TAKDIR KU

TAKDIR KU
106.AKU MAU MONDOK


__ADS_3

Setelah matang sayur bening pepaya muda, ia dan Parno langsung makan lebih dulu.


Selesai mereka membawa piring masing-masing menuju kamar masing-masing pula.


Pak Jumadi mengurus anaknya, menyuapi dan memberikan obat penurun panas.


Parno menyuapi mamaknya, dan menyiapkan obat yang dari dokter kemarin.


Setelah selesai dengan tugas masing-masing, lelaki kakak beradik itu kembali ke kamar tadi. Lanjut dengan mengistirahatkan tubuh yang lelah, seharian tanpa istirahat.


...****************...


Lima hari kemudian, Anah sudah lebih baik. Karena Anah juga sudah di bawah ke dokter mantri kampung.


Siang hari Anah ngobrol dengan bapaknya, di saat Nenek lagi pergi entah kemana.


Tapi di depan rumah ada padi di jemur, sudah pasti saat ini musim panen padi.


Pak Jumadi ada di rumah, karena Anah tidak mau di tinggal. Sebab Anah ingin selalu bersama bapaknya.


Pak Jumadi pun mau tidak mau di rumah, untuk menemani Anah. Mau di ajak ke sawah tidak mungkin, karena Anah masih butuh istirahat yang cukup.


Pak Jumadi merasa jenuh, badannya terasa kaku. Biasanya ia selalu bekerja, kini cuma duduk menjaga padi yang sedang di jemur. Supaya tidak berantakan karena ulah hewan kaki dua, yaitu si ayam.


"Pak besok hari apa?"tanya Anah pada bapaknya.


"Hari Senin, kenapa?"tanya balik pada Anah.


"Ya ampun aku ketinggalan pelajaran banyak banget. Bagaimana mana kalau aku tidak bisa naik kelas pak."Keluh Anah.


"Karena sakit pasti di maklumi, tapi kenaikan kelas masih lama nduk."Kata pak Jumadi.


"Bapak pikir aku ini kelas satu, pelajaran nya juga mudah di hafal. Ini kelas 4 pak, pelajaran nya itu sudah. Aku minta ajari lek Par, malah tidak benar semua. Aku malah dapat nilai, telur ceplok mata sapi. Aku di kelas 4 ini sering kali dapat telur, bebek, burung. Itu aku merasa malu, aku rajin sekolah bukan pinter tapi malah bodoh. Pokoknya kenaikan kelas nanti aku mau pindah sekolah aja."Celoteh Anah, panjang lebar pada bapaknya. pundaknya Anah dan berkata.


Ya Parno memang sekolah lulusan MAN. Berbeda kurikulum dengan Anah, bagi Parno pelajaran anak sekarang lebih susah.


Pelajaran yang lain masih bisa, namun jika itu matematika. Anah selalu mendapat nilai 3 ke bawah bahkan sering dapat nilai 0, sering di sebut telur ceplok mata sapi.


"Kalau mau pindah perbaikan nilai kamu. Supaya nanti kamu bisa di terima di sekolah sana seperti Monik. Karena kalau murid pindahan di sana harus bagus nilai nya."Ucap pak Jumadi, niatnya untuk menyemangati Anah.


Tapi tidak bagi Anah setiap orang yang mengucapkan sesuatu padanya. Itu setiap ucapan adalah janji, jika suatu saat tidak ia dapat kan. Maka itu akan menjadi masalah besar bagi Anah atau bapaknya.


"Ya nanti aku akan belajar yang rajin lagi, supaya nanti aku bisa naik kelas 5. Dan nanti aku bisa naik kelas 6, lalu lulus Mak aku bisa lanjut."Celoteh Anah dengan riang dan antusias.


"Emang kamu mau lanjut sekolah SMP, SMA, SMK, apa mau mondok?"tanya pak Jumadi, sedikit ragu akan pertanyaan nya sendiri.


Anah mendengar pertanyaan bapaknya sangat antusias, tapi tidak melihat muka bapaknya. Jadi dia menganggap itu serius, dan di anggap sebuah dukungan dari bapaknya.


1"Aku mau mondok aja pak, kan aku sudah bisa masak dan lain sebagainya."Jawab Anah dengan semangat 45.


"Boleh kan pak kalau aku mondok aja?"tanya Anah dan menoleh menatap bapaknya.


"Iya, memang sudah yakin mau mondok gak SMP negeri saja? di sana paling dekat SMP negeri?"tanya pak Jumadi untuk memastikan.


"Iya aku ingin bisa ngaji Al Qur'an dan menghafal kayak pak ustadz Musa dan mbak Salimah."Jawab Anah.

__ADS_1


"Ya sudah itu di pikirkan nanti. Ini sudah zhuhur bapak mau sholat ya. Kalau kamu sudah lapar, makan biar cepat sembuh."Ujar pak Jumadi, langsung beranjak pergi ke kamar mandi.


"Iya pak, aku mau makan sudah lapar."Ucap Anah dan langsung pergi ke dapur mengambil makan. Walau masih lemas tapi tidak mau lagi makan di ambilkan atau disuapi.


Beberapa menit kemudian pak Jumadi, menyampaikan bahwa dirinya hari rabu akan kembali ke pegunungan. Anah tidak masalah asalkan beberapa hari ini pak Jumadi mengajaknya ke manapun setelah pulang sekolah.


"Ya sudah gak papa, tapi bapak besok mau kemana?"tanya Anah.


"Mau ke sawah yang belakang rumah mbah Rom."Jawab pak Jumadi.


"Nanti aku nyusul ya, aku juga sudah lama belum ke sana. Apa nenek juga lagi di sawah itu untuk panen padi?"tanya Anah.


"Ya lagi panen di bantu lek Parno dan Yanto dan Jono."Jawab pak Jumadi.


"Oh ya sudah. Aku mau tidur ya pak."Ujar Anah.


"Loh baru naruh piring, gak baik langsung tidur. Katanya mau dapat nilai bagus, belajar yang rajin. Supaya bisa mengejar pelajaran yang tertinggal." Ujar pak Jumadi pada Anah supaya tidak tidur setelah makan.


"Siap pak guru."Ucap Anah dengan memberikan hormat bapaknya.


Segera Anah menuju ke kamar dan mengambil buku pelajaran dan belajar.


...****************...


Keesokan harinya, sepulang sekolah Anah makan terlebih dahulu.


"Nenek aku menyusul bapak ya."Pamit Anah pada neneknya.


"Iya, hati-hati kamu itu masih lemas, apa gak sebaiknya di rumah istirahat?"tanya Nenek.


"Kemarin bapak bilang boleh kok nyusul ke sawah."Ujar Anah.


"Ya wes kalau begitu,"Ujar Nenek, sudah tidak bisa melarang Anah.


Nenek pun merasa lega karena Anah pergi sudah ada izin dari bapaknya.


"Ya nek aku berangkat ya, assalamualaikum,"ucap Anah langsung jalan ke sawah.


Sepanjang perjalanan Anah bernyanyi dengan riang gembira.


......................


Disini senang disana senang


Dimana-mana hatiku senang


Dirumah senang sekolah senang


Dimana-mana hatiku senang


Disini senang disana senang


Dimana-mana hatiku senang


Disekolah senang bermain senang

__ADS_1


Dimana-mana hatiku senang


Lala lala


Lala lala


Disini senang disana senang


Dimana-mana hatiku senang


Dirumah senang sekolah senang


Dimana-mana hatiku senang


Disini senang disana senang


Dimana-mana hatiku senang


Disekolah senang bermain senang


Dimana-mana hatiku senang


Lala lala


Lala lala


Lala lala


Lala lala


Lala lala


Lala lala


Lala lala


Lala lala


......................


Tidak terasa Anah sampai di sawah, di mana pak Jumadi lagi menyiapkan bibit padi yang akan di tabur.


Pak Jumadi melihat ke datangan Anah, dengan bernyanyi. Ia tau jika suasana hati anaknya lagi senang.


"Bapak lagi mau tabur bibit ya?"tanya Anah.


"Iya, kamu memang sudah gak pusing jalan jauh-jauh?"tanya pak Jumadi.


"Sudah nggak pak,"jawab Anah.


Anah berjalan di pinggir genangan air yang kedalamannya sekitar sepinggang orang dewasa. Namanya rawa pasti dalam yang bagian lumpur.


"Bapak....."


*****Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2