
"Pak Hari sudah punya pacar belum?"tanya Anah pada guru honorer itu.
Dan di jawab dengan gelengan kepala,(maksudnya heran dengan pertanyaan anak SD) tidak habis pikir kenapa dapat pertanyaan seperti ini.
"Yah..., berarti pak Hari kalah sama Maryati. Maryati aja yang masi kecil sudah punya pacar."Ejek Anah, langsung lari mengejar Maryati.
Karena ana pikir pak Hariyadi sudah dewasa belum punya pacar atau istri. Anah memang berani sama orang kalau sudah dekat. Karena kalau di jam sekolah pak Hariyadi akan ngajar kelas 3 dan 2 saja. Tapi selama PM beberapa bulan ini pak Hariyadi lah yang ngajar.
Pak Hariyadi tipe orang supel, ramah dan humoris. Sehingga anak murid tidak ada yang takut padanya. Karena di ajar dengan pak Hariyadi banyak bercanda nya, sehingga anak-anak tidak merasa bosan.
Para guru yang ada di ruang guru pun jadi kaget dengan anak satu ini. Tapi jadi tau, apa yang menyebabkan nilai mereka pada merosot. Dan Anah sendiri merosot juga di pelajaran matematika. Akhirnya para guru nyusul rencana untuk memantau para murid dari jarak jauh. Dan di rapat kan dengan kepala sekolah di hari senin.
Flashback off.
"Mari kita mulai belajar, dengan mengisi soal di papan tulis ini yang bapak buat. Bapak kasih waktu satu jam dari sekarang."Ujar pak Harfi.
Semua murid menulis soal dan mengisi nya. Satu kelas ada 32 murid dan yang nilainya 5 ke bawah ada 11 anak. Di antara sebelas murid itu Anah salah satu nya.
Anah duduk bertiga dengan Mimin dan dan Ani. Satu bangku itu Han satu yang aman, yaitu Ani.
"Siapa yang dapat nilai 5 ke bawah, tolong angkat tangan."Perintah pak Harfi yang di saksikan dengan wali kelas yaitu pak Sufrudin.
Mereka mengangkat tangan dengan lesu, perempuan 5 anak dan yang laki-laki 6 anak.
"Bapak harap, yang tidak sungguh-sungguh untuk sekolah tidak menyesal ya. Karena besok kalian tidak akan bisa masuk sekolah. Apa lagi yang suka pacaran, ini lebih baik nikah saja. Jangan sampai kalian mengalami kejadian, seperti kakak kelas yang sudah lulus. Maka kalian juga yang menyesal, terutama para perempuan ini."
Para murid hanya saling berbisik dengan teman sebangkunya.
"Anah kamu dapat berapa memang?"tanya Mimin.
"Aku dapat 5 Min, kamu berapa?"tanya balik.
"Aku dapat 3 An, kamu besok juga gak sekolah dong?"tanya Mimin.
__ADS_1
"Aku tetap mau sekolah walau pun nilai 5, dan aku akan berusaha belajar lebih baik lagi. Emang kamu gak mau sekolah gitu?"tanya Anah.
"Iya, Soalnya aku tu males banget sekolah pusing sama pelajaran. Ini aku sekolah juga terpaksa, kalau gak di marahin sama emak ku. Aku masih tidur, lagian kita ini perempuan gak perlu sekolah tinggi-tinggi."Jawab Mimin.
Setelah obrolan mereka selesai, pak Safrudin bersuara.
"Baiklah anak-anak kalian boleh istirahat, sebentar."Ujar pak Safrudin.
"Baik pak."Lalu mereka keluar dari kelas, ada yang bermain dan membahas nilai mereka.
"Anah kamu dapat nilai berapa?"tanya Elis dan Maryati bersamaan.
"Kalian sendiri dapat berapa." Bukan menjawab malah balik tanya.
"Bukan menjawab malah balik tanya. Ya sudah lah aku dapat 4."Jawab Elis.
"Aku dapat dua hehehe."Jawab Maryati, sambil cengengesan.
"Hei Mariana kamu belum jawab pertanyaan kita!"bentak Elis.
"Eem, kirain lupa hehehehe,"Anah cengengesan dan akan menghindari mereka berdua.
"Eeee mau ke mana? jangan lupa kamu tadi tunjukkan tangan. Berarti kamu juga gak sekolah iya to. Aduh... aku bukan tidak mau sekolah, aku mau sekolah tapi aku juga sudah pacaran. Terus kalau sampai aku gak sekolah bisa habis aku di gebukin sama mamak ku. Gimana dong kalau ada temannya aku gak papa deh."Celoteh Maryati.
"Aku tadi dapat 5, Kalau aku gak perduli tuh sama larangan pak Harfi. Lagian aku tu gak pacaran, kenapa juga aku harus berhenti sekolah."kata Anah dengan santai.
"Memang kamu itu tidak pernah pacaran, para cowok juga gak mau sama kamu. Tapi nilai kamu itu masuk dalam kategori murid yang nilainya kecil dan harus keluar dari sekolah." Kata Elis yang ia pikir Anah tidak mengerti dengan ucapan pak kepala sekolah.
"Ya memang begitu. Kalau aku tidak lanjut sekolah berarti aku mengakui. Kalau aku pacaran, padahal aku enggak melakukan yang mereka tuduhkan. Yang bodoh itu kalian tuh, kalian itu tidak mikir panjang. Kalau memang kalian mau sekolah, maka kalian harus berhenti pacaran dulu. Dan perbaiki nilai kalian, supaya punya nilai bagus. Emang mau nikah saat masih kecil, kalian sudah siap melahirkan anak bayi. Kalau kalian bisa, kalau gak kalian yang mati. Kalau kalian sudah siap untuk jadi emak-emak silahkan aku masih mau sekolah."Anah langsung pergi ninggalin kedua yang lagi bengong.
Kepala sekolah yang pendengar perdebatan murid tersebut salut dengan semangat sekolahnya Anah. Karena memiliki pemikiran yang matang dan dewasa.
Sementara kedua remaja itu sadar dari bayangan ketika ia menikah dan melahirkan.
__ADS_1
Mereka bergidik ngeri, sungguh ia belum sanggup untuk memiliki anak. Apa lagi mereka masih belum cukup umur.
"Aku gak mau lah."Keduanya berucap.
"Ih nah ke mana ya, benar-benar itu anak sudah kaya emak-emak."kata Maryati.
"Tapi dia tidak pernah pacaran, tapi Kenapa ya cowok pada gak suka sama dia?" tanya Maryati.
"Mungkin karena dia itu cerewet, jadi cowok gak mau pusing saat jadi pacarnya." Lalu mereka tertawa, menertawai Anah.
...****************...
Dua bulan kemudian ada kabar bahwa Mimin sudah menikah secara sederhana. Hanya di hadiri keluarga kedua belah pihak pengantin. Dan tetangga sekitar rumah Mimin dan pihak suaminya.
Kabar itu di sebarkan oleh Ani dan yang rumahnya memang dekat.
"Teman-teman ada kabar baru tentang si Mimin, tadi malam dia nikah." Kata Ani yang heboh saat masuk kelas.
Memang saat ini bel sekolah belum berbunyi namun sebentar lagi. Sehingga anak-anak masi bisa ngobrol ngalor ngidul.
"Yang benar kamu Ani, jangan menyampaikan berita bohong dosa lo?" tanya Uli yang selaku wakil ketua kelas.
"Ya benar lah aku lihat kok, pas acara ijab qobul nya."Jawab Ani.
"Ya gak apa-apa lah dia sudah gede banget. Sudah pantes juga dia jadi emak-emak, ini Ani juga sudah gede sama lagi sama Mimin. Kamu kapan mau nyusul nikah, kayak Mimin?"tanya Anah.
"Enak aja kalau ngomong, gini-gini aku gak pernah nunggak sekolah nya. Kalau aku itu badan aja yang gede, umum ku masih kecil."Jawab Ani.
"Waw... Memang kalau Mimin harusnya kelas berapa tahun ini?"tanya Anah.
"Dia....
*****Bersambung.....
__ADS_1