TAKDIR KU

TAKDIR KU
34.PENGORBANAN


__ADS_3

Dua hari berlalu Anah yang sudah sehat kembali, hari ini dia masih belum boleh sekolah. Selama dia sakit Susi dan Parno menginap di rumah, orang tua Anah. Parno sangat khawatir jika Anah belum sembuh. Karena dia tau kalau Anah, memiliki tubuh yang lemah. Dia lebih sering sakit-sakitan sewaktu bayi, hingga balita. Tapi memasuki masa anak-anak kini dia lebih kuat. Karena selama beberapa bulan ini, baru kali ini Anah sakit. Ya itu selama Parno bersamanya, setelah kepergian kakaknya.


Dulu sebelum pak Jumadi pindah ke desa ini, Anah lebih banyak di rumah dengannya dan ibunya. Karena pak Jumadi sering merantau, dan pulang beberapa bulan kemudian. Itu sebabnya ia sangat menyayangi Anah, selain itu ia juga ingin membalas kebaikan kakaknya. Yang sudah seperti ayahnya sendiri, jika tidak ada kakaknya entah jadi apa dia. Itu yang dilakukan tidak sebanding dengan apa yang dilakukan kakaknya.


"Eh sudah cantik, emang gak dingin mandi?" tanya Parno, saat melihat Anah sudah mandi.


"Dingin lek, tapi tadi mandinya pakai air hangat, yang masak airnya bibi."Jawab Anah dengan ceria, meski masih pucat wajahnya.


Parno tersenyum melihat istrinya"terima kasih ya sudah bantu mas temani Anah beberapa hari ini."Ucap Parno.


"Ya mas, tapi kapan kita pulang"rengek istrinya


"Insya Allah besok sore kita pulang ya. Karena mas masih bantu mamak nyemprot hama, mungkin besok selesai. Sabar ya, sekalian latihan urus anak. Nanti kalau punya anak kamu udah pinter hehehe."Kata Parno, sambil mentoel dagu istrinya. Ia jadi gemes saat melihat rona di pipi Susi.


Susi tersenyum malu, merona wajahnya itu. sedangkan Anah ikut tersenyum, ia hanya tahu. Jika bibinya akan di rumah bersama dirinya sampai besok.


"Lek aku besok sekolah ya? nanti kalau lama lama aku gak naik kelas lek."Kata Anah.


"Ya boleh, kalau hari ini Anah yang cantik ini sudah bisa makan yang banyak."Ujar Parno, sengaja berkata begitu, biar Anah semangat untuk sembuh dan makan lebih banyak.


"Ya deh, tapi aku mau makan pakai telor sama kecap. Soalnya kalau pake sayur pahit lek, jadinya makannya sedikit gak banyak." Kata Anah, karena memang itu yang di rasakan.


"Sip tadi ada entok, yang bertelur biar lek ambil buat Anah makan. Dan ada telur ayam juga, Anah makannya harus habis ya."Kata Parno, sambil beranjak pergi dari hadapan Anah dan istrinya.

__ADS_1


Sedangkan nenek, yang sedang masak pun senang Anah sudah mau banyak bicara. Dan ia tak tinggal diam, ia pergi ke warung untuk membeli kecap manis. Ia ingin Anah cepat sembuh, kalau Anah sakit ia jadi kurang istirahat. Tidak ada juga yang kerjakan pekerjaan rumah.


"Nih nenek sudah beli kecapnya, sekarang makan yang banyak. Ini juga bibi sudah gorengin telurnya."Kata Nenek


Anah hanya mengangguk sebagai jawaban, segera makan dan minum obatnya.


"Nenek sama lek Parno berangkat ke ladang ya."Kata Nenek, dan Anah kembali mengangguk.


"Dek mas berangkat ya,"pamit Parno pada istrinya.


"Ya mas,"Susi tersenyum manis sebagai penyemangat suaminya. Ia senang suaminya sudah lebih sayang padanya. Dan sudah bisa melupakan sepupunya. Parno yang pernah menyatakan isi hatinya pada sepupunya dulu, ia tau bawa Parno mencintai Wiji ketimbang dia. Tapi sekarang ia senang Parno selalu lembut padanya, tak pernah kasar. Itu artinya Parno menerima dia di dalam hatinya.


...****************...


Siang harinya di sebuah gubuk.


apalagi di musim begini, Anah itu takut sama ulat. Itu dia trauma, sama seperti ibunya yang takut ulat."Kata Parno


"Mamak lihat dia tidak seperti Anah tu, waktu itu mamak lihat dia berani. Begitu lihat ulat langsung di matikan, lah Anah jerit jerit gak karuan."Kata Nenek.


"Lah itu tau Anah seperti apa? Mak, anah itu cucu mamak kenapa tega banget sih?" berhenti sejenak "ya mamak kan memang orang tegaan, ke cucu sama anaknya aja tega."Kata Parno, sedikit menyindir mamaknya.


"Ya tidak begitu juga Par, ini jangan di samakan dengan masa lalu mamak. Mamak pengen Anah jadi gadis yang mandiri dan serba bisa. Biar tidak kaget nantinya jika dia sudah tidak di sayang lagi jika bapak lebih sayang dengan adik adiknya. Terlebih jika sudah punya adik laki-laki. Pasti bapaknya akan lebih sayang anak laki-laki, terlebih bontot."Kata nenek akan tujuannya.

__ADS_1


"Tetap aku kurang setuju, aku tidak mau jika mamak perlakuan istri dan anak kaya gini. Aku gak akan mau nampung mamak di rumah ku. Apalagi aku ini tinggal di rumah yang di berikan mertuaku. Bisa aku dalam genggaman mereka dan tak bisa ketemu keluarga ku kalau tidak darurat."Kata Parno.


"Apa maksudmu Par. bukannya pak iman itu orang yang baik?"tanya Nenek yang tercengang dengan ucapan Parno.


"Ya cuma luarnya yang bagus. Benar kata mas Jum mak, hati orang susah di tebak. Ibarat buah kulitnya bagus mulus, ternyata dalamnya busuk. Pak Iman baik jika aku perlakukan Susi baik. Aku ini hanya boneka mainan mak, terlebih kita ini orang miskin. Kalau aku tak pikirkan perasaan mas Jum, aku udah pergi mak dari kehidupan Susi.


Aku tak ingin melukai perasaannya mas jum, tapi aku yakin mas Jum suatu hari nanti pasti tau. Karena mas Jum selalu bisa nebak apa pun yang terjadi pada ku."Paron menceritakan kehidupan dalam rumah tangga. Tak terasa air matanya menetes, membasahi pipinya.


"Nenek menangis mendengar keluhan anaknya, hatinya sangat sakit. Ketika mendengar cerita anaknya, ia korbankan perasaannya untuk anak sulungnya bukan ibunya. Itu karena kesalahannya di masa lalu, tak pernah memikirkan perasaan anak-anaknya. Sekarang berbalik padanya, tapi ia tahu kalau Jumadi tak pernah menyakiti perasaannya. Tapi dia juga merasa tak di dengar omongannya, karena ia juga tak pernah mendengarkan keluhan Jumadi di waktu kecil. Sedikit iri dengan menantunya, ya itu Sarinem, ia ingin Jumadi menyayangi dirinya.


"Apa Susi tau, apa yang di lakukan bapaknya?"tanya Nenek.


"Tidak tau mak, tapi kalau pun tau pasti dia yang senang. Dia yang senang jika aku ada di hidupnya. Aku hanya ingin punya anak, supaya aku ada teman di rumah itu. Setidaknya ada yang bisa buat aku terhibur."Kata Parno.


Apa kamu tidak mencintainya, Dia sepertinya memang baik."Kata Nenek.


"Ya baik memang tapi tak setulus hati. Tapi tak dapat ku pungkiri, bahwa dia juga tidak tega kalau mau melakukan hal buruk. Terutama pada Anah, mungkin di takut aku gak mau pulang ke rumahnya. Karena aku lihat dia tidak betah di rumah kita.


"Ya sudah yuk sholat dan kita lanjutkan kerja. jalani saja dulu, jangan terlalu di pikirkan ya."Kata Nenek.


"Iya mak."Jawab singkat parno, bangkit lalu segera melakukan kewajibannya sebagai umat Islam.


*****Bersambung...

__ADS_1


Sudah lebih panjang nih bab.


Semoga terhibur terima kasih🥰


__ADS_2