
Pak Jumadi sudah tidak tahan dengan ucapan mamaknya yang sejak kemarin menjelekan istrinya. Dan sekarang menuduh yang bukan-bukan. Pak Jumadi bukan orang yang mudah di kompori. Tapi ia tidak akan bisa kehilangan anak dan istrinya. Apa yang di katakan istrinya memang benar adanya. Kalau dia tegas dari dulu mungkin dia tidak akan gagal menjadi orang tua. Pasti bisa melindungi perempuan yang ia cintai di rumah ini.
"Ya sudah kalau mamak tidak terima Inem, sebagai menantu mamak itu terserah. Sekarang apa yang mamak harapkan akan aku kabulkan. Supaya kalian tidak ada lagi yang merasa tertekan karena aku. Tapi kalau aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Mungkin itu yang akan membuat kalian akur. Karena tidak akan ada lagi yang harus di perebutkan." Kata pak Jumadi yang sudah tidak bisa berpikir jernih lagi.
Hanya satu yang ia pikirkan, sudah tidak sanggup menghadapi ketiga perempuan yang sangat ia cintai dan sayangi. Percuma saja ia berbicara panjang lebar, menasehati mereka. Karena memang ia yang salah dari awalnya, dan kali ini perempuan yang ia cintai pun sudah memilih mundur. Supaya bisa hidup tenang dan bisa melindungi anak-anaknya dari kekejaman neneknya.
"Maksud mu apa mas?" tanya bu Sarinem.
"Iya Jum opo(apa) maksud dari ucapan mu?"timpal Nenek.
"Aku capek! aku sudah tidak sanggup lagi menghadapi kalian yang tidak bisa akur. Bahkan tidak ada yang mau mengalah, kamu pengen berhenti kan? karena tidak lagi sanggup di sisi ku? Itu semua karena aku tidak bisa melindungi anak dan istri ku. Dan aku memilih diam, dari pada bertindak. Kalau aku di pilih hanya satu yang akan aku pilih. Silahkan kalian jalan di jalan masing-masing, mungkin setelah ini kamu bisa bebas dek. Tapi kalau harus pisah dari kamu ........" Menangis sambil berjalan mencari apa yang ada di otaknya saat ini.
"Kamu apa mas? yang jelas kalau ngomong aku gak ngerti." Bu Sarinem pun sambil mengikuti kemana suaminya berjalan.
Nenek pun ikut mengikuti anak dan menantunya. Sambil berpikir apa yang sedang di cari anaknya. Kenapa berjalan menuju ke gudang penyimpanan kopi yang belum giling. Dan barang-barang dan bahan pertanian, termasuk obat hama pestisida dan obat untuk rumput.
Anah mulai panik saat bapak terdengar mencari sesuatu di gunung. Yang berada di sebelah kamar Anah dan sebelah kamar orang tuanya. Kemudian Anah turun dari ranjang berjalan keluar dari kamar Monik.
__ADS_1
Monik dan Udin hanya menangis sesenggukan dan menatap Anah yang meninggalkan mereka untuk melihat orang tuanya. Secara perlahan pun Monik turun dari ranjang dan menuntun Udin. Menyusul Anah yang kini mulai berjalan menuju kamar orang tuanya. Karena keributan makin besar dan berbagai jeritan ibu dan neneknya.
"Apa yang kamu cari mas jawab! "bentak bu Sarinem yang mulai panik melihat gelagat suaminya yang tidak beres. Dan karena sudah tidak bisa menahan suaminya yang terus celingukan mencari sesuatu. Yang mengangkat beban botol obat pada kosong pun di lemparkan ke sembarang arah. Menarik tangan suaminya dan membalikkan badannya menghadap dirinya.
"Kamu usah tidak perduli kan aku dek. Aku gak sanggup lagi jangan halangi jalan ku. Awas minggir," mendorong istrinya hingga terjatuh.
Lalu berjalan menuju atas lemari yang terlihat ada sebuah botol kecil tergantung di tiang sudut kamar. Ya kamar pak Jumadi dan Anah hanya terbatas gudang tidak ada dinding tertutup. Karena baik pak Jumadi bisa ke kamar Anah melewati gudang, begitu sebaliknya. Walau kamar mereka memiliki pintu masing-masing.
Bu Sarinem terkejut dengan apa yang suaminya lakukan. Ia tidak pernah menyangka jika suaminya akan kasar pada dirinya. Melihat suaminya berjalan menuju lemari di mana ia menyimpan obat rumput itu. Supaya tidak bisa di jangkau Udin, yang masih kecil. Takut untuk mainan atau mungkin di minum oleh Udin. Sebab Udin masih kecil, maka ia atau orang dewasa harus hati-hati dengan obat tersebut.
"Apa yang kamu lakukan, untuk apa itu obat mas?!" teriak bu Sarinem, sambil menarik tangan, yang sudah hampir menarik plastik berisi obat tersebut.
"Minggir jangan halangi aku, biar aku m*ti saja."Teriak pak Jumadi sambil memberontak dari cekalan istri dan mamaknya.
"Sadar Jum, apa kamu sudah gak waras, hah?"tanya nenek sambil membantu menantunya menarik tangan nak un menjauh dari tempat itu.
"Aku sudah gak kuat Mak, kalau aku m*ti mamak dan inem tidak akan lagi pernah berantem. Dan mamak tidak lagi bersusah payah memisahkan aku dan Inem. Huhuhuhuhu sakit hati aku sakit...... Huhuhuhuhu Minggir biarkan aku m*ti....."
__ADS_1
"Gak mas apa kamu pikir kalau kamu m*ti kamu bebas dari masalah ini, hah? Apa kamu tidak pikirkan aku dan anak-anak, huhuhuhuhu aku gak mau mas kamu tinggal aku dengan cara ini. Huhuhuhuhu...."Bu Sarinem memeluk suaminya dan menangis sejadi-jadinya.
"Ya sudah sekarang kamu ambil pis*u atau g*lok biar aku m*ti dengan cara lain." Pak Jumadi saja dengan memberontak
"Gak boleh!"teriak Anah, bu Sarinem, dan nenek.
"BAPAK,"Teriak ke dua bocah di depan kamar.
Sementara ketiga perempuan kini berhasil menarik pak Jumadi keluarga dari kamar. Kini Anah memegang tangan bapaknya, dengan derai air mata.
"Huhuhuhuhu kalau bapak m*ti aku jadi anak yatim. Aku gak mau pak huhuhu, aku mau ikut bapak m*ti aja."Anah diam berpikir "tapi aku takut pak, nanti aku jadi kuntilanak lagi. Kan kalau bunuh diri gak masuk surga, ya Allah sadar kan bapak jangan sampai m*ti karena bunuh diri. Aku gak mau jadi anak yatim, aku gak bapak m*ti."Anah ikut memeluk bapaknya.
"Aku gak akan lakukan itu kalau kamu gak minta pisah dek. Aku gak sanggup menghadapi semua ini sendiri. Gak ada yang ngerti aku kecuali kamu, jangan tinggalkan aku dan anak-anak sendiri. Dan pergi tanpa pamit, aku gak sanggup dek sakit hati ini melihat kamu membenci ku."Kata pak Jumadi yang kini membalas pelukan istrinya.
"Iya mas maaf aku tidak mau anak-anak tersiksa lagi."Kata bu Sarinem.
"Mak, mamak jangan lagi lukai hati istri dan Anah. Kalau mamak masih ingin melihat aku hidup."Kata pak Jumadi sambil menatap wajah mamaknya yang kini menangis dalam diam.
__ADS_1
"Maafkan mamak Nem, maafkan nenek Anah." Yang kini memeluk Anah dengan erat.
*****Bersambung....