
Johan hanya memandangi kepergian Anah, sedang Angga menyusul sepupunya itu.
Namun Johan paling senang melihat wajah kesalnya Anah. Ia pun tersenyum dan akhirnya menyusul Anah yang sudah jauh.
Bertepatan dengan bel istirahat, Anah senang ketika melihat para murid keluar dari kelas. Sampai ia tidak sadar jika di sampingnya sudah ada Warto dan teman temannya. Johan yang melihat Anah bengong pun, menepuk pundak Anah.
"Iler mu tu netes"ujar Johan.
"Replek tangan Anah pun langsung mengusap bibirnya. Sontak itu suara tawa para laki-laki menggema.
"Ha-ha-ha-ha-ha"
Tawa mereka sontak mengudang papa siswa siswi di sekitarnya. Warto merangkul pundak Anah, ia tahu pasti Anah malu. Karena perbuatannya Johan, Anah jadi pusat perhatian.
"Dah gak papa, anggap kamu artis jadi banyak fans nya."Warto menghibur Anah.
"Kalau boleh tahu tadi bengong, mikirin apa sih"tanya Warto ada Anah,
"Aku senang melihat itu masnya dan mbaknya keluar kelas. Terus aku mikirin apa nanti aku juga seperti ini." Ujar Anah.
"Pasti nanti seperti yang kamu lihat tadi."Kata Warto.
"Apa kamu mau sekolah?"tanya Ari teman Warto.
__ADS_1
"Iya mas"jawab Anah
"Emang udah sampai itu tangan ke kuping"tanya Ari lagi, ada rasa senang menanggapi Anah.
"Eh... bisa dong ini dah sampai" sambil memeragakan tangannya memegang kuping. Yaitu tangan kanan memegang kuping kiri atau sebaliknya.
hayo para pembaca yang pernah di era ini siapa?ðŸ¤
"Wes gak di ragukan lagi ini, pasti di terima sama pak Udin."Ujarnya Ari.
"Iyalah kan aku udah gede masa gak di terima sih" diam sejenak "emang pak Udin siapa? tanya Anah, karena setau Anah kepala sekolah namanya pak Hardi.
"Bapak ku, ha-ha-ha!"tertawa lepas mereka semua yang ada di sekitar Anah.
"Ih kirain guru. Tapi gak papa lah aku kan cantik, pinter masak, bersih bersih rumah. Siapa coba yang tak mau terima aku, yang nolak anak cantik."Kata Anah, dengan gaya centil dan percaya diri.
"Biarin weee"Anah menjulurkan lidahnya pada Johan.
"Kamu di anter siapa kesini, cantik"Ari bertanya lagi.
"Sama bapak lah masak sama pak Udin."Jawab Anah santai.
"Ahaai jadi besanan pak Udin dan pak Jumadi." Kata Yanto teman Warto juga.
__ADS_1
Warto yang denger pun tak suka. Lalu merangkul pundak Anah di ajaknya Anah ke tempat pendaftaran. Angga dan Johan mengekor, rupanya tidak cuma Angga yang mengekor, Ari, Dedi, Yanto, dan Wawan . Sementara Anah anak perempuan puan sendiri diantara 7 laki laki. Mereka berjalan seperti mengawal tuan putri.
Mereka berpapasan dengan rombongan Imah ya baru balik dari kamar mandi. Imah menggelengkan kepalanya saat melihat Anah di antara 7 laki laki, dan Anah di depannya.
"Mbak Imah dari mana" tanya Anah.
"Dari kamar mandi, kamu ini udah kayak apa aja, di giring sama laki laki." Kata Imah.
"Anggap saja aku ini tuan putri, itu yang kaya di film tutur tinular. Ha-ha-ha" Anah tertawa sementara para laki-laki, ada yang senyum dan ada yang jengkel. Siapa lagi yang jengkel, kalau bukan Johan.
"Ya bukan putri yang di kawal, tapi putri yang di sandra sama para perampok." Ujar Johan dengan nada mengejek.
"Ya gak papa kan kalau putri lagi di sandra nanti kan pangeran datang menolong tuan putri." Anah menjawab dengan entengnya.
"Syukur kalau ada yang nolong, kalau gak dah di buang di di hutan. Yang ada harimau nya, baru dia tidak sombong lagi jadi tuan putri."Ketus Johan.
"Ih Johan mah jahat banget deh sama aku. Kenapa sih kamu itu selalu aja begitu. Aku kan gak pernah jahat sama kamu Jo."Kata Anah dengan kesal, dan berlalu pergi dari gerombolan itu.
"Kamu selalu saja bikin Anah kesel terus, kenapa sih han?" tanya Warto ia pun ikut kesal dan melangkah menyusul Anah.
"Mulai deh Warto."ujar Imah.
"Kayaknya Warto sayang ya sama Anah emang saudaranya ya? bukan Imah yang saudaranya." Kata Wawan yang heran sama Warto dari tadi selalu berusaha melindungi Anah.
__ADS_1
"Bukan saudara tapi dia itu suka sama tu bocah."Celutuk Imah. Lalu pergi meninggalkan rombongan itu, Angga dan Johan akhirnya pergi juga untuk mencari orang tuanya.
*****Bersambung...