
Anah balik lagi nonton TV ruang tamu, yang melihat pun jadi tanya.
"Anah kenapa kamu tidak jadi belajar?" tanya Sarwadi.
"Gak jadi mas sudah gak semangat. Di paksain juga gak bakal masuk ke otak." Jawab Anah dengan ketus.
"Anah nanti kalau gak di terima sekolah lagi. Misalnya mau nikah kamu pilih siapa, di antara kami ber 4 ini?" tanya Suyono, memberanikan diri di hadapan bapaknya gadis kecil ini.
Anah langsung menoleh pada 4 pemuda yang duduk dekat bapaknya. Dia berpikir sejenak, beberapa saat kemudian dia menggeleng. Lalu balik lagi menatap TV, tapi membuat mereka ber 4 penasaran apa yang membuat Anah menggeleng.
"Memang kenapa, menurut mu siapa yang paling ganteng, terus apa yang membuat kamu tidak mau?" tanya Suyono lagi, membuat pak menahan amarahnya.
"Tidak apa-apa, semua sama ganteng gak ada yang cantik tuh. Aku masih mau sekolah tidak mungkin aku di keluarkan. Kan aku gak pacaran, aku juga masih mau lanjut sekolah nanti jadi gak mau nikah." Jawab Anah dengan santai sambil tersenyum manis, sehingga terlihat lucu dan menggemaskan.
Para pemuda itu hanya diam dan malu sendiri. Apa lagi Suyono, yang langsung menanyakan pada Anah.
"Ibu pulpen aku tinggal sedikit, nanti kalau ke pasar beliin ya."Ujar Anah pada ibunya.
"Kok cepat banget sih, itu Monik saja masih dan belum minta lagi. Ibu juga kan kemarin malah beliin kamu 2 lo pulpennya."Kata bu Sarinem merasa Anah ini boros sudah beberapa bulan ini selalu dobel.
"Bu kalau aku bukan kelas 6 dan tidak sekolah dua kali, mungkin aku tidak boros. Kalau ibu keberatan aku akan ikut ibu kerja. Biar aku bisa ibu belikan pulpen. Setidaknya aku tidak terlalu jadi beban ibu." Langsung berdiri berlalu dari situ ke kamar.
"Dek tinggal di iya in aja kok ribet. Dari pada jawabnya itu bikin nyesek."Kata pak Jumadi, setengah berbisik karena biar tidak di dengar oleh Anah.
"Aku juga heran kenapa belakang ini dia itu boros banget. Entah ada yang pinjam karena gak bawa pulpen, kalau gak hilang." Bu Sarinem memang akan Ngoceh tapi tetap akan di belikan apa lagi besok hari rabu.
"Ya mau gimana lagi, memang Anah bisa kalau ada gak ngasih pinjam." Kata pak Jumadi.
"Kalian mau nginep apa pulang? kalau nginep dua di kama dua di ranjang ruang tamu. Tapi ya maaf, yang di ruang tamu tidak ada kasurnya." Kata pak Jumadi.
"Ya nginep aja lek, di luar mulai hujan. Toh yang di rumah tidak sendiri, mereka juga berempat."Kata Sarwadi.
__ADS_1
"Ya sudah, ini TV tak matiin. Soalnya ada geluduk, dari pada nyamber kesini."Kata pak Jumadi.
"Nggak lek,"mereka kompak.
Lalu Sarwadi dan Irwan tidur di ruang tamu. Seswanto dan Suyono sudah biasa tidur. Di kamar sebelah kanan Anah, karena yang sebelah kiri itu kamar Monik.
...****************...
Saat ini jam menunjukkan pukul 9:30 pagi. Sesuai dengan ucapan kepala sekolah, semua murid pada tegang.
"Selamat pagi anak-anak."Sapa pak Harry, kepala sekolah.
"Selamat pagi pak."Jawab para murid kelas 6.
"Sesuai dengan yang sudah bapak katakan kemarin, siapa yang mendapat nilai di bawah 5 harus berhenti sekolah. Terlebih yang tertangkap basah oleh guru-guru yang sedang pacaran. Atau yang sedang di apeli oleh pacarnya. Ayo siapa yang sudah punya pacar tunjukkan jari?" tanya pak kepala sekolah.
Tapi tidak ada yang menunjukkan atau mengakui bahwa dirinya punya pacar. Anah celingak-celinguk melihat temannya yang memang sudah punya pacar. Satu pun tidak ada yang mengakui, dia menoleh ke kanan, kiri, bahwa belakang. Lalu dia fokus ke depan, bahkan tatapan Anah berhenti pada tataran pak kepala sekolah.
Kepala sekolah itu melihat anak murid satu persatu, bahkan ada yang terlihat gugup. Sebenarnya tanpa mereka menunjukkan jari pun, sudah tau siapa saja yang sudah pacaran.
Flashback on
Beberapa hari yang lalu seorang guru honorer yang bernama Hariyadi duduk di depan kelas.
Dasar Anah yang suka lupa tempat, lalu ngomong ceplas-ceplos.
"Yati emang kamu seneng kenapa sih?"tanya Anah pada Maryati.
"Ya senang lah ini hari sabtu." Jawab Maryati.
"Memang kenapa kalau hari sabtu?"tanya Anah dengan polosnya.
__ADS_1
Pak Hariyadi mendengar samar-samar obrolan dua M ini.
"Ini dua M seperti orang dewasa saja kalau sudah ngobrol. Padahal remaja belum bau kencur. Eh tapi ini Maryati pernah ku lihat sedang berduaan dengan adiknya Suryadi. Kalau tidak salah sekarang remaja itu kelas 3 SMP, apa mungkin pacaran. Memang sih Maryati itu cantik, bahkan seharusnya dia itu kelas 2 SMP. Wajah dia sudah kenal pacaran, ah untuk memastikan saja."Gumam pak Hariyadi. Untuk mengetahui apa yang di obrolkan, ia memasang telinga.
"Ih kamu itu harus tau, masak tidak tau."Kata Maryati.
"Ya memang aku gak ngerti, makanya aku tanya biar ngerti."Jawab Anah.
"Ini kan hari sabtu, malam nanti malam minggu. Jadi aku mau malam mingguan dengan pacar ku. Makanya kamu itu cari pacar, biar tau rasanya malam mingguan."Kata Maryati.
"Aku gak tau caranya cari pacar Yati, di saat aku belum pindah ada beberapa bujang yang ngajak aku pacaran. Dan ngajak aku nikah setelah lulus sekolah nanti."Kata Anah, yang mengejutkan guru honorer,
"Hah, yang benar saja, sebelum pindah berarti kelas empat. sekarang saja itu anak kalau gak salah baru 11 tahun lebih.Ya boleh di bilang 12 lah, tapi sudah ada yang lamar." Kata hati pak Hariyadi.
"Yang benar? terus kenapa kamu malah pindah ke sini gak di sana saja?"tanya Maryati.
"Karena aku mau sekolah Yat, kalau aku mau pun bisa. Karena itu yang kerjasama pakde Yatno, itu tetangga ku yang dulu. Ada yang baik sama aku itu karena ingin aku nikah sama dia. Tapi karena aku masih sekolah dia tau, pasti aku nolak. Selain itu dia pasti tidak enak sama bapak ku. Kan mereka bisa kerja ke sini itu bapak ku yang ngajak."Kata Anah dengan pedenya.
Sesuai fakta sebelum Anah pindah sekolah ke sini. Anah di ajak nikah dengan laki-laki dewasa, yang itu Sugi. Sugi bilang setelah Anah lulus akan menikahi Anah. Tapi di tolak karena Anah hanya ingin sekolah dan menggapai cita-cita.
"Tapi di sini kamu juga bisa pacaran Mariana.
Kamu itu centil tapi kalau deket sama cowok kincep." Ejek Maryati.
"Apa maksudnya kincep coba?"tanya Anah yang memang belum paham.
"Sudah lah capek aku ngomong sama kamu yang masih kecil, hahaha." Langsung lari meninggalkan Anah.
Anah tidak terima jika di bilang masih kecil dan di maksud masih bodoh.
"Yati kurang asem kamu ya. Mentang-mentang sudah punya pacar." Mata Anah melihat pak Hariyadi yan duduk di kursi plastik depan kelas.
__ADS_1
"Pak...
*****Bersambung....