TAKDIR KU

TAKDIR KU
93.BIKIN KUPING PANAS DAN DADA SESAK


__ADS_3

Pagi hari Anah dan Monik sudah siap pergi ke sekolah, dan sekarang lagi sarapan.


"Anah nanti pulang sekolah kita ke rumah bibi Susi, dan pulang sore saja ya." Kata Nenek.


"Ya nek, memang ada acara apa nek?"tanya Anah.


"Kita main saja ke rumah bibi Susi. Makanya nanti kalian pulang sekolah baru kita main sana."Kata Nenek.


"Itu nenek mau ke sawah? katanya aku pulang sekolah mau ke rumah bibi Susi?"tanya Anah lagi.


"Ya, tapi cuma sebentar ke sawah, nanti kalian pulang juga nenek sudah di rumah."Jawab Nenek.


"Ya sudah aku berangkat dulu ya Nek. Assalamualaikum"Ucap Anah di ikuti Monik.


Mereka berdua mendorong sepeda hingga sampai ujung tanjakan. Baru mereka akan mulai naiki sepedanya.


Ya di depan rumah pak Jumadi ada tanjakan lumayan tinggi.


Tak jarang orang yang melintas dengan sepeda, maka mereka mendorong sepeda nya. Karena tidak ada yang mampu menempuh sampai ujung tanjakan dengan sepeda.


Setelah kepergian Anah dan Monik, nenek langsung berangkat ke sawah.


Saat sampai belakang rumah pak Rudi, nenek berjumpa dengan bu Nining.


Tapi Bu Nining masih malu dan tidak enak hati dengan nenek atas ucapan Johan.


"Nek mau ke sawah?" tanya bu Nining, basa basi pada nenek.


"Iya, cuma nengok sebentar, tumben jam segini belum selesai nyapu?"tanya Nenek balik.


"Iya Nek tadi masak dulu, sama nyuci jadi baru mulai nyapu."jawab bu Nining, padahal sengaja nyapu jam segini supaya ketemu sama nenek irah.


"Oh ya sudah lanjut nyapu aku ke sawah dulu nanti kesiangan sampai sana.


"Ya nek hati-hati."Ujar bu Nining.

__ADS_1


Nenek langsung berangkat tidak lagi menoleh ke belakang.


Bu Nining melihat nenek biasa saja seperti biasanya. Ia bernafas lega, pasti tidak tersinggung dengan ucapan Johan.


Padahal nenek juga tersinggung, Meskipun ia tidak terlalu sayang sama Anah. Tapi tidak terima jika ada yang menyinggung perasaan Anah.


...****************...


Beberapa bulan lalu.


"Mas kapan kita pulang aku kangen sama anak-anak?"tanya Bu Sarinem.


"Kalau kamu mau pulang, pulang lah dek. Lagian Udin juga sudah besar kalau kamu mau pulang. Aku males pulang terus, aku akan beli kebun saja, bulan depan kebun mas Harto sudah selesai."Kata pak Jumadi.


"Terus nanti kita cuma lanjutin garapan di kebun mas Yatno saja?"tanya bu Sarinem.


"Ya dek tapi kita jadi kerja sama dia. Kalau kerja kita di percaya untuk membersihkan kebun semua kebun hitungan jenis borongan. Dapat beras 25kg, sama duit harga borongan tergantung luas kebun. Nah kalau musim kita kerjakan dulu garapan, sama kebun sendiri jika sudah selesai maka kita baru kerja harian mutel(petik)." Jawab pak Jumadi panjang lebar.


"Oh begitu aku setuju saja, aku juga gak mau mas terus menerus di olok-olok sama mbak Parti. Bukan niat me mutuskan tali silaturahmi, lebih tepatnya menghindari keributan. Kalau tidak ada yang penting juga gak perlu kita kerumahnya."Kata bu Sarinem.


"Iya mas maafkan setiap ucapannya mbak Parti ya. Aku juga tidak tahu hanya dia yang berbeda dari yang lain."Bu Sarinem merasa tidak enak hati dengan suaminya.


Karena awalnya ia yang menyarankan suaminya merantau ke sini. Memeng sudah membawa perekonomian keluarga lebih baik. Namun nama sakit hati yang mereka rasakan atas apa yang ia terima.


"Kan mas sudah bilang dek, jangan di bahas."Pak Jumadi tidak ingin mendengar lagi tentang kakak iparnya itu.


Tiga bulan berlalu, pak Jumadi sekarang benar-benar menjadi pekerja pak Yatno. Yaitu salah satu adik dari pak Harto.


Sebulan ia dan istrinya dapat 30 kg 700 ribu. Itu target kerjaan untuk satu hektar kebun. Itu untuk bersihkan rumput.


Bahkan saat ini Pak Yatno butuh pekerja untuk musim nanti. Dan minta di cari kan sama pak Jumadi.


"Mas Jum saya lagi cari orang pekerja. Biar nanti aku yang tampung tidur di rumah dan makan tiga kali. Ngopi bebas dan cemilan kalau ada ya bareng-bareng makan, rokok. Pokoknya gaji utuh, di jamin pulang bawa hasil."Ujar pak Yatno.


Ya pak Yatno memang punya prinsip jika pekerja harus pulang membawa hasil untuk keluarga nya. Jika yang sudah berkeluarga, jika yang belum atau bujangan, bisa mengumpulkan untuk masa depan nanti.

__ADS_1


"Saya bisa cari kan mas di desa tempat saya tinggal dulu. Banyak bujang yang tanya ke saya, kalau saya lagi pulang. Kebetulan istri mau pulang ke sana, karena kangen anak-anak. Apa lagi terakhir istri pulang, waktu Anah sakit. Setahun lebih tidak ketemu, jadi hari rabu mau pulang."Kata pak Jumadi.


"Wah kebetulan itu mas, sudah paling dikit 3orang ya mas. Kalau bisa sih 5 atau 6 orang lah, semoga mbak Inem dapat. Dan belum pada merantau ke wilayah lain ya mas." Pak Yatno sangat antusias, mendengar Bu Sarinem mau pulang kampung.


"Baiklah mas kalau begitu saya pamit pulang dan akan saya sampai permintaan mas tadi."Pamit pak Jumadi.


"Ya mas, ini nanti kalau dari sini ke kampung sana berapa?"tanya pak Yatno.


"Oh, sebenarnya 25 ribu mas, tapi kadang saya pilih hemat dari sini ke pasar atau sebaliknya saya jalan."Ujar pak Jumadi s3ambil menunduk malu.


"Ya elah mas pakai mau segala, tapi nanti by jangan di ajak jalan yang. Bukan apa-apa nanti mereka sudah hilang semangat ya."Kata pak Yatno.


"Baik mas, semua pamit," pamit pak Jumadi.


"Ya ya ini saya titip ongkos mereka nanti, sekalian untuk ongkos mbak Inem."Pak Yatno memberikan uang pecahan 50 ribu 4 lembar.


"Kok istri saya segala, dapat ongkos. saya sudah siap ongkos sendiri mas, sampean gak usah repot-repot."Ujar pak Jumadi.


"Ya tidak apa-apa mas Jum, kan mbak Inem dan sampean pekerja saya."Ujar pak Yatno.


"Baiklah mas saya pulang, assalamualaikum"ucap pak Jumadi, segera keluar dari rumah pak Yatno. Setelah menerima uang yang di berikan pak Yatno untuk ongkos istrinya dan calon pekerja.


"Wa'alaikumsalam"jawab pak Yatno, yang masih menatap kepergian pak Jumadi.


Sampai di rumah pak Jumadi, menyampaikan pesan pak Yatno pada istrinya. Kalau pulang harus mengajak orang untuk bekerja di tempat pak Yatno.


"Memang mas Yat butuh berapa orang mas?"tanya bu Sarinem.


"Kamu cari sedapat nya saja dek, kalau uang ongkos ini kurang nanti kita tambahin dulu ya. Nanti pas sudah di serahkan pada mas Yat juga akan di ganti kurang nya. Sekarang kita tidak tau ongkos naik atau tidak nya jadi buat jaga-jaga saja."Ujar pak Jumadi.


"Di kasih berapa mas ongkos nya?"tanya lagi.


"Di kasih 200 ribu dek, tapi mas Yat bilang yang 50 buat ongkos mu bolak-balik. Dia minta 3-6 orang sih. Tapi kalau lebih pun mas rasa tidak apa-apa. Nanti ongkos kamu tanggung dulu ya." Pinta pak Jumadi pada istrinya.


"Ya mas, seadanya saja nanti tidak usah ngoyo mas. Kalau kita yang bawa kita juga yang....."

__ADS_1


*****Bersambung....


__ADS_2