
"Iya mas, insya Allah nanti mampir. tapi saya ke sana sama siapa mas? kan saya tidak tau tempat tinggal mas Jum?"tanya Parno.
"Tenang nanti biar Anton dan Santo yang antar ke sana. Ini nanti hati-hati ya to, soalnya sudah mau magrib dan ini sudah pasti magrib belum sampai. Nanti pulang lewat jalan besar jangan nerobos kebun. Berangkat aja yang lewat kebun ya."kata pak Harto, pada Parno dan kedua anaknya.
"Ya pak"jawab kedua anaknya.
"Terima kasih mas."Kata Parno.
"Sama-sama Par, ini juga cobaan buat Jumadi. Semoga dia sabar menghadapi ini semua."Kata pak Harto.
"Ya sudah sana berangkat keburu malam."Lanjutnya
"Iya pak, ayo lek kita berangkat."Ajak Anton, lalu jalan lewat belakang. Parno langsung mengambil tas selempang yang terbuat dari kantong tepung gandum itu. Yang berisi pakaian gantinya, pamit pada bu Parti dan pak Harto.
Mereka melalui jalan trobosan untuk mempersingkat waktu, karena sudah mau magrib. Mereka lewat kebun jalan sudah mulai gelap, karena memang matahari mulai terbenam. Cahaya langit berwarna jingga, masih terlihat dari celah dedaunan.
Kini mereka melewati jalan besar, yang bisa di lalui mobil dan motor. Namun tidak lama kemudian masuk lagi jalan setapak. Parno berpikir, bukannya tadi pak Harto pesan. Anak-anak kalau pulang lewat jalan besar. Lalu kalau ini masuk lagi jalan setapak berarti bahaya dong. Apalagi dia dengar dari pak Jumadi bahwa tempat mereka sering ada babi hutan berkeliaran.
"Anton, Santo ini masih jauh apa tidak?"tanya Parno, sambil berjalan.
"Habis ini jalan turun lek nyebrang kali kecil tapi ada jembatan kayu kok lek."jawab Anton yang lebih dulu jawab.
"Setelah kali masih jauh tidak?"tanya lagi.
"Gak itu kali termasuk sudah sampai, jalanan menanjak setelah kali. Tapi setelah sampai ada rumah kecil ya itu rumah yang di tempati lek Jum." Jelas Anton.
"Wes wes sini saja. Kamu langsung pulang ya, biar pak lek ke sana sendiri. Kamu nanti ke gelapan, ingat pesan bapak lewat jalan besar." Dia merogoh saku celananya, masih ada uang kecil, lima ratus rupiah dua lembar. "Ini buat jajan besok sekolah pak lek tidak bawa oleh-oleh tadi. Terima kasih sudah antar pak lek ya."Ucap Parno sambil memberikan uang itu, pada dua bocah remaja itu.
"Terima kasih lek. Ya sudah saya pamit assalamualaikum." Pamit pulang setelah bersalaman pada Parno.
Parno langsung melanjutkan perjalanan menuju ke rumah pak Jumadi. Sedikit berlari karena gelap ia juga takut terpeleset. Penyebab ia berlari karena takut jika bertemu dengan babi hutan. Kini di jalan menanjak ia tetap berlari, dengan sekuat tenaga. Begitu sampai ia langsung menggedor rumah kecil itu, yang biasanya pak Jumadi sebut gubuk.
Dor dor dor"
__ADS_1
"MAS, MBAK"teriak Parno sambil ngos-ngosan.
Yang punya rumah buka pintu, terkejut dengan kedatangan Parno. Dengan nafas ngos-ngosan. "Astaghfirullah Parno ayo masuk, dek ambil kan minum Parno."Titahnya pak Jumadi pada istrinya.
Ya sebelum Parno gedor pintu, mereka yang lagi pada makan. Mendengar ada yang lari dan berhenti tepat depan pintu. Belum sempat mereka membuka suara pintu sudah di gedor.
"Ini Par minum dulu,"ujar bu Sarinem. Sambil memberikan gelas berisi air. "kurang?"tanyanya.
"Cukup yu," jawab Parno. Lalu ia melihat sekilas ruangan mereka berada.
"Maaf mas, mbak yu. Aku dah ganggu kalian makan."Kata Parno tidak enak.
"Ya kaget aja denger ada yang lari berhenti depan pintu. Belum sempat buka mulut, karena baru nyuap harus di kunyah dulu. Sudah di gedor-gedor pintunya, kamu sekalian yok makan, setelah kita makan bahas ini." Kata pak Jumadi.
"Sebenarnya aku tadi sudah makan di rumah mas Harto tap ..."Sudah di potong dengan pasangan suami istri itu.
"Terpaksa karena tidak enak menolak," kompak suami istri memotong ucapan parno.
"Hehehehe tau aja," salah tingkah Parno.
"Ah aku makan apapun, yang penting rasanya enak mas. Yang penting pas di lidah dan kenyang hehehe."Jawab Parno.
"Berarti besok mbak masakin rumput ya, yang penting rasanya enak dan perut kenyang."Ledek bu Sarinem, membuat mereka tertawa semua termasuk Monik yang dari tadi diam.
"Hahahaha"
"Yah tega bener, aku di samain sama kambing yu, lagian gak ada kambing ganteng gini."Protes Parno sambil cengengesan.
"Yang bilang kamu kambing siapa? kan tadi mbak cuma bilang masakin rumput."Ledek bu Sarinem.
"Hehehehe rumput buat hewan mbak yu, bukan buat aku."Kata Parno.
Tak terasa mereka selesai makan, bu Sarinem membereskan bekas makan. Lalu ambil wudhu untuk sholat isya.
__ADS_1
"Mas aku kebelet pipis, di mana mas?"tanya Parno.
"Tuh di belakang, kalau mau BAB tu yang ada karung sebagai pelindung. (apa sih namanya di tempat kalian yang merasa lahir tahun 80an. Kalau dulu bahasa kampung ku bilang kakus. Tapi kalau orang Jakarta bilang ******.)"Kata pak Jumadi.
"Mas anterin aku ya, aku takut."Kata Parno dengan muka melas.
"Sudah tua minta di anter, kurang kenyang apa kamu di momong sama mas. Dah ayo nanti ngompol, mas juga kamu suruh cebokin dan nyuci ompolmu."Sambil berdiri dan menarik tangan Parno.
"Lagian mas betah banget di sini."Kata Parno.
"Mau gak mau, betah gak betahlah, kalau gak gitu kamu belum bisa punya istri. Sudah sana, masa harus tak tatur juga. Tuh ada air buat cebok sekalian wudhu."Ujar pak Jumadi
"Iya mas," hanya itu, lalu melaksanakan perintah masnya.
Pak Jumadi melakukan hal yang sama, setelah itu ia akan langsung istirahat. sekalian bahas masalah Parno lari-lari tadi.
"Ada apa kamu lari-lari kesini? apa ada yang penting? apa masalah Anah?"tanya pak Jumadi, yang memang mereka merasa tidak enak. Hati was-was, cemas pikiran hanya tertuju pada Anah. Baik pak Jumadi atau pun bu Sarinem.
"Yang membuat aku lari takut ketemu babi mas. Kan mas pernah cerita, siang aja harus hati-hati apalagi malam."Kata Parno.
"Dasar penakut, hati-hati ya tidak harus lari-lari Parno. Sudah tua kok kelakuan kayak bocah."Kata pak Jumadi gak habis pikir, dengan adiknya yang sudah seperti anaknya ini.
"Ya kan aku gak punya alat perang mas, golok apa kayu besar gitu senter pun tak punya. Kalau aku gak lari keburu tidak kelihatan jalannya mas." Tidak terima di bilang masih bocah.
"Tadi di anter siapa?"tanya pak Jumadi.
"Di anter sama Anton dan Santo mas."Jawab Parno.
"Mbok kasih sangu apa gak tu bocah-bocah?"khawatir adiknya tidak memberikan apapun, bisa yap yap ibunya.
"Tak kasih 500 an dua mas, kertas."Jawab Parno.
"Ya sudah terus tujuan mu ke sini apa?"tanya pak Jumadi.
__ADS_1
"Aku ke sini..."
*****Bersambung....