TAKDIR KU

TAKDIR KU
63.NASEHAT MBAH DARMI


__ADS_3

"Ini susu kaleng, gula dan teh mas, duitnya habis aku beliin semua. Terus yang buat makan juga habis tadi sisanya tak beliin rokok aku dan buat Sugi mas."Laporan Parno.


"Ya sudah gak papa, dah sana mandi."Titah pak Jumadi.


Pak Jumadi langsung membuka madu namun bingung ada ikatan karet. Akhirnya ia jalan menuju sumur, untuk bertanya pada Parno.


"Par itu yang di ikat karet apa maksudnya?"tanya pak Jumadi.


"Oh itu mas, yang di ikat madu hari ini. Kalau mau pakai yang tidak di ikat saja."Jawab Parno.


"Ya sudah."Hanya itu yang di katakan pak Jumadi.


Setelah selesai bertanya pak jumadi masuk lagi mengambil madu satu sendok makan dan di campur dengan cacing yang sudah haluskan Parno tadi. Bu Sarinem yang dari tadi memperhatikan apa yang di kerjakan suaminya pun bertanya?


"Mas itu madu di campur bubuk apa?"tanya bu Sarinem pada suaminya.


"Ini madu tak campuri cacing yang sudah di garang kering sama Parno."Jawab pak Jumadi.


"Ini berikan ke Anah ya dek, semoga ada kemajuan. Yang sabar kita rawat dia, semampu kita ya. Kalau bukan kita siapa lagi."Lanjut pak Jumadi.


Dan ucapan pak Jumadi, menyentil hati nenek. Yang sejak Parno pulang ia hanya diam dan mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari semua anak dan menantunya.


Bu sarinem yang mendengar ucapan suaminya, hanya faham jika bukan keluarga lalu siapa lagi. Karena ia benar-benar tidak faham apa yang di maksud suaminya. Karena yang tau warga sekitar dan pak Jumadi. Jika bu Sarinem tidak mendapat laporan atau melihat secara langsung. Maka tidak tau apa akan yang terjadi, pada putri sulungnya itu.


"Iya mas semoga allah beri yang terbaik, untuk anak kita. Aku ingin dia hidupnya lebih baik dari kita ya mas."Ya itu harapan orang tua agar anaknya hidup lebih baik dan tidak sengsara.


"Kita itu cuma manusia biasa dek, tidak tahu kelak anak-anak hidup nya menderita atau bahagia. Tapi mas yakin jika Anah dapat lolos dari semua ini. Apa pun itu yang di hadapi kelak, dia hadapi dengan mudah. Karena dia secara tidak langsung lolos ujian, yang kita tidak pernah jalani."Sambil memejamkan mata, ketika berbicara dan tangan sambil memeluk bu Sarinem. Karena ia tau jika istrinya sedang sedih melihat putrinya yang terbaring lemah.

__ADS_1


"Nah sudah adzan tu sholat yuk sayang biar nanti gantian ya." bu Sarinem mengangguk. "Susi tolong kamu jaga Anah, dipangku ya kepala Anah."Ujar pak Jumadi pada adik iparnya.


"Iya mas" Susi langsung berjalan menghampiri Anah, lalu ia naik ranjang dan segera mengangkat kepalanya Anah dengan perlahan.


Pak Jumadi dan bu Sarinem langsung menuju sumur untuk ambil wudhu dan segera sholat setelah Parno.


...****************...


Keesokan harinya tepat pukul 8 pagi, pak Jumadi kedatangan tamu yang sedang ia tunggu. Ya yang datang mbah Darmi, karena mbah sudah bilang akan datang pagi ini.


"Assalamualaikum."Ucap mbah Darmi.


"Wa'alaikumsalam."Serentak jawab semua yang ada di ruang tamu.


"Ini yang sakit?"tanya mbah Darmi langsung duduk di dekat bu Sarinem. Memang bu Sarinem duduk dekat Anah karena baru memberikan madu yang di campur bubuk cacing tanah.


"Iya mbah,"jawab bu Sarinem.


"Ngeh mbah saya Jumadi, dan ini ibunya Sarinem."Jawab pak Jumadi sambil menyalami mbah Darmi dan merangkul pundak bu Sarinem.


Bu Sarinem tersenyum walau terpaksa, karena tidak mungkin ia murung terus.


"Sabar nduk, perbanyak doa. Karena doa ibu itu lebih mujarab, dan obat untuk anak yang langsung meresap masuk pada anak." Nasehat mbah Darmi pada bu Sarinem, karena melihat wajah bu Sarinem.


Siapa pun seorang ibu pasti akan selalu memikirkan anaknya, bahkan tak jarang seorang ibu tidak bisa makan dan tidur jika melihat buah hatinya terbaring lemah.


Kalau jaman sekarang bisa di bilang Anah koma, atau kalau berada ICU karena tak sadarkan diri. Bahkan nafas yang lemah, sudah pasti di bantu dengan oksigen. Dan pasti segala macam alat menempel padanya.

__ADS_1


"Ngeh mbah insya allah, saya lagi belajar menghadapi ini."Kata bu Sarinem.


"Ini sudah di kasih apa aja lee?"tanya mbah Darmi, saat di meja ada berbagai gelas dari isi berbagai warna.


"Ini saya buat perasan daun pepaya, madu yang saya campur bubuk cacing tanah. Dan untuk minum air putih hangat, dan susu hangat, dan teh manis. Di selang-seling aja mbah setiap satu jam, biar bocahnya ada yang di serap oleh tubuhnya. Dan juga obat yang dari dokter tetap saya beri kan."Jelas pak Jumadi.


"Oh ini sudah dapat obat tradisional juga dapat dari mana nak, mbah bantu apa lagi ini?"tanya mbah Darmi, karena ia selain tukang urut, ia juga tabib. Mengobati orang dengan tumbuhan obat tradisional Indonesia.


"Saya hanya tau dulu bapaknya istri, kalau mengobati orang yang kena malaria atau tipes itu daun pepaya. Dan tipes ada cacing tanah juga, karena saya yang mencari. Salahnya saya tidak minta warisan itu dari bapak."Jawab pak Jumadi dengan menunduk.


Karena ada penyesalan di mana, almarhum bapak mertua masih hidup tidak minta itu. Setidaknya ia bisa gunakan, ketika keluarga ada yang sakit. Karena berbagai penyakit, pasti bapaknya bu Sarinem lah yang di cari.


"Eh tak kira mas ngerti dan bapak kasih itu ilmu pada mas. Karena..... mas bisa memberikan pada Anah mas."Hampir saja bu Sarinem keceplosan.


"Gak dek itu mas cuma ngapalin, apa yang di suruh bapak pas mas ikut aja."Jawab pak jumadi.


"Ya sudah apa ada kunyit, kamu cari atau beli dari siapa yang punya atau beli di pasar. Kunyit di parut dan campur air hangat peras, bagi dua. Untuk obat panas dan tambah darah."


"Obat panas; itu perasan kunyit campur madu."


"Obat tambah darah; perasan kunyit di tambah kapur sirih. Kalau yang buat tambah darah, berikan pagi hari sebelum makan itu akan lebih bagus. Biar seimbang dengan daun pepaya itu. Akan mempercepat proses penyembuhan dan pemulihan nduk Anah."Tutur mbah Darmi.


"Oh kalau kunyit, jahe, temu lawak, temu item, lempuyang, saya nanam bah di samping rumah. Apa untuk obat panas bikin sekarang mbah?"tanya pak Jumadi dengan cepat.


"Boleh. Nanti kalau sudah sadar boleh bikin kunyit, temu lawak, lempuyang. Biar nduk Anah doyan makan, dan cepat gemuk, pasti lucu kalau gembul. Karena kalau gak salah mbah pernah lihat nduk Sarinem di rumah almarhum Jamal."Mbah Darmi memastikan pada bu Sarinem.


"Mas Jamal, mas pertama saya mbah."Jawab bu Sarinem.

__ADS_1


Oh alah. jadi kalian masih saudara Jamal to. dari tadi...."


*****Bersambung...


__ADS_2