
"Ya tinggal bilang capek kalau jalan. Iya kan dek?"Bertanya pada adiknya.
"Iya,"jawab Monik, yang masih kecil itu.
Tak berapa lama mereka sampai ladang pak Musa. Di ladang di tanami kacang tanah, pak Jumadi dan bu Sarinem bertugas membersihkan rumput liar yang tumbuhan di sana.
Para orang tua sedang bekerja Anah dan Monik main dan selang dua jam Anah merasa lapar.
"Adek lapar gak?"tanya Anah
"Iya aku lapel,"jawab Monik, yang usianya baru 2 tahun.
Lalu Anah berdiri dan melihat keberadaan para orang tua. Ternyata jarak mereka jauh, sekitar seratus meter. Ia mencoba teriak, jika tidak dengar ia akan menghampiri.
"IBU AKU DAN ADEK LAPAAAR....."Teriak Anah
Para orang tua mendengar teriakannya Anah, menoleh namun kurang jelas. "sudah sana hampiri, mungkin sudah lapar."Ujar pak Jumadi.
"Lah di bawakan makan tidak Inem?"tanya bu Musa.
"Sudah saya bekelin bu, bisa berabe kalau gak."Jawab bu Sarinem.
"Ya sudah kalau belum nanti tak ambil kerumah. Soalnya belum di kirim ini, masih jam setengah sepuluh."Kata bu Musa.
Ya di ladang ini juga hanya bu musa menemani jika pagi hari. Kalau habis zhuhur pak Musa sudah pulang mengajar, pasti ke ladang. Karena pak Musa seorang guru SD di kampung sebelah selatan.
"Kami selalu sedia bu, kalau tidak itu mulutnya ngoceh terus nanti. Ocehannya enak di dengar mending, ini bikin sesak nafas yang ada."Kata pak Jumadi.
"Namanya bocah Jum, Anah normal makan terus. Lah Unyil kan, emang gak bisa diem. Jadi sering lapar, butuh tenaga untuk pecicilan sama ngoceh." Perkataan bu Musa benar adanya.
"Ya begitu bu."Hanya itu yang bisa di katakan pak Jumadi. Sambil terus bekerja membersihkan rumput liar.
Sekarang Anah sudah di sediakan nasi dari singkong (tiwul) sambel, ikan asin dan jengkol tak lupa.
Sedangkan Monik tidak mau nasi singkong. Sudah pasti nasi putih dari beras yang memang di bawa hanya untuk Monik. yang sekarang ini ia makan nasi dan ikan asin. Yang sudah potong² untuk Monik, karena memang masih kecil jadi masih dapat perhatian penuh.
__ADS_1
"Ibu aku juga pengen nasi putih, masak aku makan tiwul terus. Ibu kapan punya nasi putih yang banyak, kalau punya sedikit cuma buat adek."Keluh Anah, karena sudah beberapa hari ini, Anah hanya makan tiwul bersama bapak ibunya.
"Nanti siang, kalau bu Musa kasih nasi putih. Anah boleh makan yah sekarang makan ini aja. Tapi jangan ngomong sama bu Musa ya! kalau Anah, ibu dan bapak cuma makan nasi tiwul."Kata bu Sarinem.
"Iya, tapi apa herus jawab, kalau Anah di tanya?"tanya Anah.
"Ya bilang aja Anah makan pakai sambel, ikan asin dan jengkol. Tapi jangan bilang nasi tiwul ya. Tidak enak sama bu Musa, malu karena kita tidak bisa beli beras.
"Iya, nanti kalau di tanya, kalau gak Anah akan diam." Kata Anah. "selalu begitu kalau lagi gak ada beras, banyak aku makan tiwul terus. Enak jadi Monik gak doyan, jadi makan nasi enak, aku di suruh ngalah terus. Gak enak jadi gede di suruh ngalah mulu ih, kesel aku."Berkata dalam hatinya, sambil menatap Monik dengan sendu.
"Iya sudah ibu kerja lagi ya."Kata bu Sarinem.
Bu Sarinem yang melihat Anah menatap Monik, dengan tatapan sendu pun tau maksudnya Anah.
"Maaf nak kalau ibu dan bapak tidak adil sama kamu. Bagi ibu kamu masih ada yang di makan."Kata hatinya.
Ia menetralkan pikirannya, sebelum sampai di hadapan bu Musa. Pak Jumadi pura pura gak tau apa-apa, karena tidak mau bu Musa tau. Prinsip pak Jumadi tak suka dikasihani orang.
Kembali pada Anah dan Monik, kini mereka sudah selesai makan. Anah bermaksud bercanda sama Monik, namun kebablasan. Jengkol yang di sediakan oleh ibunya masih ada satu ia pakai mainan.
"Dek lihat ini jengkol di mulut mbak bisa ilang."Kata Anah dengan antusias dengan menunjukkan aksinya.
"Anah pun menunjukkan pada adiknya jengkol di lidahnya. Lalu ia sembunyikan di bawah lidah agar tidak terlihat. Sekali berhasil, kedua masih sama, namun yang ketiga anah tersendak. Anah langsung melotot dan nafas sesak, itu berusaha minta tolong.
Uh... uh... uh...
Uh...uh...uh...
Monik yang melihat mbaknya seperti itu, ketakutan di pikir mbak mau nakut-nakutin.
"IBU BAPAK"Teriak Monik ketakutan.
"Pak Jumadi sudah merasakan, tak enak bahkan dari tadi pengen melihat Anah. Namun seperti berat, seperti ada yang bilang tidak apa-apa.
"Mendengar teriakannya Monik pak Jumadi, melemper alat kerja. Langsung lari secepat mungkin, mata tertuju pada Anah. Setelah sampai ia langsung memukul punggung belakang Anah. Beberapa kali pukul keluar lah itu jengkol, sebesar uang koin 50 rupiah.
__ADS_1
"Alhamdulillah,"seru bu Sarinem dan pak Jumadi serentak.
"Kenapa?" bu Musa setelah sampai di dekat pak Jumadi.
"Ini bu Anah tersendak jengkol bulat." Kata pak Jumadi, sambil menunjukkan jengkol di tangan.
"Astaghfirullah, untungnya masih bisa keluar.
Duh Anah, jangan ngemut jengkol lagi ya. Ini ibu punya permen, ini buat Anah dan Monik."Kata bu Musa, sembari memberikan permen pada kedua bocah. Yang kebetulan hari ini ia bawa permen. Biasanya ia siapkan untuk Rofid anak bungsunya.
Anah cuma mengangguk karena masih syok.
"Acih bu,"ucap Monik yang minta dipangku ibunya.
Ya karena kejadian itu tidak dapat di lupakan baik itu orang tua atau Anah sendiri.
flashback off
Pak Jumadi tersadar dari lamunannya ketika bu Sarinem memegang pundaknya.
"Eh.. ada apa dek?"tanya pak Jumadi setelah sadar.
"Mas ngapain ngelamun di sini?"tanya balik.
"Oh ini mas pengen lalap jengkol, tapi mas keringetan sama Anah. Dia lagi gak makan. udah gitu mas jadi ingat waktu beberapa tahun lalu. Anah tersendak jengkol, dia masih selamat. Begitu berat yang ia jalani, nasibnya tidak pernah mulus."Menetes lah air matanya bu Sarinem dan pak Jumadi sendiri. Saat sedang larut dengan kesediaan mereka dikagetkan oleh kedatangan Angga dan para bapak ibu guru.
"Assalamualaikum,"ucap Angga dan para guru.
"Wa'alaikumsalam" jawab pak Jumadi dan bu Sarinem, sambil mengusap air mata. Monik hanya diam dia bingung, kenapa Angga datang dengan orang banyak.
"Bibi dan lek Jum, kenapa nangis di sini?"tanya Angga.
Pak lek pengen makan lalap jengkol, tapi pak lek belum naik buat metik ingat Anah. Biasanya Anah paling doyan makan jengkol. Karena Anah sakit, pak lek jadi sedih dikit hehehe."Jawab pak Jumadi.
"Emang sedih banyak juga lek?"tanya Angga lagi. Dengan wajah penasaran.
__ADS_1
Para guru jadi tertawa kecil.....
*****Bersambung.....