
"Ternyata bapak sudah pilih Jumadi untuk menjadi suaminya Inem. Inem selalu beruntung terus, di bandingkan aku. Di sukai orang banyak, sekolah juga juara terus. Tapi gara-gara di lamar Jumadi, dia tidak sekolah lagi karena malu. Kalau di pikir-pikir dia itu tidak bahagia pak. Pupus harapan dia, nikah juga terpaksa karena perjodohan, walau akhirnya bahagia. Orang pikir Inem selingkuh dengan Parno, karena dia di rumah cuma sama Parno. Jumadi sering merantau waktu Inem hamil anah. Apa pun yang dia pengen, Parno yang penuhin."Kata bu parti.
"Nah itu juga bisa di jadikan bahan, untuk menghasut warga sini bu."Memberi usulan pada istrinya.
"Ah benar juga yang bapak katakan."Senang dapat masukkan dari suaminya.
mereka terus mengguncingkan Jumadi dan istrinya, sampai larut malam. Dan akhirnya tidur karena sudah larut malam.
...****************...
Pagi hari nenek sudah menangkap ayam yang sudah pada besar dan siap di potong. Lalu di ikat 2 ekor 2 ekor semua genap 6 ekor. Namun Jumadi tidak tau, karena jika tau tak akan mengizinkan untuk jual. Jadi dia akan menunggu pak Jumadi berangkat baru akan di jual. Tapi sayang hari ini tidak pergi ke sawah, hanya akan fokus menjemur padi.
Hal itu membuat nenek gelisah, karena ayam terus ribut dalam kandang. Dan itu mengundang perhatian pak Jumadi dan bu Sarinem. Mereka pun berjalan ke kandang ayam untuk melepaskan. Kebetulan nenek lagi masuk rumah hendak mengambil beras untuk makanan ayam.
Pak Jumadi dan bu Sarinem, sudah membuka kandang ayam tersebut. Mereka bingung kenapa ayam nya pada terikat rapi. Pak Jumadi menatap istrinya, dengan maksudnya.
"Aku juga tidak tau mas,"ketika mendapat tatapan dari suaminya.
Lalu ayam sudah di lepaskan dari ikatannya. Tak lama nenek datang dengan membawa beras di mangkok kecil, berisi beras.
Kaget ketika melihat ayam yang sudah ia ikat terlepas semua. Lebih kaget lagi melihat anaknya, yang memegang tali tersebut.
"Mak kenapa ayam nya di jualin? kan aku sudah pernah bilang, ayam yang sudah kita pelihara jangan di jual. Kita memelihara ayam untuk di makan bukan di jual. Kita masih bisa makan, masih ada yang buat belanja. Apa mamak punya hutang, pada siapa dan berapa?"tanya pak Jumadi.
"Dua puluh ribu, utang di warung rumi."Jawab Nenek.
"Pak Jumadi merogoh saku celana, memberikan uang kertas pecahan 20 ribu 3 lembar.
__ADS_1
"Itu buat lunasi hutang mamak di warung mbak Rumi." Kata pak Jumadi, ia tah habis pikir untuk apa hasil panen kemarin. Sehingga sampai panen sekarang pun, tak nutup. Bahkan sampai ngutang untuk makan dan waktu di tinggal pertama kalinya. Sebelum parno menikah ayam besar dan kecil banyak. Sekarang sisa 10 ekor itu hampir di jual, jika tak ketahuan. Kini ia percaya apa yang dulu pernah istrinya katakan.
Setelah mendapat uang nenek langsung ke warung rumi, untuk melunasi hutangnya.
"Dek aku bingung sama mamak, lumbung (tempat penyimpanan padi) sampai kosong. Terus uangnya kemana untuk apa ya, borosnya gak ketulungan." Keluh
"Masak masalah parno saja mas tau, masalah mamak gak tau!" sedikit ketus "aku mah dah kenyang dengan kelakuan mamak."Lanjutnya, lalu ia ingat masa lalunya.
flashback on.
Setelah beberapa bulan menikah, pernikahan Jumadi dan Sarinem. Bu Ponirah tidak lagi pergi, kini menetap di rumah sementara. Jumadi dan Sarinem sudah mulai akrab. Sarinem sudah bisa menerima pernikahannya yang awalnya dari perjodohan.
Jam dinding menunjukkan pukul 04:15, bu Irah selalu saja ada aja ulah. Rumah berbilik bambu itu, jika di pukul pasti akan membuat penghuninya jantungan.
BRAAK BRAAK BRAAK"
"Bangun jangan karena pengantin baru gini hari masih di kamar. harusnya gini haji sudah selesai masak."Bu irah, setelah memukulkan sapu pada dinding.
"Mak ini belum juga subuh, mamak ini seperti tidak merasakan pengantin baru aja."Kata Jumadi.
"Kamu yang enak, mamak perih dengannya."Mata tertuju pada pintu kamar.
"Mak kalau tujuan menikah memang seperti itu. Kalau mamak mau, mamak nikah saja lagi. Kami tidak melarang mamak nikah lagi. Kan dari dulu mamak tak pernah mikirin kami bagaimana. Tapi kami tak perduli mamak mau nikah atau tidak. Mamak yang tentukan pilihan, yang baik dan tidak. Jadi mamak tidak ganggu aku dan istriku." Kata Jumadi.
"Mas..."
"Ya mau manja, jangan mentang-mentang jumadi belain jadi ngelunjak ya!"bentak bu Irah.
__ADS_1
"Mak cukup ya." Lalu menatap istrinya yang menunduk, ia tak pernah di bentak. Baru kali ini, sungguh membuat dadanya sesak. air matanya mengalir di pipinya dan sesenggukan. Tangan Jumadi mengusap air mata istrinya, lalu menuntunnya ke arah sumur. "Maafkan mas ya, karena mas kamu jadi begini. Dan maaf atas kesalahan mamak yang sudah membentak mu. Kuat tidak jalan ke sumur, kalau tidak mas gendong ya."Kata Jumadi.
"Kalau di gendong, nanti pasti mamak marahin aku lagi."Lirih sambil sesenggukan.
"Ada ada saja mamak ganggu pengantin baru. Semoga nanti kalau aku sudah besar dan nikah tidak di ganggu sama mamak."Kata Parno, sambil ngintip pintu kamarnya dengan sedikit buka gordennya pintu.
...----------------...
Malam harinya setelah sholat isya, Jumadi mengajak istrinya tidur lebih awal. Biasanya aroma pengantin baru itu, sedang wangi wanginya. Bu irah dan Parno menoleh melihat arah Jumadi yang sedang berjalan ke kamarnya. Parno sedang belajar, yang kini ia masih sekolah duduk di kelas 3 SMP.
Bu Irah jalan ke dapur ia merebus pisang lalu membuat kopi dan teh. Setelah matang pisangnya, ia bawa ke ruang tamu. Dan segera memanggil Jumadi, tanpa istrinya.
"Jum jumadi,"panggil bu Irah.
"Ya mak," jawab Jumadi dari dalam kamar, yang kini sedang bermesraan dengan istrinya.
"Sini dulu dah,"katanya
Terpaksa Jumadi melepaskan pelukannya pada istrinya. Lalu ia menghampiri mamaknya, yang sedang memanggil dirinya.
"Ada apa mak?"tanya Jumadi yang menyingkap gorden pintu kamarnya.
"Sini mamak mau kamu temani ngopi."Dengan tanpa rasa bersalah pun, ia menarik tangan Jumadi menuju kursi tamu.
Mau tidak mau Jumadi memenuhi kemauan mamaknya. Karena sudah ada kopi di meja dan pisang rebus sebagai pelengkap. Akhirnya merek bertiga menikmati makanan yang ada di depannya.
Sarinem jenuh menunggu suaminya kalau begini. Ia memutuskan untuk tidur lebih dulu. sampai jam menunjukkan pukul 21:20 Jumadi pamit di kamar. Di susul Parno dan mamanya masuk kamar masing-masing.
__ADS_1
"Yah di tinggal...."
*****Bersambung...