TAKDIR KU

TAKDIR KU
72.MINTA SURAT PINDAH MONIK.


__ADS_3

Pak Jumadi yang belum pernah melihat pun bingung. Yang pak Jumadi tau film pendekar dan suzana.


"Wah tega bener aku di samain dengan hewan ih sebel."Anah langsung merebahkan diri menarik selimut membelakangi mereka semua.


"Yah ngambek deh."Ucap Angga.


"Aku ngantuk mas bukan ngambek ya."Sahut Anah.


Melihat Anah seperti itu antara percaya dan tidak. Akhirnya Warto dan Angga pamit keluar pada pak Jumadi. Anah benar-benar tertidur, karena sudah lelah.


...****************...


Dua hari kemudian pak Jumadi pamit untuk kembali ke desa pegunungan. Untuk mengurus surat pindah sekolah Monik, dan mengambil seragam dan alat sekolah.


Selain mengurus surat pindah Monik pak Jumadi juga ingin meminta izin lagi sekaligus menjual kopi yang masih dia simpan. Untuk daftar sekolah Monik dan tambahan keperluan Anah dan Monik. Dan ketika nanti kembali ke desa ini dia fokus sama istri dan anak yang masih dalam kandungan.


Malam hari pak Jumadi sudah berada di rumah pak Harto. Dan akan menginap di rumah pak Harto.


Assalamu'alaikum"ucapnya


tok tok tok


Wa'alaikumsalam Jum" saat membuka pintu terkejut kapan adik iparnya datang.

__ADS_1


"Duduklah,"sambil menerima uluran tangan dari pak Jumadi, begitu ju dengan pak Harto. "Kamu kapan kembali? pantes tadi Rudi bilang lihat kamu. Di boncengin motor, arah sekolah tapi mbak yu gak percaya. Kan kamu lagi pulang ke kampung mu?"Langsung bu Partini bertanya.


"Iya aku memang ke sekolah, minta surat pindah Monik yu."Jawab pak Jumadi.


"Loh kok pindah, memang gak balik lagi?" kaget sekaligus senang karena tiba-tiba pindah sekolah sudah pasti adik iparnya pindah.


"Ya yu soalnya Monik mau sekolah bareng mbaknya. Kalau saya dan Inem ya balik lagi. tapi ya maaf, saya minta tolong di lihat kebunnya banyak sayuran yang siap panen. Seperti, terong, kacang panjang sama cabe. Ini saya bawa banyak untuk besok saya bawa pulang. Cabe kayak ada sekitar 1 kg lebih ini yang lebih buat mbak yu. Dan ini kacang panjang 3 ikat, terong satu kantong sepertinya ada 2 kg sisanya saya bawa pulang."Pak Jumadi menyerahkan cabe dan sayuran. Sisanya kacang panjang dan terong di masuk karung. Tidak dibungkus dan ikat. hanya cabe rawit yang di bungkus.


"Yang ini kamu bawa pulang atau mau di jual Jum banyak sepertinya gak takut busuk terutama kacang panjangnya."Kata bu Parti.


"Ya mbak, nanti saya mau bagikan pada besan, mbak yu Marni, sama tetangga depan rumah dan kiri rumah. Mereka yang sudah sering mengawasi Anah selama Anah di rumah bahkan nonton TV juga di rumah kiri rumah ku."Penjelasan pak Jumadi pada bu Parti.


"Loh kamu sudah punya besan maksud gimana to?"kali ini pak Harto yang bertanya.


"Iya mas sebenernya saya menikahkan Parno sudah lama pertama aku pulang itu untuk daftar sekolah Anah. Rencana mau kesini tak tunda mantu dulu."Jawab pak Jumadi.


"Iya gimana kabarnya."Timpal pak Harto.


"Alhamdulillah mbak mas, masih bisa kumpul kembali bersama kami. Maka dari itu Monik minta pindah karena kasihan sama mbaknya. Dan dia di sini merasa sepi belum ada teman main."Jawaban pak Jumadi membuat kakak iparnya saling pandang dan bingung.


"Maksudnya masih bisa kumpul itu apa jum?"tanya bu Parti dengan derai air mata, karena ingat anak perempuan yang tidak bisa selamat dari sakitnya.


"Anah sakit tipes yu, bahkan Anah tidak sadar selama 15 hari. Waktu tak bawa ke puskesmas kecamatan, Anah harus di bawa ke rumah sakit besar di kota. Itu juga langsung di ruang ICU, sementara aku tidak ada uang kalau harus membawa ke sana.

__ADS_1


Belum lagi biaya obat dan inapnya, dan juga perjalanan cukup jauh kurang lebih 7 jam dari rumah. Itu harusnya pakai mobil di sana belum ada yang punya mobil. Kalau ada tukang sewaan, itu pun tidak bisa dadakan.


karena pagi dia berangkat ke kota balik Sore kalau lewat depan rumah selalu sebelum magrib. Aku pasrah saja sama yang maha kuasa, dan dirawat pakai obat dari dokter dan tabib yu. Alhamdulillah sembilan hari lalu dia sadar, walau pun masih lemah. Sekarang dia mulai bisa berjalan walau pun masih merambat di dinding. Cukup kita awasi dari jarak dekat takut mendadak pingsan seperti dua hari lalu."Penjelasan pak Jumadi sungguh suatu yang menakjubkan bagi bu Parti.


"Yoo... lnem gak salah dapat suami seperti mu. Kalian sama-sama punya kegigihan jika memiliki tujuan. Alhamdulillah kamu lolos dari ujian Allah, ya lewat Anah. Itu hadiah untuk orang yang bersabar, terus kamu kapan balik lagi Jum?"tanya bu Parti.


"Iya Jum, kalau memang mau balik lagi, kamu aja dulu biar Inem yang jaga di sana. Toh kalian juga butuh biaya kan untuk anak-anak dan yang dalam kandungan butuh persiapan. itu saran aja dari ku."Timpal pak Harto.


"Nanti paling cepat 2 minggu paling lama sebulan saya akan kesini sama Inem yu. Nunggu Anah pulih dan bisa sekolah kembali, itu aja Anah nya sudah gak sabar pengen sekolah. Masih belum saya antar soalnya dia belum bisa jalan sendiri yu."Ujar pak Jumadi.


"Pasti wong sakitnya lama dan sempat tidak sadar pasti badannya sampai habis."Kata pak Harto.


"Iya mas makanya untuk bisa jalan haru berisi dulu badannya. Itu pas pagi baru sadar, sore rumah penuh teman sekolah, ya mungkin sepertiga yang datang. Hanya yang jauh-jauh rumahnya yang tidak datang. Alhamdulillah ternyata di sana banyak yang sayang Anah. Selama tidak sekolah teman-temannya pada datang itu dari kelas 1 sampai kelas 6. Bahkan para guru dan kepala sekolah datang. saya sungguh terharu akan kasih sayang Allah SWT lewat orang-orang baik. Sementara saya malah jauh karena harus cari masa depannya."Akhirnya pak Jumadi meneteskan air matanya. Yang selama ini dia hanya diam untuk bersama Anah selalu sulit.


"Ya begitulah Jum kehidupan kita itu berbeda-beda. Kamu lihat sendiri aku sama Inem saja saudara kandung juga seperti saudara tiri. Bisa akur pun bisa di hitung, itu karena aku selalu iri sama dia yang dapat kasih sayang simbok sama bapak. Ibaratnya Inem nangis sedikit saja tidak boleh, kalau aku nangis malah di bentak suruh diam. kehidupan mu juga begitu jauh dari kasih sayang bibi. Ya kamu berdoa saja semoga kehidupan Anah tidak seperti mu." Ujar bu Parti.


Tapi perjuangan Anah lebih berat dari kita yu. Di sana Anah tidak seperti Monik, yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga semua Anah. Kalau Anah tidak kerjakan habis sama di hajar neneknya. Bahkan sampai babak belur, jadi untuk melindungi diri sendiri, Anah kerjakan sampai bisa. Kadang di bantu tetangga atau anak laki-laki nya mbak yu Marni."Cerita pak Jumadi.


"Apa maksudmu Angga anak mbak yu Marni dan mas Jamal?" tanya bu Parti.


"Iya mbak yu."Jawab pak Jumadi.


"Kamu sudah makan belum jum? kalau belum, makan lah ambil sendiri di meja makan. Habis itu istirahat lah kamu sudah lelah besok pagi kamu juga harus pulang."Titah pak Harto

__ADS_1


"Iya mas, ya mas mbak aku tak makan dulu."Pak Jumadi langsung beranjak ke dapur.


*****Bersambung....


__ADS_2