
"Mas Jamal, mas pertama saya mbah."Jawab bu Sarinem.
"Oh alah. Jadi kalian masih saudara almarhum Jamal to. Dari tadi mbah memperhatikan mu, dan mengingat-ingat seperti kenal tapi dimana. Dan akhirnya ingat di rumah almarhum Jamal. Dan pasti nduk Anah ini yang sering nangis pas di jahili sama Angga?"tebak mbah Darmi.
"Benar mbah, dan sekarang Angga yang jadi tamengnya Anah. Jika ada yang jahil pada Anah, selain Warto adik Sugi. Selama sekolah ini Angga berubah, tidak lagi jahil mbah. Mungkin hari ini juga akan datang ke sini."Jawab bu Sarinem.
"Alhamdulillah kalau Angga sudah baik. Mungkin ia sudah bisa memilah mana yang baik dan tidak."Kata mbah Darmi.
"Dek mas mau cari kunyit dulu ya, sekarang kamu suapi Anah madu dulu ya."Titah pak Jumadi, lalu beranjak keluar rumah.
"Iya mas."Bu Sarinem langsung melakukan apa yang sudah di perintahkan suaminya.
"Kamu yang pangku Anah biar mamak yang menyuapi."Ucap Nenek
Monik yang memang masih kecil, hanya melihat dengan raut wajah sedihnya. Ya biasanya setiap ia pulang akan main dengan mbaknya.
Namun sekarang mbaknya hanya tidur, kadang ia bermaksud akan mengajak mbaknya main. Tapi baru pegang tangan mbaknya ia tidak jadi membangun dan ingat perkataan kedua orang tuanya. "Biar mbak bobok dulu ya dek, mbak badannya panas. Nunggu mbak badannya dingin, itu berarti berarti mbak sudah bangun dan sembuh. Baru bisa main lagi sama Monik ya." Itu yang selalu teringat olehnya.
"Ibu mbak kapan sembuh lama banget boboknya?"tanya Monik, karena jenuh disini lebih ramai tapi sama saja dengan di kebun. Itulah yang di pikirkan Monik, sudah ingin bermain sama mbaknya.
"Sabar ya, nanti kalau mbak Nana dan mas Angga datang, Monik main sama mereka." Ujar bu Sarinem, ia tau anak keduanya itu jenuh.
Mbah darmi mulai mengurut Anah, dan tak terasa sudah satu jam. Mbah Darmi selalu membawa minyak urut yang di buat ngurut.
"Mbah ini minyak kelentik (minyak kelapa) yang buat ngurut?"tanya bu Sarinem.
"Iya nduk ini juga bagus untuk nya, yang pastinya kulit kering. Biar lembab kalau bisa ini belakangnya setiap sore di olesi. Ada tidak minyaknya, kalau tidak nanti biar Mbah tinggal yang ini?"tanya mbah Darmi.
"Oh kalau minyak kelentik ada bu."Nenek menjawab sebelum bu Sarinem.
"Nah itu bisa di kasih tambahan irisan bawang merah atau bawang merahnya di tumbuk gak usah halus juga. Untuk di oleskan keseluruhan badan itu guna untuk panas dan pusing ketika mau pilek. Tapi gak papa untuk panas jadi di olesi aja."Kata mbah darmi, dengan memakai bajunya Anah kembali.
__ADS_1
"Iya bu, biar saya yang bikin."Kata Nenek yang beranjak menuju dapur.
"Mbah apa sudah bisa di berikan kunyit ini?"tanya pak Jumadi pada mbah Darmi.
"Oh yo wes lee, sini biar mbah yang suapi, nduk ayo dipangku. Bismillahirrahmanirrahim minum ya nduk biar cepat sembuh dan bisa main lagi dan sekolah."Celoteh mbah Darmi, meski Anah tak sadarkan diri. Tapi Mbah tetap mengajak bicara sejak mengurut tadi. "Sudah di urut pasti nanti badannya enak tidak pegal-pegal lagi ya."Lanjutnya.
"Maaf mbah saya mau tanya? nanti saya bayarnya caranya gimana? menurut informasi itu tergantung permintaan mbah."Kata pak Jumadi.
"Nanti kalau nduk Anah sembuh, mbah minta belikan kain panjang sama ayam sepasang. Lihat nanti saja, mbah akan datang seminggu sekali. Mbah setiap datang naik motor ya kamu beliin bensin. Kalau cuma jalan ya tidak usah."Kata mbah darmi.
"Lah ini tadi mbah jalan?"tanya pak Jumadi.
"Ya jalan tapi di jalan ada yang ngajakin, ikut aja. Turun di pertigaan tadi terus jalan kesini."Jelas mbah Darmi.
kalau begitu nanti biar saya antar pulangnya mbah."Kata pak Jumadi.
Nggak usah lee, nanti mbah mau mampir ke bandi, kampung sebelah. Sama satu lagi yang sana dari sini kurang lebih 4 km. Sudah arah ke rumah, sambil jalan juga kadang ketemu tetangga sekalian bareng."Kata mbah Darmi.
Ya sudah mbah pamit kalau begitu, nanti keburu sore. Assalamualaikum."Pamit mbah Darmi.
Ngeh mbah, wa'alaikumsalam," jawab pak Jumadi dan yang lain.
Nenek langsung mengoleskan minyak campur bawang merah pada Anah. Bahkan ia melakukan dengan tulus, tidak ada paksaan.
Iya kini ia ada rasa penyesalan pada Anah. Terlalu keras pada Anah, jadi seperti ini. Dengan perbuatannya ia jadi di marahi oleh anaknya, ia tak masalah jika menantunya yang marah.
Ya biar bagaimana hati ibu mana pun, akan sakit ketika anak berkata kasar atau membencinya. Ia akui bahwa Jumadi bukan tipe orang pendendam. Tapi jika sudah sakit hati, tidak akan ia mau menyapa terkecuali di sapa lebih dulu. "maafkan ya nduk, nenek sudah jahat sama kamu. Padahal kamu itu mirip sekali dengan bibimu Maryam. Nenek akan berusaha baik sama kamu, nenek juga tidak mau bapak mu membenci nenek. Ini semua salahku, salah nenek nduk."Kata hati Nenek.
Pak Jumadi melihat raut wajah mamaknya pun, sudah tau jika mamaknya sedang menyesali perbuatannya. Ia hanya menatap mamaknya dengan wajah datarnya. Dan tak ingin berkomentar apapun, atau mengajak maknya bicara. Karena ia masih kesal, hanya berharap maknya benar benar berubah.
Dek mas mau makan sambel, tolong buatin ya."Pinta pak Jumadi.
__ADS_1
"Iya mas tak sekalian bikin bubur nanti pas waktunya makan sudah dingin."Kata bu Sarinem. Ia pun beranjak ke dapur, dan membuat pesanan suaminya.
Nenek melihat wajah anaknya sebentar, dan kembali menatap Anah.
Pak Jumadi beranjak pergi dari rumah keluar, Monik yang melihat nya keluar pun segera turun dari atas ranjang. Dan mengikuti bapak berdiri di bawah pohon jengkol.
"Pak kenapa melihat ke atas apa mau petik jengkol pak?"tanya Monik
"Iya bapak pengen lalap jengkol, makanya lihat ke atas mana yang sudah bisa di petik buat lalap. Kalau mbak Anah sehat, pasti dia akan ikut makan pakai jengkol dan sambel."Mengingat Anah, suka sekali sama jengkol.
flashback on
"Pak kita mau ke ladang siapa sih? tapi bawa mam ya? aku lapar, sama sambel sama jengkol di bawa juga ya."Celoteh Anah beberapa tahun lalu.
"Iya kita bawa mam buat Anah dan adek Monik. Dek bawa jengkol nanti Unyil nyariin dan berabe. Kayaknya ladang pak Musa tidak ada pohon jengkol."Ujar pak Jumadi.
"Iya mas, sudah tak siapin, ada terong, ikan asin juga."Jawab bu Sarinem, sambil tersenyum.
"Yeee.... pak tapi gendong ya kalau sudah dekat baru aku jalan."Dengan tingkah polah Anah yang centil.
"Lah sudah doyan sambel kirain dah gak mau di gendong. Emang gak malu kalau ketemu orang, terus di tanya gimana?"tanya pak Jumadi, pada Anah.
Dengan mengangkat Anah ke atas pundaknya. Karena di punggung belakang sudah mengendong Monik pakai kain.
Sedangkan bu Sarinem yang membawa bekal dan alat kerja. Mendengar celoteh Anah dan suaminya hanya menggeleng kepala sambil tersenyum pada suaminya.
"Ya tinggal bilang capek kalau jalan. Iya kan dek?"bertanya pada adiknya.
"Iya."Jawab Monik, yang masih kecil itu.
*****Bersambung.....
__ADS_1