
"Dek sudah jangan di pikirkan lagi, itu sangat menyakitkan. Selama kita masih bisa mencukupi kebutuhan anah. Kita tidak perlu mikir yang tidak tidak, kita berdoa saja. semoga kita tinggal di sana lebih baik dari ini."Kata pak Jumadi berusaha menenangkan istrinya.
"Tapi kalau kaya gini terus, kapan mas kita bisa lebih kebutuhan anak-anak. Parno gak mungkin masih minta uang sama mamak. Dia kerja dengan mengurus sawah dan ladang? Kita sepertiga untuk dia, apa Parno minta lebih tanpa kita tau."Menerka-nerka.
"Tidak Parno sudah tidak bandel lagi, dia kembali ke seperti semula. Bahkan aku malu padamu, mamak tidak bisa berubah. Mamak juga tidak anggap aku anaknya, mamak akan mikir 1000 kali sebelum bertindak. Mamak selalu seenaknya sendiri, anah sebenarnya tertekan di sini. Tapi anak kita sudah terbiasa dengan itu semua dari masih di perut. Entahlah nanti itu anak kuat sampai kapan. Semoga Allah SWT selalu berikan dia perlindungan dan keselamatan serta kesabaran." Ya pak Jumadi tau jika Anah tertekan, namun ia pura-pura tidak tau. Dan ingin melihat sampai mana anaknya akan bertahan dengan merahasiakan kesalahan neneknya.
"Mas aku gak tau juga harus bagaimana, menerima semua sikap mamak. Jujur biar mamak seperti itu aku tidak pernah melawan.
Tapi gak ke depannya aku tahan atau tidak, mamak selalu saja seperti ini. Bahkan sekarang ke Anah saja manis, tidak tau jika di belakang kita. Mas jangan pernah milih antara aku atau mamak yah. Aku gak mau nanti mas jadi anak durhaka."Kata bu Sarinem.
"Yang namanya anak durhaka itu, anak yang tidak berbakti sama orang tua. Lah ini aku anak yang di telantarkan dek. Dan setelah aku menikah, mamak menghabiskan semua milik kita. Apa itu yang di sebut ibu yang baik dan penyayang. Bahkan saat kamu hamil di siksa padahal ia tau dalam perut mu itu ada darah keturunannya. Alangkah tega sama cucunya sendiri, sampai sekarang malah di siksa secara langsung. Walaupun alasannya untuk masa depannya nanti. Tapi Anah itu belum waktunya menjadi dewasa dek. Kalau Anah itu remaja, 14 tahun didik seperti itu, ya dak papa. Itu untuk persiapan ia kelak menikah. Seperti waktu aku melamarmu waktu itu kan udah pantes di ajari seperti itu." Ujar pak Jumadi.
Ya waktu melamar bu Sarinem, saat itu bu sarinem berusia 14 tahun. Ketika bapaknya jatuh sakit, maka meminta Jumadi untuk jadi menantu. Sebagai pelindung putrinya, dengan begitu ia bisa tenang, anaknya ada yang menjaga. Namun saat itu tidak mudah untuk meluluhkan hati bu Sarinem.
"Ih mas kok jadi bawa masa lalu aku sih." Menunduk malu campur kesal.
"Ya aku mau bawa masa lalu istri orang gitu, kan mas gak tau dek, taunya kamu aja." Pak Jumadi mencoba merayu istrinya yang lagi merajuk. Pak Jumadi meraih tangan istrinya lalu di ciumnya tangan itu. Setelah itu ia memeluk istrinya, dan mencium seluruh wajahnya.
"Mas ih apaan sih, kalau ada yang lihat kan malu."Protesnya pada pak Jumadi. dan berusaha melepaskan pelukannya.
"Masa sih, paling yang lihat juga mamak biarkan saja." Pak Jumadi tidak mau melepaskan malah semakin erat ia memeluk tubuh kecil istrinya.
Memang bertepatan dengan bu Sarinem protes, nenek ada di pintu dapur hendak keluar. Namun ia urungkan karena mendengar ucapan pak jumadi.
"Dasar anak dan mantu sama aja, aji mumpung aku gak di rumah mesra mesraan di belakang rumah. anaknya mereka biarkan main ke seberang."Berkata dalam hati, sambil menatap anak dan menantunya.
"Mas...."
"Apa adek sayang, masih ingin begini sebentar saja."Memotong ucapan istrinya.
"Apa sih mas, lepaskan aku gak denger suara anak-anak mas kemana ya."Katanya karena memang tak mendengar suara anak-anak mereka.
__ADS_1
Paling juga main sama Warto."Pak Jumadi berkata dengan santai.
"Dek mas pengen banget nih yuk ke kamar sekarang yuk,"bisiknya pada telinga istrinya.
"Mas ini siang loh masa begitu."Kata bu Sarinem.
"Kita sudah sah dek, gak ada yang larang. Dosa lo nolak suami, emang adek tega sama mas. Pusing lo dek kalau menahan, sebentar kok janji." Setelah berkata ia berdiri dan menarik tangan istrinya dengan lembut.
Bu sarinem mau tidak mau memenuhi permintaan suaminya, ia mengikuti arahan suaminya.
Melihat anak dan menantu menuju pintu dapur, buru buru nenek pergi. Untuk melihat jemuran padi yang belum kering.
...****************...
Anah, Monik, Warto dan Johan lagi pada metik jambu biji depan rumah Anah. Ya tadi kumpul di rumahnya Warto untuk metik jambu juga. Lalu Anah bilang depan rumahnya juga ada yang mateng.
"An kamu yang kumpulkan ya, biar aku petik."Kata Warto.
"Mas itu kanan tertutup daun."Teriak Johan.
"Lek itu dekat kaki lek."Monik ikut teriak.
"Ya sabar, tar aku petik."Warto menyahut.
Mereka asyik dengan apa yang ia inginkan.
Nenek nimbrung dengan anak anak, guna menghindari anak dan mantunya yang asyik di kamar.
"Yah gak sampai, harus ada kayu atau bambu."Kata Warto.
"Mana yang gak sampai biar nenek petik pakai bambu ini." Nenek sudah bawa bambu panjang.
__ADS_1
Nenek mulai memetik ada beberapa buah, yang tak sampai di petik dengan tangan Warto. Setelah selesai Anah mencuci jambunya ke sumur. Di sumur sudah ada ibu dan bapaknya, yang lagi membersihkan diri. Pak Jumadi melihat Anah menuju sumur pun bertanya.
"Cantik bawa apa?"tanyanya pada Anah.
"Jambu pak, bapak dan ibu lagi mandi? mau kemana?" Karena yang ia tau mandi siang, kalau tidak pulang dari sawah ya mau pergi.
"Gak kemana mana mau mandi aja. emang gak boleh?" balik tanya pada anaknya.
"Hehehe iya juga."Sambil garuk-garuk kepala.
Jambunya dapet banyak ya sampai hampir penuh tu baskom gede. Tempat kita aja, apa campur sama tempat lek War?"tanya pak Jumadi.
"Campur pak,"sambil nyuci jambunya "bapak ambil dua nih buat bapak dan ibu."Kata Anah.
"Mau dek?"pak jumadi menoleh pada istrinya dan di jawab dengan anggukan. "Terima kasih sayang nih satu aja tapi yang besar ya , boleh?"tanyanya pada Anah.
"Boleh pak, ya sudah aku ke depan lagi ya."Kata Anah, sambil berjalan ke arah halaman rumah.
"Nih aku sudah cuci, tadi aku kasih ke bapak ku satu."Kata Anah.
"Sip cantik tidak apa apa, yok makan ingat bijinya jangan di makan."Warto mengingatkan temannya.
"Nenek nih, yang gede buat nenek."Anah memberikan yang besar juga pada neneknya kebetulan ada dua. Yang satu lagi buat Warto, maksudnya yang besar untuk orang yang lebih besar juga. "Yang ini buat lek War," kata Anah.
Johan melihat juga pengen yang besar. Anah paham emang dia merasa lebih kecil. Dia memberikan pada Johan yang agak besar.
"Terima kasih An."Tersenyum senang karena Anah memberikan yang agak besar.
"Pinter"
*****Bersambung...
__ADS_1
💮 Terima kasih sudah mampir🙏 🥰💮