TAKDIR KU

TAKDIR KU
36.SEGEROMBOLAN BABI HUTAN


__ADS_3

Pagi hari anah berangkat sekolah bareng pak lek dan bibinya. Begitu sampai ia segera masuk ke dalam kelas, karena sudah bel. anah meletakkan tas di meja segera ia ikut berbaris. setelah membaca doa maka semua murid masuk kelas.


pagi anak anak?"sapa bu ega.


pagi bu guru" jawab para murid.


hari ini kita belajar menggambar dan mewarnai"ujar bu ega.


iya bu, tapi gambar apa Bu?"tanya salah satu murid bernama Joko.


bebas kalian mau gambar apa? yang pasti bagus ya.


kebetulan hari sabtu, anak yang senang bersemangat yang tak suka malas jika ada pelajaran ini. anah sangat senang, Bakan dia membuat rumah di tengah sawah yang baru di tanami padi. Di bagian halaman ada ayam, bebek, dan bunga bunga. Hanya anah yang menggambar rumah, yang lain gambar hewan dan bunga.


Ayo yang sudah boleh di kumpulkan di meja ibu."ujar bu ega


semua buku gambar sudah ada di meja Bu ega menilai satu persatu. tersenyum ketika melihat milik anah komplit.


Anah ini gambarnya bagus, kenapa tidak di gambar sapi atau kerbau, kambing juga boleh."memberi masukkan pada anah.


itu anah belum bisa bu buat hewan kaki empat, bisanya hewan kaki dua saja."kata anah.


Ini sudah sangat bagus anah, kalian tau ini gambar milik anah"sambil menunjukkan gambar ana pada semua murid"anah belajar gambar sama siapa kalau di rumah?"tanya Bu Ega.


Anah kalau gambar cuma di sekolah bu."Jawab anah dengan cepat.


Oh ya wah ini kalau ibu perhatikan anah lebih suka menggambar gedung, pemandangan, dari pada yang lain."kata bu ega.


Anah lebih suka gambar itu bu."jelas anah.


Ya anah paling suka gambar rumah, sekolah, dan pegunungan. Jika di tanya apa cita-cita nya di hanya menggeleng sebagai jawaban.


karena memang dia bingung apakah dia bisa menggapai cita-cita. bingung menghadapi nasibnya sekarang, hampir setiap hari ia main saja hanya di sekolah. Itu pun waktu jam istirahat saja, ia merasa hampa.

__ADS_1


*******


pulang sekolah anah makan lalu ia nyusul neneknya ke sawah. jarak tempuh sekitar setengah jam dari rumah dengan berjalan kaki. Anah butuh keberanian untuk pergi ke sawah. setiap berangkat anah menyebrang jalan raya, tepat di depan rumah angga. karena sebelum sampai depan rumah angga anah bisa lewat halaman rumah tetangga, kurang lebih 10 rumah. jarak rumah ke rumah 50-100 meter. setelah sampai rumah angga ia melewati jalan setapak yang hanya ladang sungai dan sawah. tak ada rumah, dan jika tidak ada barengan sama orang. yang berangkat ke ladang atau sawah, maka anah hanya sendiri. itu anah tempur tak sampai setengah jam. karena anah jika sudah sampai jalan setapak ia berlari sekencang mungkin. karena ada rasa takut yang ia rasakan, takut akan orang jahat.


An, kamu mau ke sawah lagi,"tanya Imah sepupunya.


Iya mbak" Jawab singkat.


dari kemarin aku lihat kamu ke sawah sendiri terus berani?"tanya lagi.


Beranilah mbak, aku pemberani."kata anah menyembunyikan rasa takutnya. karena tak ingin di pandang lemah sama orang lain.


Nanti kalau ketemu kang puji gimana emang berani?" kata Imah, yang tau kalau anah paling takut dengan yang namanya puji. yang memang seneng lihat anah yang menangis.


ya aku tinggal lari yang kenceng terus teriak minta tolong!"bantah anah jika ia merasa takut juga.


Dah ah mbak aku mau berangkat nanti nenek ngoceh lagi."kata anah menyudahi obrolannya.


Iya ya lah aku bangun sendiri masak di bangunin sama kodok."sahut anah, sambil berjalan meninggalkan Imah.


setelah jauh dari rumah Imah langsung berlari sampai di tepi sungai ia berhenti. Dan segera melepas sendal dan menyebrang sungai setelah itu langsung lari lagi. berjalan di pinggir sawah, anah waspada matanya menatap jalanan dengan tajam. ya apalagi yang di takut jika bukan ulat bulu, yang suka ada di rumput. anah akan senang jika tak ada, bintang menjijikkan itu, mending ana di suruh cari cacing. hingga sampai di sawah dia langsung ke gubuk, minum dan duduk bersandar ke tiang gubuk. lelah?ya pasti di usia ini tidak ada yang kerja keras seperti anah. mereka menikmati masa anak anak, kalau pun ada tak mungkin full time.


ada tiga tali yang harus di jaga berbeda-beda tempat. sedangkan nenek sudah pindah ke ladang, harus babat rumput di ladang. hari hari di musim padi siap panen ya begitu.


********


Di tempat lain lagi panen padi dan akan berbagi hasil padi.


mas ini kan kita sudah panen, kapan kita pulang kita tengok anah ya mas?"ajak bu sarinem.


ya nanti Ita tengok anah." jawabnya santai


mas kok santai sih emang gak kangen ya sama anak."tanya bu sarinem.

__ADS_1


siapa bilang? aku lagi kangen dia, kalau mas gak ajak adek pun. mas kangen ke dia dari pada adek"kata pak Jumadi, sambil menahan senyum.


Oh ya aku gak di kangenin ya" manyun sudah tu bibir bu sarinem.


Bercanda, gitu aja manyun sih."menarik pundak bu sarinem, lalu mencium keningnya.


Dek kita sudah bisa bikin kuping satu lagi, siapa tau laki laki."kata pak jumadi.


mas kalau di pikir pikir kita membuat anak di desa berbeda beda ya mas."kata bu sarinem.


ya tidak apa-apa lah asal jangan bapak atau ibu yang berbeda."celetuknya asal" mau kan dek? jadi tidak minum lagi obatnya." lanjutnya.


nanti di sini dukun bayi jauh gak ya mas?"tanya bu sarinem, berpikir untuk masa melahirkan nanti bagaimana.


nanti kita tanya sama mbak parti."jawab pak jumadi.


mereka asyik ngobrol di kaget kan oleh Monik, yang berteriak ketakutan.


BAPAK...."teriak Monik.


sepasang suami istri menoleh, dan betapa kagetnya dengan cepat pak jumadi meraih anaknya. mereka di dikagetkan dengan segerombolan babi hutan. kurang lebih ada 3 ekor, yang besar dan 4 ekor yang kecil. untuk masih bisa selamat dari gerombolan babi hutan itu.


ketika monik sedang main, di bawah pohon rambutan. ada suara gemuruh, monik menoleh, panik dan ketakutan harus gimana. hanya ingat bapak, dan hanya bisa berteriak bapak. posisi pak jumadi dan monik berjarak tiga meter. sementara jaraknya dengan Monika kurang lebih 5 meter. memang di perkebunan yang di garap pak jumadi masih banyak babi hutan berkeliaran. tak jarang pula merusak tanaman yang di tanam si pemilik kebun. karena kebun yang di garap pak jumadi dekat dengan hutan.


Alhamdulillah ya Allah, masih di lindungi"pak jumadi dan bu sarinem mengucap syukur, sambil memeluk monik. yang mana nafas mereka masih memburu, karena terkejut.


sudah gak papa ya, lebih baik kita pulang dulu sholat dhuhur."ujar pak jumadi.


Iya mas"


Iya pak"bu sarinem dan Monik bersamaan.


*****Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2