TAKDIR KU

TAKDIR KU
20.MENDAFTAR SEKOLAH


__ADS_3

"Ada apa sama anah warto?" tanya pak Jumadi bertanya pada Warto.


"Ini lek Anah di jahili sama Johan dan Angga."Jawab Warto


Anah lalu lari ke arah bapaknya dan mengadukan Angga dan Johan.


"Pak tuh Johan sama mas Angga nakal"Adu Anah pada bapaknya.


"Oh ya, nanti bapak ajak bapaknya Johan, untuk bapak sunat." hibur pak Jumadi.


Sudah jangan nangis ya, nanti anak bapak gak cantik lagi kalau nangis."Rayu pak Jumadi, agar Anah tak lagi menangis dan mau main lagi. "Sekarang main lagi ya, Johan, Angga main jangan jahil ya."Kata pak Jumadi,pada Johan dan Angga.


"Iya lek"jawab mereka berdua kompak.


"An, mas minta maaf ya?"ucap Angga


"Aku juga minta maaf ya?"Johan juga meminta maaf pada Anah.


Anah mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


Mereka pun main lagi bersama, kadang masih saja Angga dan Johan jahil. Karena bagi mereka tidak seru kalau Anah tidak kesal dam nangis.


...****************...


Tiga hari kemudian pak Jumadi mengajak Anah ke sekolah. Karena pak Jumadi mau mendaftarkan Anah sekolah.


Ada antrian beberapa para pendaftar, mereka sambil berbincang sedikit. Di antrian itu juga ada orang tua Johan dan Angga. Usia Angga dan Johan di atas Anah, selisih hampir satu tahun. Di sini Angga yang paling tua di antara mereka, Anah yang gak bisa diam pun mengajak Angga tapi tak mengajak Johan. hal itu membuat Johan kesel.


"Mas yok kita keliling lihat kelas, tar kita di kelas mana ya."Kata Anah, dengan antusias sambil menggandeng tangan Angga. Yang melihat itu akan berpikir mereka cocok kelak dewasa menjadi jodoh. Padahal mereka saudara, tak mungkin bisa menjadi jodoh.


"An aku gak di ajak" teriak Johan, itu menghentikan langkah Anah dan Angga.


Anah membalikkan badannya dan berkata "gak ah males sama Johan weee" jawab Anah sambil menjulurkan lidahnya.


Para orang tua yang menyaksikan itu berkomentar.


"Mereka tidak ada tidak debat setiap hari." Kata pak Rudi, bapaknya Johan.


"Angga juga kadang suka jahil sama Anah. Tapi dia selalu merindukan Anah, andai bukan keponakan, besar nanti tak jadikan mantu Anah."ujar bu Marni.

__ADS_1


Kemarin mereka berdua juga yang bikin Anah nangis. Anah yang pobia dengan ulat, otomatis kejer." Kata pak Jumadi.


"Aku juga gak tau kenapa itu Johan, kalau sama Anah begitu. Sama anak lain biasa aja gitu, kadang lagi nonton TV juga ada aja yang di lakukan Johan."Kata pak Rudi.


Tapi kalau di lihat lihat Warto itu selalu jadi penengah dan pelindung Anah. Sepertinya nanti kamu besanan sama bu Kokom Jum." kata bu Mirna.


"Mbak merhatiin mereka to, memang kalau di lihat, Warto ada rasa berbeda. Cuma aku perhatikan ajak, nama masih pada bocah lain kalau udah pada dewasa mbak, belum tentu nanti. Warto juga nanti kalau sudah sekolah lanjutan, banyak temen juga bisa berubah."Ujar pak Jumadi.


"Nah bener tu, biasanya cinta anak remaja bisa berubah."Timpal pak Rudi


"Ya juga, bukan jamannya kita dulu, jodoh di pilihkan orang tua. Faktanya Kanti di pilihin sama mas Jamal. Dan sekarang jadi janda kembang, aku kasihan setelah bapaknya ninggal dia milih jadi janda."Kata bu Marni.


Pak Rudi yang penasaran pun tanya "mbak memang apa kurangnya suaminya. Ku lihat dia ganteng,baik, ramah,sayang mertuanya, dan mapan lagi?"tanyanya pak Rudi.


Sebenarnya aku kasihan sama mantuku. Tapi gimana lagi Kanti juga pengen bahagia, punya anak. Lah ini mantu gak bisa bangun, gimana anak ku mau punya anak. Ya Kanti bilang kalau cuma gak bisa punya anak. Dia bisa terima, la ini apa yang bisa dia rasakan. Rumah tangga banyak yang langgeng walau tak punya anak. Tapi masih bisa di nikmati, anak bisa angkat anak dari orang lain. Masak ia ke nikmatan dia cari sama orang lain. Ya ada dosa kemana mana, ya to."Jelas bu Marni


Masak mbak gak bangun tu burung?"tanya pak Rudi tak percaya.


Bu Marni hanya mengangguk.

__ADS_1


Kakaknya Angga Kanti pergi ke Jakarta, setelah perceraian dengan suaminya.


****Bersambung....


__ADS_2