TAKDIR KU

TAKDIR KU
43.PUTRI SUKA NYONTEK


__ADS_3

"Adek mas berangkat ya, kamu hati-hati di rumah."Parno pamit dan tak lupa mengingatkan istrinya.


"Iya mas, mas juga hati-hati ya,,"kata Susi.


"Pak saya berangkat, assalamualaikum."Pamit Parno pas ketemu di ruang tamu.


"Iya nak hati-hati, wa'alaikumsalam." Kata pak Iman.


Parno menyusuri jalan menuju rumah kakaknya. Hari ini jalanan sangat ramai, banyak orang berlalu lalang hendak ke pasar. Ya hari ini ada pasar yang jadwalnya seminggu sekali. Letak pasarnya di kampung sebelah. Ada dua kampung, ketempatan pasar kaget ini. Masyarakat tinggal pilih mau pergi di hari senin atau rabu. Di sini Parno belum banyak yang mengenal. Jadi sapaan pun cukup dengan senyum, tidak ada kata-kata, kecuali sudah kenal.


"Kang Par mau kemana? jalan aja sepedanya ke mana?"tanya Tatang.


"Oh ini mau ke rumah masku, kamu mau ke pasar ya Tang?"parno balik tanya.


"Iya nih, yok ah dah siang,"kata Tatang.


Kamu berangkat habis subuh pasti gak siang tang, tapi pagi."Sambil senyum.


"Ah betul juga, aku cuci popok bayi dulu tadi kang, makanya berangkat siang."Kata Tatang.


"Oh ya, berarti istrimu sudah lahiran ya? laki apa perempuan?"antusias Parno saat tau teman berbahagia.


"Iya kang Par, dua hari lalu istriku melahirkan, perempuan kang. Lah istrimu sudah isi belum kang par?"tanya Tatang.


"Alhamdulillah sudah isi, baru jalan tiga bulan."jawab parno.


"Wah topcer juga kamu, kalau aku dulu kosong setahun. Selamat ya kang, semoga sehat selalu istri dan janinnya."Terlontar doa dari Tatang.


"Aamiin, terima kasih doanya. Selamat juga untuk mu sudah jadi bapak."Kata Parno. mereka saling menjabat tangan. Lalu melanjutkan perjalanan mereka masing-masing.

__ADS_1


Jam 09:50 pak Jumadi sudah ada di halaman sekolah. Membayar SPP Anah dan sekalian jemput Anah. Kini pak Jumadi sedang menunggu Anah di teras ruang TU. Suara berisik Anah dan teman temannya berlarian keluar kelas.


"Anah itu bapak mu jemput,"kata Angga sambil menunjuk ke pak Jumadi.


"Oh iya. Ah lumayan aku gak jalan.. BAPAK...."Teriak Anah, sampai semua mata menatapnya. Bahkan guru yang kelas 3 sampai terkejut.


"Astaghfirullah..."Ucap bu Risa. lalu menggelengkan kepalanya, dan melanjutkan mengajari muridnya.


Sampai di depan bapak bergelayut manja di pelukan hangat bapaknya.


"Kenapa harus teriak-teriak?"tanya pak Jumadi


"Seneng aja bapak ada di sini."Kata Anah dengan muka berbinar.


"Halah dasarnya centil, tadi udah bikin putri nangis lek."Adu Johan.


"Itu lek, si putri nilai dapat telur ceplok (nol), kalau anah dapat nilai 8. Nah Anah kan duduk di depan Putri. Putri terus di ledek jadi nangis deh lek."Penjelasan dari Johan.


"Anah, kalau teman Anah tidak bisa, tidak boleh di ledek. Kalau Anah tidak bisa ajari diam."Petuah pak Jumadi untuk Anah.


"Aku kesal pak, Putri sering tanya aku, kalau gak Putri suka nyontek. Tapi giliran aku gak bisa, dia bisa gak tau bisanya dari mana. aku tanya, dia bilang kalau aku tukang nyontek. Tadinya aku duduk dengan dia, dari kemarin aku usir aja. Kan dulu aku yang ajak dia, sekarang aku duduk sama Wati. Aku gak suka dengan orang nakal pak."Penjelasan Anah.


"Oh begitu, tapi besok-besok tidak boleh begitu lagi. Anah harus jadi anak baik, gak boleh nakal ya."Kata pak Jumadi.


"Iya pak. Pak ayo pulang aku mau main sama adek."Sudah malas bahas apa pun.


"Angga lek Jum duluan ya."Kata pak Jumadi


"Anah langsung naik ke sepeda, melambaikan tangan pada Johan dan Angga.

__ADS_1


"Cuma beberapa menit sampai rumah Anah langsung berganti baju. Setelah itu ia main sama adiknya. Pak Jumadi pergi ke sawah dengan membawa bekal untuk yang kerja dan mamaknya. Bu sarinem tugas jemur padi dan menjaga anak-anak walaupun mereka sudah bisa main sendiri.


"Ibu apa tadi tempenya sudah di beli?"tanya anah.


"Sudah cantik, bahkan ibu sudah sayur santan sebagian. Memang Anah lapar? mau makan?"tanya ibu.


"Aku pengen di buat orek bu bukan di sayur santan."Kata Anah dengan bibir manyun.


"Eh malah manyun, ibu tidak masak semua anah, boleh masak nanti mau lihat lah. Ibu tidak pernah bikin nanti kalau Monik mau ibu bisa buatkan." Pura-pura tidak tahu.


"Hehehehe ayo bu kita buat tempe orek,"sambil menarik tangan ibunya, berjalan ke dapur. Monik mengikuti dari belakang Anah dan ibunya.


...****************...


Di sebuah desa yang sejuk, dan terkenal perkebunan kopi. Yaitu kakak dan kakak iparnya bu Sarinem.


"Bu si Jumadi itu kan lagi pulang kampungnya. Setelah panen padi, apa mungkin sebagai berasnya buat bi Irah sama anaknya yang gede."Pak Harto menerka-nerka


"Lah si Inem cerita di sana dia punya sawah setengah hektar pak. Dan ladang lagi di tanami wijen sama jagung, singkong. Dan ladang itu gandeng dengan sawah. Kalau rumah dia sudah pindah dia kan ikut mas Jamal. Mas jamal di pedesaan soalnya di daerah ladang itu seperti yang di tempati Jumadi sekarang. Sangat jarang ada rumah seperti yang tanah pemerintah itu."Jelas bu Parti.


"Wah itu berarti Jumadi bukan cuma merantau bu, tapi mencoba keberuntungan. Disini kita yang paling kaya, yang ke dua Yatno. bisa jadi nanti dia yang menduduki wilayah sini. Sekarang dia tidak cuma garap kebun kita tapi kebun Yatno juga. Bisa jadi panen nanti dia bisa beli pekarangan rumah di sini. Apalagi dia sekarang dikenal banyak orang. Itu juga karena Yatno suka ajak dia pasang tenda, tempat penganten atau sunatan."Mengatakan apa yang ada di hatinya pada istrinya. Ia memang tidak suka dengan orang bahagia, atau lebih sukses darinya.


"Terus gimana pak, Jumadi sudah terlanjur garap itu kebun kita?"tanya bu Parti.


"Kamu yang harus bisa lebih unggul dari Inem. Kamu tau sendiri dari masih kecil dia itu sudah pamor. Bukan tidak mungkin kan, sekarang kamu di desa ini kalah pamor. Mantan istri ku saja bisa kamu tumbangkan dari ketenaran yang terkenal cantik di mata semua laki-laki."Kata pak Harto.


"Memang dari kecil Inem itu paling di kenal banyak orang pak. Itu juga karena dia selalu ikut bapak ke mana saja. Terutama ikut bapak ngobatin orang yang sakit atau pun yang patah tulang. Pasti jauh pun si Inem di bawa, tapi kalau minta ikut dan nangis. Anak kesayangannya bapak Inem, Atun itu kesayangannya simbok, sama kesayangannya Jumadi. Tak kira dulu Jumadi kemana-mana bawa Atun, mau nikahin Atun. Dan ternyata bapak sudah pilih Jumadi jadi suami Inem.


*****Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2