hati bawa senter tu, sepertinya mendung jadi jalan gelap."Kata pak Jumadi.


"Ya mas, tak bawa dulu." Langsung beranjak dari duduknya dan menyalami tangan pak Jumadi, mbak yu iparnya dan mamaknya.


...****************...


Setelah kepergian kedua orang tuanya kini Anah dan Monik masuk rumah dan naik ke ranjang yang selama ini di tidur Anah selama sakit dan di temani bapaknya.


Bocah dua itu tidak ada yang berbicara mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Bahkan mereka tertidur lagi.


Nenek setelah nyuci pakaian masuk ke rumah heran, kemana bocah dua itu tidak ada suaranya. Ketika sampai di ruang tamu melihat Anah dan Monik tidur pun langsung membangun.

__ADS_1


"Bangun Anah Monik"dengan menggoyangkan tubuh mereka berdua.


"Iya Nek"Anah langsung bangun.


"Nenek aku ngantuk." Kata monik yang belum pernah tau sifat neneknya.


"Ini sudah jam delapan tidak baik untuk tidur. Nanti kalian tidak sehat dan jadi punya penyakit biri-biri mau?"tanya Nenek.


"Penyakit biri-biri itu apa Nek?"tanya Anah.


"Penyakit biri-biri itu jika kalian kelihatan gemuk. Namun kalau di pencet Lengan mu jadi berlubang berbekas jempol. Karena tidak akan balik lagi seperti sekarang ni, ini tanda orang sehat." Mempraktekkan di lengan Monik yang lebih gemuk dari Anah.


Kalau jaman dulu para orang tua bilang begitu, jika jam delapan tidur. Di bilang 'nanti punya penyakit biri-biri' kalau sekarang diabetes.(apa teman-teman pernah mendengar kata-kata itu.)


"Aku gak mau Nek, aku baru sembuh sakit."Kata Anah takut sakit lagi.


Langsung lari ke sumur buat cuci muka, Monik mengikuti mbaknya. Setelah selesai Anah masuk kamar dan mengeluarkan sepedanya.


"Mbak mau kemana?"tanya Monik


"Mau belajar sepeda biar cepat bisa, nanti kalau sudah bisa dan lancarkan nanti kalau sekolah naik sepeda."Kata Anah.


"Mbak boleh gak aku nanti belajar juga?"tanya Monik takut gak boleh sama mbaknya.


Nenek cuma melihat mereka main di halaman, sambil makan sirih.


Mereka berdua gantian belajar sepeda Anah, anah belajar menggowes sepeda, yang memang belum lancar jika bawa sendiri.


Sedangkan Monik masih belajar Menuntun dan gowes kaki sebelah. Monik termasuk berani, karena tanpa di kawal orang dewasa.


...****************...


Sebulan berlalu, pulang sekolah mereka belajar sepeda lagi ini rutinitas dua bocah ini jika di siang hari.


Mereka belajar di jalan depan rumah yang memang jalan nya menanjak. Jika ingin cepat lancar harus berani mencoba rintangan.


Tidak hanya berdua karena belajar di jalan umum. Takut sewaktu-waktu ada motor lewat jadi di awasi oleh Nenek. Di seberang ada Warto dan bu Kokom yang ikut melihatnya.


"Awas nanti jatuh Mon...."


Belum juga selesai bicara, Monik sudah jatuh hingga sepedanya anah rusak keranjang penyok dan setangnya meleot.

__ADS_1


BREAK


"HUAAAA" Monik nangis sejadi-jadinya.


Sikunya berdarah, lutut, dan yang lebih parah Adah jempol kaki kirinya. Bukan sekedar luka karena kuku jempol itu sobek separuh. Darahnya mengalir banyak bahkan anah nyeri melihat luka itu.


Nenek segera mengangkat Monik, karena tidak bisa jalan. Warto membantu Anah untuk membawa sepeda ke halaman rumah. lalu di betul setang dan keranjangnya, namun tidak bisa seperti semula keranjangnya.


"Sudah An, tapi tidak bisa seperti tadi sebelum jatuh, gak papa ya?"tanya Warto.


"Iya gak papa lek yang penting masih bisa pakai. Dan ini sudah bisa di pakai kan aku mau coba?"Tanya Anah balik.


"Bisa lah kan sudah di betuli." Kata Warto.


"Iya terima kasih lek, kan aku jadi bisa belajar lagi."kata Anah."Ucap Anah.


"Iya, tapi di halaman saja dulu."Kata Warto.


"Sip..., lek."Jawab Anah sambil menggowes sepeda nya.


Namun cuma tiga putaran karena ingat dengan keadaan adiknya. Langsung masuk rumah untuk melihat keadaan Monik.


Pas masuk Monik masih sesenggukan dan kakinya sudah bungkus dengan kain dan di ikat kencang.


"Nek kok di bungkus dan di ikat sih biar apa?"tanya Anah.


"Iya biar darah nya berhenti. ini nanti jangan di buka dulu ya. Nanti kalau buka besok saja ya, supaya lukanya rapat kembali."pesan Nenek.


Anah kembali merasa dirinya tidak seperti Monik. Yang di perlakukan baik oleh neneknya, sedangkan Anah di siksa. Tidak ada kelembutan dia rasakan ketika itu, setelah dia sakit baru nenek tidak pernah marah.


"Apa nenek akan baik terus atau nanti jika ada kesalahan baru akan kasar lagi. Enak jadi Monik berdarah di obat, bahkan tidak pernah aku, berbuat kesalahan pun cuma di bilangin jangan di ulangi lagi."Kata Anah dalam hati dengan teru menatap Nenek dan monik.


Warto bisa melihat tatapan iri dalam diri Anah. Dia pun tidak habis pikir dengan nenek yang tidak pernah marah pada Monik.


"Sabar ya An," setengah berbisik di telinga Anah.


"Iya lek, tapi sabar apa ya lek?"ternyata Anah tidak nyambung dengan apa yang di maksud Warto.


"Sabar kalau kamu pengen di sayang nenek, kamu sakit aja lagi."kata Warto dengan senyum meledek.


"Eeenak aja....

__ADS_1


*****Bersambung.....


__ADS_2