
Setelah selesai daftar sekolah, pak Jumadi dan istrinya pergi ke pasar naik sepeda. Rencana mereka membeli perlengkapan sekolah anah, dari seragam, sepatu, tas dan alat tulis. Tas merah dan sepatu hitam, tapi dapat protesan dari Anah.
"Ibu kenapa sepatu hitam aku mau yang merah bu."Kata Anah
"Anah kemarin waktu daftar sekolah kamu gak denger guru bilang apa?"tanya ibu Inem.
"Dia mana dengar, dia kemarin keliling sekolah, katanya biar nanti gak nyasar."Kata pak Jumadi.
"OOO pantas saja dia gak tau, dia kelayapan."Celetuk Nenek.
"Iih aku gak kelayapan Nek. Aku cari tahu kelas untuk kelas satu itu di mana."Jawab Anah.
"Harusnya kamu pergi keliling itu kalau sudah selesai sudah selesai."Kata Nenek, dengan maksud menasehati cucunya.
"Sudah gak papa, yang penting kita gak salah beli. Yang gak bagus kalau pakai sepatu salah pas sekolah to."Pak Jumadi.
"Ingat Anah, kalau nanti bapak dan ibumu gak di rumah kamu harus nurut apa kata Nenek.
Kalau ada pengumuman sekolah, kamu jangan ngayap ya. Nenek ini bodoh dan dah tua, suka lupa."Alasan Nenek, agar Anah tak membantah lagi. Dan itu jitu banget, Anah diam, tak lagi menjawab.
"Bisa-bisa aku di ledekin sama mas Angga dan Johan kalau sampai ada kesalahan di sekolah."Kata Anah, dalam hati berpikir bahwa nanti bakal di tertawakan.
__ADS_1
"Sudah ini di coba dulu sepatunya kegedean apa kekecilan." Kata pak Jumadi.
"Iya pak"jawab Anah, lalu mencoba sepatunya.
"Yah pak masih kegedean nih."Kata Anah
"Ya gak papa kalau terlalu ngepas nanti cepat sempit An."Kata ibu Inem
"Iya cah ayu."Kata pak Jumadi.
"Oh gitu ya."Kata Anah
"Ibu kenapa aku cuma sepatu aja, kenapa aku gak di Beliin baju kaya mbak Anah?"tanya Monik
"Tapi aku mau pakai baju kaya mbak Anah bu."Rengek Monik.
"Kamu belum sekolah, umurnya belum cukup. nanti kalau sudah sekolah pakai baju seperti ini juga dek."Bu Inem memberi pengertian pada Monik.
Kapan Monik sekolah bu," tanya Monik
"Nanti kalau umurnya sudah enam lebih sekarang baru 5 tahun lebih"Jelas bu Inem.
__ADS_1
"Anah sekolah yang rajin ya, belajar supaya pinter terus naik kelas dua. Kalau ada PR, kalau gak bisa minta ajarin lek Parno ya."Nasehat bu Inem.
"Kenapa lek Parno bukan ibu atau bapak aja?"tanya Anah
"Karena yang ada di sini cuma lek Parno sama Nenek. Kalau pak gak bisa minta bantuan lek Warto ya." Kata bu Inem.
"Emang bapak dan ibu mau kemana kok gak ada?" tanya Anah lagi.
"Kan bapak ibu sama adek mau balik lagi cari duit buat sekolah Anah. Dan mau kumpulin duit buat sekolah adek juga. Anah kan udah sekolah, harus bayar sekolah kalo gak punya duit. Nanti Anah gak boleh sekolah lagi sama pak kepala sekolah. Anah mau sekolah apa gak ya."Nasehat ibu, yang sebenarnya berat ninggalin Anah lagi.
"Yah pergi lagi, kenapa gak bapak ajak yang cari duit. Dulu bapak sering pergi cari duit."Celoteh Anah.
"Kan dulu Anah belum sekolah, sekarang kalau bapak cari duit sendiri gak cukup. Kan sekarang di rumah ada nenek, anah gak papa ya? kalau bapak dan ibu pergi cari duit."Kata pak Jumadi.
"Tapi nanti kalau pulang aku mau di beliin kalung yang bagus ya pak."minta anah.
"Wah Anah udah kayak orang gede ya tau kalung bagus segala, emang kalungnya kaya apa?"tanya pak Jumadi.
"Itu Lo pak yang warnanya kuning mingkilat kaya yang di pakai mbak Kanti."Kata Anah.
"Ternyata anak bapak yang cantik ini minta hadiah ya. Insya Allah nanti kalau bapak punya uang banyak bapak belikan ya." Kata pak Jumadi dengan senyum pada Anah. Hal itu membuat anah senang, dia sudah gak sabar pengen punya kalung bagus.
__ADS_1
*****Bersambung...