
Pak Jumadi langsung ambil wudhu dan sholat sudah tidak bisa melanjutkan debat dengan anaknya.
Sedangkan Nenek mau tidak mau harus jawab pertanyaan Anah. Jika tidak sampai magrib pun tidak selesai debat.
Jika tidak ada anaknya tidak akan di ladeni itu pertanyaan Anah. Iya yakin Anah merasa ada kesempatan, untuk berdebat dengan nya karena ada bapaknya.
"Nenek lama banget deh jawabnya." protes Anah
"Buat apa sih kamu mau tau, lagian kamu itu belum waktunya tau. Karena kamu masih kecil, nanti kalau kamu sudah besar." Bantah Nenek.
"Sekarang aku tanya sama nenek ya? kenapa kalau aku masih kecil harus sudah bisa nyuci baju, masak, beberes rumah, ke ladang sawah?..."tanya Anah, sambil duduk bersila dan menopang dagu dengan tangan kanan, mata menatap sang nenek.
"Ya-iya itu buat belajar nanti kalau sudah besar kan kamu sudah tau dan mengerti."Jawab dengan gagap.
"Lalu apa bedanya dengan pertanyaan ku tadi Nek?"tanya Anah.
"Ya bedalah itu pertanyaan untuk orang yang sudah nikah. Terlalu dini kalau kamu ingin tahu seperti itu An."Jawab Nenek.
"Bukannya itu termasuk pelajaran yang harus aku pelajari dari sekarang juga. Aku rasa tidak ada bedanya dengan belajar ngurus rumah. itu juga kerjaan orang yang sudah menikah kan." Bukan Anah namanya jika tidak tuntas.
"Aduh Jumadi uruslah anakmu, mumet ndasku."Keluh Nenek.
"Apa salahnya mak jawab itu, mamak kan dulu gak ngerasa in ngurus jadi aku. Mak itu salah tua pengalaman nya banyak. Sedangkan aku baru umur belasan, sudah harus jawab pertanyaan Parno, yang di luar batas pengetahuan ku." Bantah pak Jumadi.
"Ini belum saatnya membahas tentang hal-hal yang fulgar Jum."Ujar Nenek.
"Anah jadi pinter ini dan itu mamak yang ngajarin bukan ibunya. Jika Anah dewasa sebelum waktunya ya tetap itu mamak yang ngajarin. Dan apa konsekuensinya itu mamak harus tau sebelum memberikan pelajaran pada Anah atau Monik. Dah lah aku pergi dulu ke rumah pak Jarno."Ujar pak Jumadi dan langsung keluar lewat pintu belakang.
"Ini anakmu Jum kamu yang harus didik dia."Kata Nenek dengan nada kesal, membuat anaknya berhenti dan menoleh.
"Itu memang anak ku mak, tapi juga cucu mamak. Dulu aku membesarkan anak mamak dan mendidiknya sampai kan juga. Sekarang mamak cuma mendidik saja perhitungan."Langsung pergi melewati samping rumah.
Pak Jumadi sudah kesal dari x mama
__ADS_1
"Coba apa yang ingin kamu tau?"tanya Nenek.
"Apa susu laki-laki gepeng gak gede kayak perempuan? kan itu bapak atau lek Parno sudah gede. Mbak Imah saja yang baru gede, susunya gede. Apa yang membedakan laki-laki dan perempuan?"tanya Anah.
"Kalau laki-laki tidak akan bisa besar karena tidak bisa ada air susunya. Kalau perempuan punya ukuran yang berbeda-beda. Ada yang besar banget, ada yang agak besar, dan yang kecil. Tapi fungsi nya sama kalau punya anak maka akan keluar air susunya. Sudah paham ya? kalau belum karena kamu masih kecil.l Sudah lah Nenek mau mandi belum sholat ini." Kata Nenek, yang sudah menjelaskan panjang lebar pada Anah.
"Berarti ibu sekarang lagi keluar susu ya Nek? kan ibu lagi punya dedek bayi?"tanya Anah.
"Iya pasti, kalau gak keluar susunya dedek mu mimik apa?"Nenek balik tanya.
"Kan tinggal kasih susu SGM kayak aku dulu mimik susu SGM waktu dedek Monik baru lahir. Sekarang aku kadang susu bendera kaleng."Kata Anah sambil mengingat waktu kecil.
"Kamu ini, bayi yang baru lahir belum tentu bisa minum susu formula. Kadang tidak suka atau alergi susu formula. Bisa bahaya untuk bayi itu, jika di tetap di beri susu formula." Kata Nenek.
"Oh sama kayak Monik ya Nek gak doyan susu?" tanya Anah.
"Ya"sahut Nenek sambil jalan ke sumur.
"Susu kan bikin aku mau muntah mbak."Sahut Monik.
"Ke rumah Mbah Jarno, dah ayo mandi. Terus makan dan siap berangkat ngaji."Kata Anah.
"Ayo"langsung mengikuti mbaknya ke sumur.
...****************...
"Assalamualaikum"ucap pak Jumadi, ketika sampai di rumah pak Jarno.
"Wa'alaikumsalam eh Jum ayo masuk, kapan datangnya tadi ibu ke sawah jadi gak lihat?"tanya bu Kokom.
"Tadi siang bu, tapi di rumah cuma ada anak-anak."Kata pak Jumadi.
"Maaf ya Jum ibu tidak bisa mengawasi Anah terus menerus."Ujar Bu Kokom, merasa tidak enak hati pada pak Jumadi.
__ADS_1
"Tapi sekarang mamakmu tidak seperti dulu lagi. Paling marah pakai tapi tidak sampai mukul seperti dulu. Walau seminggu lalu Anah berbuat di luar nalar sehat. Itu menurut sebagai bentuk protes pada nenek yang tidak pernah memarahi Monik. Segera sesuatu jika ada kesalahan Anah yang di salah. Meskipun anah sama sekali tidak melakukan.""Adu bu Kokom pada pak Jumadi.
"Anah melakukan apa bu, apa itu bahaya?"tanya pak Jumadi pura-pura tidak tau dan terkejut.
"Entah apa penyebabnya yang jelas, Anah membac*k adiknya. Ya tidak luka besar sih, seperti cuma di tergores gitu. Tapi tetap Jum harus di beri pengertian bahwa itu tidak boleh dilakukan pada siapapun. Bukan apa-apa maksudnya ibu, takut setan lewat maka terjadilah yang tidak diinginkan."Kata bu Kokom dengan hati-hati karena takut menyinggung perasaan pak Jumadi.
"Ya bu, terima kasih sarannya nanti saya akan menasehati Anah."Ucap pak Jumadi.
"Oh iya bapak kemana ya bu? ada yang ingin saya bicarakan pada bapak."Lanjut pak Jumadi.
"Ada apa Jum? apa ini penting pakai ada yang mau dibicarakan secara empat mata segala?"tanya pak Jarno dengan nada canda.
Ya pak Jarno baru muncul karena saat pak Jumadi datang ia lagi mau sholat.
"Eh bapak, ya gak harus empat mata juga."Jawab pak Jumadi.
"Lah tadi kamu itu bilang mau ada yang di bicara kan, gimana maksudnya?'' tanya pak Jarno.
"Menurut ini pantas di bahas sama bapak saja, karena kalau ibu itu perempuan cukup dengar saja. Hehehehe"pak Jumadi cengengesan.
"Huh kamu ini yo wes tak bikin kopi sekali mau masak ya pak." Pamit undur diri ke dapur.
"Ya sudah sana" ujar pak Jarno pada istrinya.
Sekarang jelas kan apa yang ingin kamu bicarakan Jum?"tanya pak Jarno.
"Begini pak, saya ke sini mau minta bantuan pada sugi juga bapak. Saya ingin buat bak mandi sekalian kamar mandi. Tapi tidak pake di beri atap apa Sugi dan bapak ada waktu?"tanya pak Jumadi.
"Oow kalau itu bisa, siapa saja yang akan bantu. Terus nanti kamu mandinya sama buat minum ambil saja kerumah dulu."Ujar pak Jarno.
"Saya mau minta bantuan Parno sama mas Rudi, dan Heri. Biar nanti yang ambil pasirnya Heri Parno dan Sugi. Semen besok saya tak beli ke material desa sebelah."Ujar pak Jumadi.
"Kapan kamu....
__ADS_1
*****Bersambung....