TAKDIR KU

TAKDIR KU
109.HUKUMAN


__ADS_3

Hari berganti hari, minggu berganti minggu kini berganti bulan. Anah yang sudah berusia 10 tahun lebih itu, mulai bisa membedakan mana cantik dan tidak.


Anah merasa bosan jika rambut cuma di kuncir kuda, di kepang seribu, dan di kuncir dua.


Saat di sekolah Anah melihat temannya yang bernama Rahayu. Dengan penampilan barunya, yaitu rambut di potong sebahu. Di tambah lagi dengan poni yang terlihat cantik. Seperti yang ada di pemain sinetron, yang sering Anah tonton.


Tentu hal itu membuat Anah, tanpa pikir panjang lagi. Saat pulang sekolah, begitu sampai di rumah. Anah langsung mengambil gunting kecil yang dia punya. Dan cermin segi empat, lalu ia ke teras depan.


Sambil bercermin Anah menggunting rambut bagian depan. Saat ini rambut Anah yang mengembang, tapi tidak kering. Sudah panjang hampir sepinggang, harus hilang dalam sekejap.


Tanpa sepengetahuan Anah, Nenek sudah pulang. Saat pulang tidak lewat depan tapi lewat belakang. Pas masuk rumah, melihat Anah yang keluar dari kamar. Dengan membawa cermin dan gunting, nenek tidak menegurnya.


Melihat gerak-gerik Anah, nenek mengikuti Anah dengan mengendap-endap. Supaya tidak menimbulkan suara langkah kaki. Terkejut melihat Anah sedang memotong rambut bagian poni.


Hal itu membuat nenek naik pitam, tanpa ucap kata. Nenek kembali menuju dapur, diambilnya pisau dapur. Yang kebetulan tadi di asah, supaya tajam. Agar memudahkan Anah jika ingin memotong sayuran.


Dengan langkah kaki cepat, pisau ia sembunyikan di balik tubuh. Begitu sampai di depan rumah, langsung saja menarik ikatan rambut Anah. Namum tidak sampai lepas, lalu di potong saja itu. Dan dalam satu kali potong, rambut itu langsung putus.


"Sini biar nenek bantu!" dengan suara yang menggelar. Sontak hal itu membuat Anah syok, ketika rambut sudah ada di tangan nenek.


Beberapa detik kemudian langsung mendarat ke tanah, tepat di depan kakinya. Tanpa di minta air matanya mengalir deras di pipi. Di tambah lagi, bentakan nenek yang sampai terdengar di rumah Johan.


"SUDAH BERAPA KALI KAMU NENEK KASIH TAU. JANGAN PERNAH POTONG PONI, APA LAGI RAMBUT. TANPA IZIN NENEK ATAU BAPAK MU!"bentak Nenek.


"Aku juga pengen cantik nek, seperti teman aku. Pakai poni, rambut di urai, seperti yang ada di sinetron."Bantah Anah.


"Kamu itu sudah cantik mau diapain aja tetap cantik. Tapi tidak perlu pakai poni, atau di urai kalau tidak lagi keramas. Kalau sampai bapak mu tau yang ada kamu akan gundul. Bapak mu paling benci, perempuan yang berambut sesetan. Itu kamu gak perhatikan ibu mu, tidak pernah rambutnya kurang dari sebahu." Kata Nenek masih dengan nada tinggi.


Memang benar adanya bu Sarinem, semenjak menikah hanya sekali rambutnya kurang dari sebahu. Karena pak Jumadi sangat marah, melihat istrinya dengan rambut sesetan atau kurang dari sebahu.

__ADS_1


Itu juga tidak luput dari perhatian Parno dan nenek. Karena saat itu bu Sarinem, tergolong masih pengantin baru.


Sebelum meninggalkan Anah merantau, pak Jumadi sudah berpesan. Jangan sampai rambut Anah di potong, kurang dari sebahu atau berponi.


"Karena apa aku tidak boleh rambut pendek nek?" tanya Anah.


"Nenek tidak tau, kalau kamu mau tau tanya saja sama bapak mu."Kata Nenek.


"Kalau nenek tau aku tidak boleh rambut pendek, kenapa sekarang rambut ku nenek potong pendek?"tanya Anah dengan nada kesal.


"Masih bagus nenek sisain, makanya kalau di bilangin jangan ngeyel. Itu buat hukuman orang ngeyel, sama penasaran kayak kamu."Kata Nenek, langsung pergi meninggalkan Anah yang masih menangis.


Warto yang mau berangkat sekolah SMP terbuka. Berhenti di bawah pohon jambu, malah mengejek Anah.


"Yah nangisi rambut yang sudah pendek. Emang bisa nyambung lagi?" tanya Warto dengan muka datar. Ia pun tidak suka dengan Anah yang berambut pendek.


Anah langsung ganti baju, karena tadi belum ganti baju. Setelah itu ia, pergi ke kamar mandi. Cuci muka, Anah masih dengan lamunannya. Sesekali ia mengusap kepala, kini ia sedih. Selama ini Warto tidak pernah mengejek, tapi karena rambutnya pendek. Merasa jika dirinya orang yang hina, sehingga orang tidak lagi sayang padanya.


Anah kembali ke depan, untuk membuang rambutnya. Setelah itu Anah mengambil makan, meski tak lagi selera makan. Anah memaksa untuk makan, supaya tidak lagi sakit dan menyusahkan orang lagi.


Anah ingat sewaktu kemarin sakit, banyak menyusahkan orang. Dan bapaknya tidak seperti dulu lagi yang begitu menyayangi dirinya.


Yang selalu ingin kembali ke rumah barunya, dengan alasan kangen dengan adiknya, dan lain sebagainya.


Sekarang apa yang baru ia ketahui, bahwa di hukum karena ngeyel dan penasaran. Saat ini dia pun tidak punya tempat untuk mengadu. Karena orang yang selalu menemaninya sudah tidak lagi dekat.


Mungkin sudah tidak sayang lagi, tinggal Angga saja yang masih dekat dengan dirinya. Itu pun saat Anah di rumah, dan tidak ke sawah atau yang lain hal.


Saat masih melamun nenek datang dengan membawa gunting. Menatap Anah, yang sedang melamun di ruang tamu dengan memegang piring kosong.

__ADS_1


"Anah cepat kamu ke belakang, sini nenek potong yang rapi rambutnya."Ujar Nenek.


"Tapi jangan di gundul nek," kata Anah.


"Enggak kalau kamu nya cepat."Kata Nenek.


Anah tidak menjawab lagi lagi mengikuti neneknya ke belakang rumah. Nenek menyuruh Anah untuk duduk di kursi kecil.


Dengan cepat nenek merapikan rambut Anah. Kini rambut Anah pendek di atas pundak sedikit. Lalu poninya di rapihkan, tetap cantik. Namun semua orang yang me mandang Anah, jadi merasa kurang manis. Karena penampilan barunya, kini tak jarang orang bertanya.


Malam harinya Anah datang ke rumah Johan, untuk nonton TV. Saat ini rambut Anah di ikat separuh bagian atas dan berponi. Anah langsung di tanya dengan berbagai pertanyaan juga ejekan.


"Loh rambut mu pendek?"


"Kenapa di potong?"


"Apa karena banyak kutunya?"


"Karena belajar dandan tuh, jadi di potong rambutnya untung gak di gundul sekalian. Dasar centil." Siapa lagi kalau bukan Johan.


"Bukannya kamu pengen cantik dengan rambut terurai? kenapa sekarang sudah di potong malah di ikat? Dah di copot aja tali rambutnya." bu Nining ikut mengejek, Karena sudah di kasih tau sama neneknya Anah. Jika Anah mau seperti yang ada di film sinetron.


"Makanya jadi orang bersyukur dengan yang ada jangan ikut-ikutan. Kalau artis tambah cantik, kalau kamu tambah melesek tuh."Kata Warto.


Anah hanya diam menunduk menahan tangisnya dengan terus menatap TV. Berusaha tutup telinga dengan tangan kasat mata. Dan menganggap tidak mendengar ucapan semua orang.


Tanpa sepengetahuan Anah masih ada yang memperhatikan Anah. Ia merasa iba, merasakan kesedihan yang Anah rasakan. Tapi tidak ingin komentar apa-apa, dia hanya berharap Anah tetap sabar. Dia juga yang Anah anak yang hebat, tidak akan cengeng lagi. Karena dia tadi juga, melihat kejadian siang tadi.


*****Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2