
"Apa kamu tidak mikir dulu sebelum melakukan itu pada adikmu!"banyak Nenek.
Tapi Anah tidak menjawab dia hanya memokuskan diri pada kerjaan yang ada di tangannya.
Anah sudah tidak mengeluarkan air matanya di depan adiknya atau neneknya. Jika Anah tidak takut mati Anah akan menancap kan golok itu pada dirinya.
Dia meratapi nasibnya sendiri kenapa sampai saat ini dia masih hidup, kenapa tidak mati saja? Bukankah dulu semua orang beranggapan bahwa dia tidak akan selamat dari sakitnya? Kenapa sekarang dia harus berjuang keras lagi untuk bisa menatap masa depan? Lalu sampai kapan? harus seperti ini?...
"Kenapa kamu tidak jawab? apa sekarang tuli.
kamu gak lihat bapak mu sama pak lek mu. Saling berantem, kamu itu sudah besar harusnya menjaga dan melindungi adiknya bukan begitu!"Nenek membentak Anah.
"Kenapa Nenek selalu marah sama aku, Apakah aku ini bukan cucunya Nenek. Ibu selalu turuti semua keinginan Monik, belum bisa apa-apa sudah di sekolah kan. Aku juga yang harus malu punya adik tidak naik kelas, bodoh. Makan selalu aku yang harus mengalah, demi adiknya bisa makan. Apakah bapak juga sama seperti aku? sungguh Nek!! Anah sakit..... sakit dadaku.... ini....."
Anah tak lagi bisa berkata-kata dia menangis sejadi-jadinya. Anah melipat kedua kakinya lalu kedua tangannya dan menyembunyikan kepalanya.
Monik terpaku mendengar apa yang di tutur mbaknya, selama mbaknya tidak pernah protes. Ketika ibunya ngasih apa yang dia suka dan Anah tidak boleh minta. Karena anah bisa makan yang lain, tidak dengan Monik.
Bahkan ketika Anah sakit, anah hanya makan bubur sumsum tanpa santan dia makan pakai telur dan sayur. Ketika ikut bapak dan ibunya, dia makan enak dan tidak. Juga tidak tau apakah mbaknya bisa sepertinya? setelah dia ikut bersama mbaknya, dia di ajak oleh neneknya ini dan itu. Nenek selalu marah pada Anah jika ada kesalahan. Tapi nenek tidak memarahinya, seperti nenek memarahi mbaknya.
Kini Monik tau kenapa mbaknya sangat marah padanya. Sampai mbaknya memberikan luka di lututnya, meski itu bukan luka besar. Ia jadi tau dia yang tidak pernah menyayangi mbaknya, sungguh dia menyesal.
"Maaf ya mbak aku sudah nakal dan gak nurut sama mbak. Huhuhuhuhu maaf" Monik memegang pundaknya Anah sambil menangis.
Sedangkan Nenek seperti tertampar oleh Anah. Kini dia yang mendengar ucapan Anah, bahwa kakak harus ngalah sama adiknya. Dia pun tidak pernah tau Jumadi makan seperti apa? bahkan makanan ke sukaan Jumadi, baru dia tau ketika Anah sakit kemarin.
Ketika Parno mau menikah dengan anah orang kaya di desa ini juga. Jumadi harus membelikan ladang, dan perlengkapan pernikahan. Sepeser pun Parno dan dirinya tidak keluar kan uang, karena memang mereka tidak punya uang. Parno hanya mengeluarkan untuk mas kawin saja.
Di tatapnya Anah yang masih meringkuk menyembunyikan kepalanya. Sungguh dia malang jauh dari orang tua dan sudah di didik dengan cara yang kejam. Bahkan selama ini anah diam, di akui bahwa Anah anak yang cerdas. Mudah memahami situasi dan kondisi, juga rasa ingin tau cukup tinggi.
"Sudah diam kalian cuci tangan dan kaki tidur siang sana. Kamu itu ngantuk jadi bertingkah, sama orang tua berani membentak nanti kualat baru rasa kamu."Omel Nenek dan langsung pergi meninggalkan bocah dua itu.
Anah tidak perduli dengan ucapan neneknya, ia angkat kepalanya di singkirkan tangan Monik dari pundaknya.
__ADS_1
"Sudah sana kamu tidur, biar aku yang selesai kan kerjaan ini."Perintah Anah pada Monik.
"Aku mau bantu mbak aja, biar cepat selesai." Kata Anah dia tidak mau di suruh. Karena dia tidak mau mbaknya menyelesaikan tugas itu sendiri.
"Terserah kamu Mon." Sudah malas berbicara pada adiknya ini.
Akhirnya mereka berdua melakukan tugas neneknya sampai selesai dan membereskan daun kelapa sesuai perintah.
Setelah selesai mereka mandi dan dan makan sore. Jam menunjukkan pukul setengah enam sore, Anah segera berangkat mengaji.
"Anah kalau mau ngaji jangan lupa bawa minyak tanah itu. Bilang ini bilang satu liter dulu, satu lagi besok."perintah Nenek.
"Iya Nek" langsung di angkat itu botol dan berangkat, dan Monik mengekor di belakangnya.
Sampai di musholla pak Musa, Anah langsung singgah di rumah pak Musa. Dan menyampaikan pesan sang nenek, lalu masuk ke musholla karena sudah mau magrib. Setelah menaruh bawaan, segera menuju sumur untuk berwudhu.
Setelah isya mereka langsung pulang, sampai rumah Anah dan Monik pergi ke rumah Johan untuk nonton TV.
Jam menunjukkan pukul 9 malam, bagi yang masih sekolah pada pulang. Karena takut besok pada ke siangan bangun untuk ke sekolah.
Seminggu kemudian pak Jumadi pulang, melihat Anah tidak kurus seperti dulu. Pak Jumadi senang, karena Anah juga tidak sendirian di rumah ini.
"Assalamualaikum" ucap pak Jumadi, dari pintu dapur melihat Anah sedang mencuci piring berdua dengan Monik.
"Wa'alaikumsalam bapak pulang." Teriaknya kedua setelah 5 bulan lebih.
"Kok bapak baru pulang?" tanya Monik.
"Iya soalnya bapak temani ibu dulu, sampai sehat betul. Kasihan kalau di tinggal gak ada yang bantuin ibu."Ujar pak Jumadi.
"Apa ibu sakit, kayak mbak Anah?"tanya Monik .
"Iya pak, apa ibu sudah sembuh dan gak lemas lagi?"tanya Anah.
__ADS_1
"Sudah sembuh tapi belum bisa kesini.... " Belum selesai sudah di samber sama Anah.
"Kenapa memangnya katanya sudah sembuh?" tanya Anah, ada perasaan khawatir dan cemas.
"Bukan, tapi adek bayi belum bisa di bawa jauh-jauh nduk cah ayu."Kata pak Jumadi.
"Wah berarti aku punya dedek bayi, laki apa perempuan?"mereka berdua kompak bertanya dengan wajah berbinar binar.
"Laki-laki...."
"Namanya siapa pak?"anah langsung motong jawaban bapaknya.
Pak Jumadi menghela nafas panjang dan tersenyum pada kedua putrinya ini.
"Ahmad Amiruddin, kalian panggil Udin ya."Ujar pak Jumadi.
"Wah Udin sudah bisa apa pak?" tanya Monik.
"Apa Udin sudah punya gigi sama jalan?"tanya Anah.
"Aduh yang mana nih yang bapak harus jawab?" balik tanya pak Jumadi pada kedua putrinya.
"Aku pak." Anah langsung mengacungkan jari telunjuk.
"Baiklah di jawab dua-duanya" menjeda sebentar "kalau adek bayi, belum punya gigi dan belum bisa jalan. Tapi sekarang lagi belajar tengkurep, sebelum jalan bayi banyak belajar dari awal. Seperti tengkurep, telentang, duduk, merangkak, merambat berdiri baru jalan." Jawab pak Jumadi panjang lebar.
"Nanti kalau sudah bisa duduk baru Dede di ajak kesini."lanjut pak Jumadi.
"Yeeee gak sabar pengen ketemu sama dedek bayi Udin."Ujar dua bocah.
"Nenek ke sawah ya?"tanya pak Jumadi.
"Iya kali kan aku pulang sekolah tidak ada." Ujar Anah.
__ADS_1
*****Bersambung.....