TAKDIR KU

TAKDIR KU
80.Bancakan 2


__ADS_3

*An Nas


قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ


Qul a'uudzu birabbin-naas(i)


Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.


مَلِكِ النَّاسِۙ


Malikin-naas(i)


Raja manusia.


اِلٰهِ النَّاسِۙ


Ilahin-naas(i)


Sembahan manusia.


مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ


Min syarril waswaasil khan-naas(i)


dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi,


الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ


Al-ladzii yuwaswisu fii shuduurin-naas(i)


yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.


مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ࣖ


Minal jinnati wan-naas(i)

__ADS_1


dari (golongan) jin dan manusia.


*Ayat Kursi


2:254



255


اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّالْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ


Allahu laa ilaha ilaa huwal hai-yul qai-yuumu laa ta'khudzuhu sinatun walaa naumun lahu maa fiis-samaawaati wamaa fiil ardhi man dzaal-ladzii yasyfa'u 'indahu ilaa biidznihi ya'lamu maa baina aidiihim wamaa khalfahum walaa yuhiithuuna bisyai-in min 'ilmihi ilaa bimaa syaa-a wasi'a kursii-yuhus-samaawaati wal ardha walaa ya-uuduhu hifzhuhumaa wahuwal 'alii-yul 'azhiim(u)


Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.


"Aamiin ya rabbal allamin,"


"Ayo anak-anak mau makan di sini apa mau di bawa pulang?"tanya pak Musa.


"Aku mau bawa pulang aja pak ustadz."Jawab Lastri Ika Tia Mona Rama Lisna Aden Arul Nuri kompak.


"Yang ini untuk pak ustadz Musa Zahiruddin. Terima kasih sudah sudi datang dalam rangka syukurannya Anah, padahal bapak baru sampai rumah."Ucap pak Jumadi, sambil menyerahkan bungkusan berkat yang sudah di siapkan khusus untuk pak Musa.


"Sudah semestinya kita datang jika ada yang mengundang ke suatu acara. Dan terima kasih juga sudah melibatkan saya dalam acara ini. Jarang soalnya mas kalau Bancakan biasanya cukup sendiri tidak perlu ada saya, kecuali selamatan." Kata pak Musa.


"Ini sebagai rasa syukur saya dan keluarga atas kesembuhan Anah pak ustadz. Sebagaimana pak ustadz tau keadaan Anah kemarin. Kalau ada bantuan ustadz kan lebih afdhol."Ujar pak Jumadi.


"Aamiin semoga berkah untuk Anah segera sembuh, dan bisa beraktifitas kembali. Kalau begitu saya pamit ya mas Jum, terima kasih ini berkatnya."Pak Musa berdiri dan segera pulang dengan putranya.


"Dada Anah cepat sembuh ya"ucap Zulfadhli, sebelum keluar dari rumah pak Jumadi. Zulfadhli adalah putra pak Musa, Zul di ajak ketika baru pulang bersama pak Musa.


"Dada mas Zul terima kasih"ucap Anah.


"Lek Jum, bi Inem terima kasih berkatnya, Anah cepat sembuh ya, kami pulang."Ucap Lastri mewakili kelompoknya yaitu, Ika Tia Mona Rama Lisna Aden Arul Nuri.

__ADS_1


"Sama-sama, hati-hati di jalan." Jawab Anah dan kedua orang tuanya.


"Bi ni piring aku minta di sini."Ujar Warto membawa piring dan sendok di berikan pada bu Sarinem untuk di isi.


"Kamu makan di sini juga War, itu berkatmu sudah di bungkus lee sama bibi?"tanya bu Kokom pada putra bungsunya.


"Itu buat mamak sama mas Sugi. Aku mau makan bareng di sini aja." Jawab Warto.


"Alah modus bilang aja pengen makan bareng Anah, pakai alasan makan bareng."Kata Sugi yang mana tidak suka, jika adiknya dekat sama Anah.


"Kan bener aku makan bareng, bilang aja iri."Ejek Warto pada masnya.


"Pak.... mas ajak pulang aja tuh, nanti Anah gak jadi makan karena di pelototi sama mas."Adu Warto pada bapaknya, sekaligus mengadu pada pak Jumadi.


"Fitnah tu aku melotot sama kamu masih kecil juga pacaran."Kesal Sugi.


"Siapa yang pacaran, aku izinkan siapa pun dekat dengan Anah. Tapi tidak ada yang namanya pacaran."Tegas pak Jumadi.


"Aku gak pacaran lek sama Anah, tanya aja sama Angga dan Johan. Aku cuma teman sama Anah, di sekitar sini. Aku aja yang paling gede, jadi aku mainnya sama yang lebih kecil. Dan Anah juga perempuan yang paling dekat dengan aku. Aku sih senang aja kalau di bilang pacaran sama Anah. Kan Anah cantik lek, mas Sugi aja pengen nya nikah sama Anah masak aku enggak." Adu Warto panjang lebar, dan menjawab dengan polosnya.


"Masak aku jadi penganten masih kecil, sama orang galak ih gak mau. Pak aku gak mau ya, nanti aku gak sekolah lagi kalau jadi penganten. Aku mau sekolah pokoknya, kalau jadi penganten itu sudah besar kayak bibi Susi."protes Anah.


Warto menjulurkan lidahnya ke arah Sugi dan senyum penuh kemenangan.


"Ya Anah harus sekolah dulu, nanti kalau sudah gede baru jadi penganten. Sekarang lanjut makanan lihat tu mas Angga sama Johan sudah nambah."Ujar pak Jumadi.


"Ya pak."Jawab singkat, Anah dan langsung dengan lahap makan nasi yang di berikan Warto. Bahkan minta nambah lagi, sampai dia kenyang.


Setelah itu teman-temannya pada pulang dan bawa berkat untuk yang di rumah. Rumah sudah sepi, Anah dan Monik tidur pulas. Karena sudah lelah main dan perut kenyang sangat mendukung untuk tidur pulas.


...****************...


Lima hari kemudian Anah sudah bisa jalan tanpa pegangan lagi. Pak Jumadi pamit pergi ke pasar berangkat habis subuh bersama Bu Sarinem. Setelah kepergian pak Jumadi, Nenek masuk kamar pak jumadi untuk membangun Monik. Dan langsung memandikan mendandani Monik dengan mengikat rambutnya. Lalu segera sarapan dan berangkat sekolah.


Anah bangun di sampingnya sudah tidak ada bapaknya. Dan melihat Monik di dandani oleh Nenek, Anah pun merasa iri. Karena Anah tidak pernah di perlakukan seperti Monik. Tidak terasa air matanya menetes, membasahi pipinya. Dia teringat betapa kejamnya Nenek padanya, bahkan Monik tidak di ajari untuk masak. Dan bersihkan rumput liar halaman rumah seperti dirinya.

__ADS_1


Tidak tahan melihat pemandangan didepannya, Anah segera berbalik membelakangi Monik dan Nenek. Dengan segera menghapus air matanya, lanjut lagi tidur. walau tidak bisa pulas lagi.


*****Bersambung......


__ADS_2