TAKDIR KU

TAKDIR KU
131.ANAH MINGKEM


__ADS_3

Dua hari kemudian Anah membantu panen padi di rumah Ade. Yang mana tanaman padinya paling luas jadi orang yang rumahnya terdekat pada bantu.


Saat istirahat Anah duduk di kayu kering yang roboh karena sudah di tebang. Namun belum di potong sama sekali, masih utuh. Yang punya kebun hanya motong ranting saja untuk kayu bakar. Kebun itu berbatasan dengan hutan sehingga Anah bisa melihat segerombolan monyet.





Anah senang melihat monyet itu, tanpa sadar Anah main di kayu yang dia duduki itu. Main jot-jotan pada cabang pohon yang sudah roboh itu. Tingkah laku Anah yang masih seperti anak-anak lebih tepatnya kekanakan. Tidak luput dari perhatian para bujang dewasa itu. Bagaimana tidak badan sudah besar, body seksi berisi. Namun tingkah polah Anah masih seperti anak.


Hal ini dan di kawasan ini lah dia mendapatkan kesenangan. Walau pun sering di marahin namun tidak ada kekerasan. Tidak seperti di waktu bersama neneknya, Anah tidak pernah bisa tersenyum sepenuh hati. Yang ada terkekang, tertekan, harus bersikap dewasa. Namun tidak dapat di pungkiri bahwa Anah masih merasa kecil. Maka sikap manja dan suka bergelayut manja pada ibunya. Namun tingkah polah Anah, suka disalahkan oleh bapaknya.


Maksudnya pak Jumadi, Anah harus bertingkah sesuai usianya. Jangan seperti anak balita, karena sudah tidak pantas lagi. Namun kadang pak Jumadi menyadari bahwa Anah memang anak kurang kasih sayang orang tuanya. Sehingga membuat dirinya membiarkan Anah seperti itu. Mau bagaimana lagi, pak Jumadi hanya berharap ada yang menerima anaknya apa adanya.


Anah mendengar ada suara yang jarang di dengar, namu penasaran dengan hewan yang memiliki suara itu. Dari duduk kini langsung berdiri di kayu tersebut.



Anah yang melihat ke atas pohon tidak ada. gak tau nya pada di bawah. Lalu beranjak naik keatas pohon dan bergelantungan dan baru keluar lagi suaranya. Anah melihat para gorila itu, yang sedang bersuara.


"Anah mingkem senyum terus nanti gigi mu kering." Tegur bu Sarinem, karena dari tadi raut wajah menggambarkan kebahagiaan di wajahnya. Namun di dalam hatinya, malu dengan tingkah polah Anah.


Bukannya mingkem malah cengengesan "hehehehe, lucu kapan lagi kita bisa lihat ini."Ucap Anah.


"Emang kamu itu gak akan ke kawasan lagi?" tanya bu Sarinem.

__ADS_1


"Ya tetap ke kawasan lah bu. Tapi sepertinya tidak akan ke sini, untuk ku. Ini yang pertama dan terakhir. Dan dari rumah kita tidak ada lagi hewan ini ke tempat kita. Paling beruang, sama babi, monyet sama sekali tidak."Jawab Anah.


Yang mengatakan bahwa hutan yang di depan rumahnya tidak pernah di kunjungi monyet lagi. Hanya babi hutan saja yang ada yang sering melintas di depan rumahnya menuju hutan tersebut.


Jika beruang madu(beruang hitam) suka tidur di hutan seberang kali. Dekat sumber mata air yang di lembah kebun pak Jumadi. Terlihat dari kebun jika beruang tersebut tertidur pulas di pohon. Yang selalu pak Jumadi dan keluarga syukuri adalah beruang tersebut tidak mengganggu.


......................


Yang menurut rumornya, beberapa tahun yang lalu, saat kawasan tersebut belum di tutup. Ada beruang madu yang mencecar atau menghabisi manusia. Dengan mengambil hati manusia, sungguh itu yang harus di waspadai.


Untuk antisipasi menurut cerita yang menjadi saksinya. Dirinya selamat karena menempel pada pohon. Dan memejamkan menahan nafasnya, dan tidak bergerak sampai beruang pergi meninggalkan dirinya.


Hal itu di jadikan pengalaman dan pelajaran, dan maka di cerita kan pada yang lain. Saat membawa mayat kawannya pulang ke keluarga nya.


Ada lagi cerita yang membuat pak Jumadi cerita kan langsung pada pekerja dan Anah.


Menurut cerita itu, pasangan pengantin baru itu, ada gorila yang telah menghadang nya.


Si laki-laki di pegang oleh gorila salah satunya. Dan di ancam dengan mencekik. Sedangkan yang satu lagi memperk*sa istrinya di depannya. Betapa mirisnya istrinya menangis dan meronta, karena ulah gorila itu. Namun dirinya pun menangis dan tidak berdaya dengan keadaan itu.


Dan setelah kejadian itu istrinya menjadi gila, pada akhirnya mereka kembali ke kampung halamannya. Tidak jadi mengadu nasib di tempat tersebut.


......................


(untuk cerita tersebut benar atau tidaknya, author juga tidak tahu ya teman-teman. Namun author jadikan pelajaran, bahwa kita setiap akan mengunjungi tempat atau wilayah. Mau itu cuma mau rekreasi atau apa pun jangan lupa berdoa. Minta perlindungan dari yang maha kuasa atas segala alam semesta ini yaitu Allah SWT. Sebab manusia tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi.


Wallahu alam.)

__ADS_1


......................


Anah di perhatikan beberapa bujang sejak tadi. Bukan Anah tidak tau, tapi Anah cuek pada mereka. Jadi terkesan jutek dan sombong pada para bujang. Tapi pikir mereka berpikir jernih, mungkin karena belum kenalan.


Mereka akan berusaha datang untuk datang kerumahnya pak Jumadi untuk apelin Anah. Berharap mereka bisa dapat hatinya Anah dan memiliki nya sebagai istrinya.


...****************...


Setelah masa panen itu selesai, di rumah salah satu orang yang sudah berkenalan dan akrab pada pak Jumadi. Mengadakan acara peringatan 1000 hari meninggalnya ibunya. namun acara tersebut bersamaan dengan pak Jumadi, punya acara.


Untuk menghormatinya pak Jumadi dan bu Sarinem menitipkan Anah pada bu Hesti. Di sini bu Hesti juga sendirian, sebab Ranto dan pak Marsan pulang mengambil kebutuhan untuk di kawasan.


Bu Sarinem pulang hari ini, sedangkan pak Jumadi sudah dari kemarin. Pagi ini bu Sarinem masih datang di rumah yang punya acara. Ikut membantu masak bersama bu Hesti, dan bu Tina. Bu Tina ibunya Ujang dan Ade, yang rumahnya bersebelahan dengan mbak Tami yang punya acara. Rumah Ade dan ibunya berbeda dan jaraknya kurang lebih 200 meter.


"Ibu pulang ya, jangan bandel kalau di sini. Jaga sopan santun, jangan kecentilan apa lagi tidak ada ibu."Pesan bu Sarinem pada Anah.


"Iya bu, ibu hati-hati di jalan ya." Kata Anah.


Setelah kepergian bu Sarinem, Anah membantu untuk membuat makanan, bersama dengan bu Hesti, dan Mila.


"Anah bisa buat agar-agar apa nggak?"tanya Tami.


"Bisa mbak mau di buat mana bahanya mana. Biar aku masakin."Jawab Anah.


"Ini gulanya sekilo, Agar-agar ada tiga. Ini gelas takar gula dan air, ini nampannya 2 saja."Tami sambil menyerahkan nampan berisi gula pasir, agar-agar bubuk dan gelas.


Anah menuju tungku yang sudah kosong, di ambilnya panci. Lalu menakar air 4 gelas kali tiga. Gula pasir liga gelas penuh, lalu masukkan agar-agar bubuk. Baru Anah taruh panci di atas tungku dengan api sedang. Setelah selesai Anah menuangkan ke dalam nampan menjadi dua.

__ADS_1


*****Bersambung....


__ADS_2