
Ketika di tengah perjalanan Anah sudah merasa lelah dan kepala juga berasa panas. Ia berteduh dulu di pinggir sungai, setelah menginginkan ia menyebrang sungai. Dengan membawa satu persatu bawaannya, karena harus ekstra hati-hati.
Segera Anah bersemangat untuk cepat sampai tujuan, yaitu sawah. Nampak nenek dengan mata yang melotot tajam dan menahan marah. Karena menunggu Anah tidak datang tepat waktu, tak enak dengan para pekerja.
Tetapi berbeda dengan para pekerja, yang melihat Anah datang. Dengan membawa bekal makanan untuk nya, mereka pada kagum anak sekecil ini sudah bisa di andalkan. Tapi kok tega ya yang memberikan tugas itu pada Anah, itu yang ada di pikiran mereka.
"Kenapa lama sekali kamu ini, kasihan ini orang kerja sudah pada lapar." Dengan nada kesal namun pelan. Tetapi masih bisa di dengar oleh pekerja yang paling dekat nenek.
"Iya maaf nek, tadi aku capek jadi istirahat dulu di pinggir sungai."Jelas Anah dengan pelan.
"Ya sudah besok jangan di ulang. Berangkat lebih cepat jadikan tidak telat."Kata Nenek dengan tegas.
Setelah ngomel nenek pergi kearah ladang, yang ada gubuknya untuk melaksanakan sholat dzuhur. Para pekerja makan dan Anah main air di pinggir sawah. Yaitu air yang seperti di sungai dan hanya lebar setengah meter. Dari cuci tangan sam kaki dan akhirnya Anah cuci muka. Nenek juga ambil wudhu tadi sungai kecil itu.
Setelah selesai orang pada makan, Anah membereskan kembali. kini nenek yang makan, bahkan Anah juga di ajak makan lagi. Karena makanan memang masih banyak, para pekerja pergi sholat di gubuk. Ada juga yang cuma mencuci muka agar lebih segar saja. Karena lagi halangan, maka tidak ikut sholat.
"Ayo habis makan, kamu beresin semua dan pulang, beres beres rumah."Kata Nenek, lebih tepatnya perintah selanjutnya.
"Iya nek,"jawab Anah dengan lesu.
"Sampai kapan aku bisa main seperti teman-teman,"dalam hati Anah berkata.
Para pekerja sudah mulai kerja lagi, yaitu menanam pada. Anah segera membereskan perkakas, yang mau di bawa pulang. Dengan cepat ia berjalan pulang, sekarang yang di bawa tidak berat seperti waktu berangkat. Makanan tinggal sedikit, jadi ringan, ia berjalan dengan riang. Lebih tepat lagi menghibur diri sendiri yang meratapi nasibnya.
......................
Hatiku gembira, riang tak terkira
Mendengar berita, kabar yang bahagia
Ayahku 'kan tiba, datang dari India
Membawa boneka yang indah jelita
Oh, sayang
Boneka cantik, kumimpi-mimpi
Menjadi idaman sepanjang hari
Kini ku dapat boneka baru
Untuk hadiah ulang tahunku
Bonekanya indah, pandai main mata
__ADS_1
Hatiku gembira, riang tak terkira
Oh, sayang
Boneka sayang, berbaju biru
Boleh dipandang, tak boleh diganggu
Boneka cantik dari India
Boleh dilirik, tak boleh dibawa
Kuayun, kubuai, kudendangkan, sayang
Tidurlah, hai, si Buyung, juwitaku, sayang
Oh, sayang
Ha-ha-ha-ha
Hm-hm-hm-hm
Ha-ha-ha-ha*
......................
Seketika Anah diam dengan muka pias. Gak nyangka bakal ketemu dengan Pujiyanto. Orang yang paling Anah takut, di kampungnya ini. Namun Puji lagi bersama Rama teman sekelasnya Anah. Ya adik puji ini sekelas dengan Anah. Tidak hanya Rama, mamak juga ada bersama Puji.
"Puji kamu ini seneng amat godain Anah. Kasihan sudah lagi capek dari ladang malah kamu menakut-nakuti."Omel mamaknya.
"Ih, siapa yang nakut-nakutin mak,"memang tidak ada niat menakut-nakuti.
"Anah kok kamu jadi pinter nyanyi, coba nyanyi lagi nanti ku kasih hadiah." Punya ide untuk jahili Anah.
"Gak ah nanti mas Puji bohong. Mas Puji kan tukang bunuh orang."Kata Anah, membuat yang mendengar melongo.
"Kata siapa puji tukang bunuh, siapa yang bilang, Anah?"mamaknya penasaran dengan jawaban Anah.
"Itu kan nyuruh aku nyanyi, nanti kalau aku lagi nyanyi langsung keluarin golok. Terus nanti potong leher aku, kaya potong sapi kurban." Jawab Anah panjang lebar.
"Hahahaha"tertawa semua.
"Kamu jadi sapi kurbannya ya An,"kata Rama.
"Gak mau, kamu aja Ram."jawab Anah.
__ADS_1
"Benar nanti kalau kamu nyanyi nya bagus, tak kasih hadiah sayang."Kata Puji mulai aksinya, dengan senyum manisnya.
Melihat senyum manis Puji, Anah sedikit berani. "Apa hadiah nya mas?" curiga dengan hadiah yang di tawarkan.
"Nanti kalau sudah nyanyi yang bagus dulu, baru tanya hadiah."Kata Puji.
Di mana-mana kalau artis mau nyanyi itu, sesuai harga bayaran mas. Lah ini gak jelas siapa yang mau? aku pun tak mau."Gaya centil nya keluar.
Rama yang sering melihat tingkah polah Anah, tidak yakin. Anah mau melakukan apa yang di suruh oleh masnya.
"Benar ni mau hadiah spesial dari mas Puji?"tanya Puji meyakinkan Anah.
Dia juga menahan tawa, dengan mengigit bibir bawahnya.
"Eh... jangan bilang mas Puji, mau kasih aku duit sebagai hadiah tapi pakai syarat ya."tebak anah.
"Kok tau, terus apa kamu tau syaratnya?"Puji penasaran apa bisa nebak ni Anah, pikirnya.
"Halah, orang jahat itu pasti licik, gak malu tu sama cewek."Anah menunjuk kearah belakang Puji. Setelah menoleh, Anah lari sekencang-kencangnya. Sambil berteriak pada Puji, tapi tidak menoleh sama sekali.
"CIUM AJA TU KEDEBONG PISANG MAS."teriak Anah.
"AWAS YA KALAU KE TEMU LAGI."Tapi tidak di gubris sama Anah.
"Wah dah pintar dia, niat mau ngerjain malah di kerjain."Gerutu Puji.
"Hahahahaha"tawa lepas dari Rama dan mamaknya.
"Sudah kuduga dia akan kabur."Kata Rama, karena ia yakin Anah siap 45 untuk kabur. Pada dasarnya Anah paling takut sama kakaknya yang suka menjahili Anah.
"Itu anak bisa nebak apa yang ku pikirkan ya."Kata Puji, yang gak terima di kerjain sama anak kecil, yang biasa ia kerjain.
"Sudah mas gak usah ngedumel, gak enak kan di kerjain?"tanya Rama, Puji cuma mengangguk.
"Makanya jangan suka ngerjain orang, jangan mentang-mentang Anah takut. Terus kamu kerjain terus, nanti kamu kena karmanya lo."Kata mamaknya. Lalu pergi duluan, meninggalkan Puji sendiri yang lagi berpikir.
"Lah mamak kok ngomong begitu sih. Orang aku cuma senang lihat Anah nangis lucu aja."Puji ngomong sendiri, sambil tersenyum membayangkan wajah Anah yang lagi nangis.
Sedangkan Anah sudah sampai jalan besar. Tepatnya di depan rumah Angga, dan di teriaki sama Imah yang berada di pintu.
"Anah ngapain kamu lari-lari begitu?"teriak Imah.
"Di kejar orang jahat."Sambil terus lari.
"Hingga dia sampai di rumah langsung deprok, nafas ngos-ngosan. Sambil mengeluarkan barang bawaan nya dan mau di cuci.
__ADS_1
"Kamu kenapa An,....."....
*****Bersambung...