
Sepulang sekolah Anah masih harus ikut ke sawah. Anah hanya diam tak pernah mau bicara kalau sedang sakit. Ia hanya bisa diam dan mengikuti apa yang dikatakan Nenek. Ia bertekad selagi bisa ia melangkah, akan terus memenuhi permintaan Nenek.
"m**umpung aku masih kuat aku turuti saja, apa maunya. Aku berharap ketika aku sudah tidak kuat. Aku ada di rumah tidak merepotkan orang." dalam hati berkata ia harus bisa.
Dengan sebisanya ia bekerja, walaupun ia sering merasa gelap mata tak bisa melihat. Ketika merasakan gelap ia akan duduk, nanti dia mulai lagi. Iya hanya di sekitar pinggiran tidak mau ke tengah sawah.
Nenek sesekali melirik ke arah Anah, ketika Anah duduk di pinggiran. Nenek tidak perduli yang penting Anah, tidak nangis karena ulat.
Sorenya mereka pulang, Anah berjalan sudah sempoyongan kadang ia duduk. Setelah menyebrang sungai ia merasa menggigil dan tambah lemas.
"Ya Allah, bu guru bilang Allah maha melihat, mendengar dan melindungi. Aku ingin pulang, lindungi aku, aku lagi sakit kaki sulit bergerak seperti tidak ada tenaga."Menangis lah Anah di jalan setapak itu. Dengan tangan memeluk kakinya yang di lipat. Dagunya di topang sama lututnya, menangis sejadi-jadinya.
Setelah merasa enak, ia mencoba berjalan lagi. Ia coba agak lari, karena hari semakin sore. Ia merasa gelap lagi penglihatannya sudah tak terlihat lagi. Ia berjongkok tapi malah jatuh, masih sadar namun semua gelap.
Setelah beberapa menit ia membuka matanya. Hari makin sore cahaya matahari mulai redup. Ia meyakini pasti bisa sampai rumah Angga dulu, ia akan minta antar pulang.
"Assalamualaikum," ucap Anah.
"Wa'alaikumsalam" semua yang di dalam rumah.
"Anah kamu dari mana?"tanya Angga.
"Dari sawah mas, aku minta minta air hangat ada gak bude." Anah menoleh pada bu Marni.
"Ada di belakang ambilkan ya. Emang kenapa kamu pucat sekali An?"tanya bu Marni. sambil berjalan menuju dapur.
"Cuma pusing bude." Jawab Anah.
"Kalau pusing kenapa ke sawah An?"tanya lagi, sambil memberikan gelas berisi air hangat, pada Anah.
__ADS_1
"Kalau saya tidak ke sawah, kasihan Nenek sendiri di sawah bude."Berkata bohong Anah.
Bu marni hanya menggeleng kepala melihat Anah, yang bernasib malang.
"Angga antar Anah pulang, dia lagi pusing."pura-pura tidak tau, padahal Angga sudah cerita tadi sebelum Anah datang.
"Iya mak, ayo An" di gandeng tangan Anah. Mereka jalan menuju rumah Anah, magrib masih di jalan namun sudah dekat rumah.
Nenek melihat Anah sampai langsung melempar handuk untuk mandi.
"Lama amat, kalau bisa tidak usah mampir-mampir. Angga masuk udah magrib kalau pulang nanti setelah magrib." Titah Nenek.
"Iya nak"langsung masuk rumah.
Anah tidak menyahut sama sekali, langsung jalan ke sumur. Anah baru buka baju aja, sudah langsung gelap. penglihatannya dan badan menggigil, ia langsung jatuh. Namun masih bisa bangun di raih itu gayung dengan cepat ia mandi. Di raih sabun mandi, di sabun kaki dan tangan yang kiranya kena lumpur saja. Lalu di siram buru-buru, langsung di raih handuk di pakainya. Langsung jalan merayap di dinding menuju kamar orang tuanya. Langsung naik ranjang dan menarik selimut meringkuk di atas ranjang. Meleleh air matanya, dengan sendirinya tak dapat di bendung lagi. Hingga ia tertidur tanpa pakaian dan tanpa makan.
"NEK NENEK!"teriak Angga pada nenek.
Nenek jalan menuju kamar, melihat Anah bergetar hebat dan merintih. Menarik nafas panjang dan kasar. Langsung di ambil nya ****** ***** Anah, baju kaos dan celana panjang. Di pakai kan itu pakaian Anah, selesai di selimuti lagi. Di cari lagi handuk kecil dan mencari baskom kecil. Lalu di isi air hangat, untuk mengkompres Anah.
Angga tidak pulang dia tidak berani. karena malam kecuali di jemput, dia naik ke ranjang, lalu ia memijat kakinya Anah. Bergantian kanan dan kiri, sampai dia ikut tidur.
...****************...
Keesokan harinya Anah tidak sekolah, Angga menyampaikan pada gurunya. Anah tidak sekolah karena sakit, bahkan ia menceritakan bahwa Anah badannya menggigil. Dan sekarang tidak bisa masuk sekolah, bahkan Anah belum bangun dari tidurnya.
"Angga bagaimana Anah apa benar sakit?"bu Ega bertanya pada Angga.
"Iya bu Anah sakit, tadi malam saya nginep di rumah Anah. Dia badannya panas banget, kayak nasi baru matang bu. Terus menggigil badan bergetar kencang bu, terus bunyi hem hem gitu. Serem bu, air matanya mengalir terus, tapi di apa-apain tidak bangun."Cerita Angga pada gurunya.
__ADS_1
"Apa ibu dan bapaknya sudah di kabari?"tanya bu guru. Ada rasa khawatir kepada Anah, takut jika Anah kena setip. Karena itu akan menjadi bahaya pada Anah.
"Belum bu, habis sekolah saya mau kabarin lek Par bu."Jawab Angga.
"Ya sudah, kita mulai belajar ya sekarang."Ajak bu guru. Mereka langsung mengikuti apa yang bu guru sampaikan.
...****************...
Parno dan Angga baru sampai rumah Anah, Parno langsung ke kamar mengangkat kasur yang ada di mamaknya. Di pasang karpet, dan kain di atasnya ia tau, Anah tidak sakit biasa kalau sampai gak sadarkan diri.
Sayangnya di kampung ini jauh dari rumah sakit. Jarak tempuh 6-7 jam, sama dengan arah jemput bapaknya Anah.
Setelah selesai persiapan ia pergi ke kamar mengangkat Anah. Di bawanya ke ruang tamu, yang lebih lebar tempatnya.
"Mak sudah masuk apa ini, air atau makanan?"tanya Parno, pada nenek.
"Tadi mamak baru suapin teh manis, terus mamak buat bubur sumsum. Biar langsung di telan tidak harus mengunyah. Kebetulan pak mantri tadi lewat aku pesan sama Sugi, suruh mampir."Kata Nenek.
"Hari Parno jemput mas, paling besok kami baru sampai sini."Kata Parno.
Memang ada yang buat jemput mas mu?"tanya nenek.
"Ada mak aku nyimpen duit, ya cukup kalau buat ke sana. Dari sini aku mau ngojek aja."Kata Parno.
"Ya sudah hati hati, mamak gak bisa nambahin tadi sudah buat berobat Anah. Sama tinggal buat belanja besok, kan mbak yu mu datang sama mas mu. Tau sendiri mereka itu selalu sederhana makan pun apa adanya."Kata nenek.
"Makanya mereka bisa menikah aku sama Susi. biayanya semua mas dan mbak yu yang tanggung. Aku cuma siapin mas kawin, maka dari itu aku gak mau kecewakan mereka mak."Kata Parno merasa berhutang budi. Apalagi dari bayi mas nya yang menghidupi dirinya. Bukan orang tua, karena mamaknya malah kabur dari tanggung jawab.
*****Bersambung....
__ADS_1