TAKDIR KU

TAKDIR KU
101.CEMBURU SAMA ANAH


__ADS_3

"Baik Nek, aku selesai kan sendiri, aku gak mau nanti suami ku nikah lagi. Dan nanti rebutan terus kalau mau tidur, kayak di film-film."Ujar Anah dan langsung melanjutkan pekerjaannya.


Anah Memeng mudah memahami apa saja yang di kata orang tua. Sehingga apa pun yang di ajarkan atau yang orang tuanya, akan ia catat sebagai pejaran penting. Bahkan apa pun yang dilakukan dan yang di katakan orang tuanya adalah sebuah janji.


...****************...


Hari ini hari Sabtu sore, nenek mengajak pergi ke rumah pak leknya. Yaitu Parno, Anah sedikit bingung kenapa neneknya tidak banyak bicara beberapa hari ini.


Sang nenek mengajak ke rumah Parno, karena dirinya sakit. Takut akan parah dan tidak ada yang mengurus nya. Sementara Anah masih harus sekolah, dan peliharaan mereka tinggal yang kecil-kecil. sehingga tidak lah ribet, jika di tinggal dan minta bantuan bu Kokom.


Anah langsung bonceng sang nenek dengan sepedanya. Bahkan sang nenek hampir jatuh, untungnya Anah bisa mengendalikan sepedanya agar tidak jatuh.


Ketika sampai sang nenek minta di buatkan teh sama Susi. Bahkan di malam hari nenek sudah sakit cerewet lagi. Hal itu membuat Susi dan keluarganya tidak suka.


Hingga minggu malam, Susi termenung di dapur. Memikirkan bagaimana cara untuk kuat menghadapi mertuanya itu. Namun tetap di lakukan agar Parno tidak merajuk, dan pulang ke rumah kakak iparnya.


"Susi kamu kenapa?"tanya bu Jariyah mama Susi.


"Itu loh mak mertua aku cerewet banget, minta ini dan itu tapi salah terus. Bahkan aku sampai di bentak sama bapaknya Sekar."Adu Susi pada mamak, dan di dengar oleh pak Iman.


"Lagian ngapain sih dia di sini, kalau sakit nyusahin aja."Ucap bu Jariyah kesal


"Katanya pengen di urus sama anak dan mantunya."Ujar Susi dengan nada pelan namun kesal.


Mereka ngobrol di dapur setengah berbisik, supaya tidak ada yang mendengar.

__ADS_1


Tapi tetap di dengar oleh pak Iman dan Anah.


Pak Iman menghampiri istri dan anak tirinya, lalu menegurnya. Sedangkan Anah bersembunyi di balik pintu belakang, untuk mendengarkan apa yang di katakan mereka.


"Hust jangan banyak bicara, jalani saja. Apakah kamu mau suamimu pulang ke Jumadi dan tidak kembali. Ingat jangan lupa dengan ancaman Jumadi. Jika kita menyinggung perasaan Parno, dan membuat dirinya sakit hati."Ujar pak Iman, mengingatkan istrinya.


"Iya pak aku masih, ya sudah Sus, jangan terlalu di permasalahkan. Nanti juga kalau sudah sembuh juga pulang ke rumah Jumadi."Ujar bu Jariyah.


"Iya mak, itu Anah lagi nempel melulu, sampa pak leknya. Aku juga kesel banget sama mas Parno, sudah punya anak sendiri juga masih saja manjain Anah."Keluhan Susi di dengan dengan Anah.


Ya Susi berubah kesal dengan sikap suaminya, yang masih menyayangi Anah. Kadang kalau ada Anah, suka kurang perhatian pada anak istrinya. Bahkan tidur pun milih sama Anah dari anak istrinya.


"Ya mau bagaimana lagi, memang jadi suami mu itu juga serba salah. Sudah jangan banyak bicara dan manyun. Jangan sampai Parno, jadi marah karena kamu cemburu sama Anah. Biar bagaimanapun Parno itu bisa menikahi mu berkat Jumadi. Bisa ketemu dengan mu juga karena Jumadi dan Anah. Apa lagi Jumadi itu sudah seperti bapak bagi Parno. Begitu juga Anah, dari kecil lebih sering dengan Parno ketimbang Jumadi sendiri."Ujar pak Iman panjang lebar.


"Sudah sana temui suami mu, yang lagi main sama Sekar. Kalau di depannya jangan manyun begitu, nanti dia curiga."lanjut pak Iman.


"Iya itu kemauan Anah, padahal anak itu pinter. Entah apa yang membuat dia, jadi anak bodoh. Kalau dia memang pintar gak mungkin mau di sini terus. Apa lagi hampir setiap hari di siksa sama neneknya."Ujar Susi.


"Sudah cukup suamimu mencari mu itu karena Sekar haus dan ngantuk. Sana keloni bapak dan mamak mau pulang."Kata pak Iman dan langsung berjalan ke depan, dan pamit pulang.


Rumah pak Iman dan Susi hanya berjarak 50 meter. Kadang Susi juga mandi di rumah mamaknya, kadang di belakang tempat budenya. Yaitu rumah orang tua Wijiati sepupunya, yang pernah di taksir Parno.


Anah pun pulang dari Wiwin, yang tidak lain anak bungsu budenya Susi. Wiwin adalah adik kelas Anah, dan teman Anah ketika Anah main ke rumah Susi.


Tadinya Anah melihat pintu belakang masih terbuka, maka dia mau masuk lewat pintu itu. Tapi tidak di sangka dirinya mendengar percakapan bibinya dengan orang tuanya.

__ADS_1


Dan semua ucapan itu, dia mencerna nya. Sampai akhirnya ia paham, kalau ke baikan Susi dan keluarganya itu tidak tulus padanya.


Terlebih lagi pada pak leknya, mereka terpaksa baik pada pak leknya. Hanya karena takut kehilangan, di tambah lagi sekarang dirinya di anggap perebut kasih sayang bapak. Hanya karena pak menyayangi, sebab Anah kurang kasih sayang bapaknya.


Sejak pulang tadi Anah tidur dekat neneknya dan sekamar dengan neneknya. Bahkan anah menolak di ajak parno tidur di kamar sebelah.


Maksudnya Parno agar Anah tidak tertular sakit jika tidur dengan dirinya. Kalau tidur dengan neneknya takut ikut sakit. Karena Parno tau, Anah sangat mudah sakit jika berada dekat orang sakti.


Susi senang karena Anah tidak mau tidur dengan suaminya. Dengan begitu ia bisa tidur dengan suami dan anaknya.


Sudah jam sebelas Parno sudah bangun dari tidurnya. Kemudian dia menengok kamar sebelah di mana mamak dan ponakannya tidur.


Saat membuka pintu, melihat Anah belum tidur hanya memandang neneknya yang tidur pulas. Neneknya tidur pulas, mungkin karena minum obat dokter. Karena tadi siang Parno membawa nenek ke dokter mantri kampung sebelah.


Anah masih belum tidur karena terngiang-ngiang oleh ucapan Susi dan mamaknya. Mulai sekarang dia akan menjadi jarak dengan pak leknya. Supaya bibi senang seperti sekarang ini. Dengan begitu dia tidak akan di cap sebagai perebut kasih sayang lagi.


"Anah kenapa belum tidur? sini tidur sama pak lek di kamar biasa."Ajak Parno.


"Gak lek aku mau tidur di sini saja."Tolak Anah.


"Kalau begitu tidur ini sudah malam besok kamu ke lo. Emang kamu mikirin apa sih, dari tadi kok pak lek perhatikan banyak melamun. Masih kecil jangan banyak melamun, jangan mikirin yang berat-berat?" tanya Parno.


"Gak lek, aku gak mikirin yang berat kok, aku cuma lagi kangen sama bapak dan ibu."Kilah Anah, tapi ada benarnya kalau Anah kangen bapaknya.


"Sama pak lek gak kangen gitu? kan sudah lama kita tidak tidur bareng. Kamu juga sekarang jarang nginep, kalau main juga sebentar. Apa benar yang kamu pikirkan itu cuma bapak mu?"tanya Parno, karena melihat tatapan Anah ada yang beda.

__ADS_1


"Iya,......


*****Bersambung.....


__ADS_2