
"Maksudnya?... Bapak tidak ngerti Anah." Kata pak Jumadi dengan nada tinggi. Memang sedang memikirkan apa yang lakukan mamaknya pada anaknya. Sehingga Anah lebih kurus lagi dari yang ia tinggal beberapa bulan lalu.
"Ya kalau main sapu, halaman rumah jadi bersih pak. Terus pensil, itu kan aku sekolah. Masak, ya aku masak di dapur, masak nasi, sayur. Dari sayur sop, bening, lodeh, gulai, rendang, opor, tumis, sambel, apalagi ya..? Ah goreng bawang, goreng ikan asin, goreng ikan basah, bakar ikan, ayam, terus botok, sama pepes. Banyak kan pak, aku dah bisa semua masaknya. Eh masih ada yang aku belum absen, yaitu ceplok telor sama bikin mie goreng Jawa, tempe orek. Besok ke pasar bu, aku pengen makan tempe orek deh." Penjelasan Anah panjang lebar memberitahu bapaknya apa yang di maksud.
"Emang Anah gak capek masak udah kayak warung makan?"tanya pak Jumadi, kaget anaknya sudah bisa semua itu. Padahal orang dewasa saja belum tentu sanggup, mengingat semua yang dia kerjakan.
Ya Anah hidup dalam tekanan namun semua itu tak membuat dirinya terganggu mentalnya.
Justru itu ia bisa ambil sebagai pelajaran untuknya. Nanti ketika dewasa, sebenarnya ia seperti takut kalau bapak nya, akan marah pada nenek nya.
"Ya kan tidak di masak semua pak. Kalau di masak semua Anah capek, kapan Anah mau tidur."Bantah Anah, benar adanya yang di katakan oleh Anah.
"Lah bapak kira Anah masak segitu banyaknya, mau acara penganten."Kata pak Jumadi, sambil tersenyum melihat Anah manyun.
"Ih bapak kalau aku di suruh masak buat pengantenan aku gak mau." Kata Anah, dengan memanyunkan bibirnya.
"Memang kenapa?"yang terus pengen tau apa tanggapan anaknya yang masih kecil, namun sudah serba bisa.
"Kalau di dapur penganten itu pak, gak semua yang aku bisa. Paling itu daging rendang sapi, opor ayam, mie goreng Jawa, telor sambel, gulai nangka, soto."Ujar Anah. Bisa tau karena dia melihat makanan yang di acara penganten.
Karena ia juga pernah melihat apa saja yang di masak, tukang masak di dapur penganten. Namanya anak kecil apa yang di lihat, adalah benar adanya.
"Aduuuuh bapak tambah gemes deh, ini anak bapaknya cepat banget sih gedenya. Perasaan kemarin masih bayi deh, pintar sekali ya gemesin banget."Kata pak Jumadi, sambil memeluk dan mencium seluruh wajahnya Anah. Ralat ya, kecuali bibir Anah.
"Ahahahahaha bapak itu ih kumis bapak bikin gali, hahahaha" Anah yang masih dalam pelukan bapaknya.
"Eh ngomong-ngomong ini kok tambah cantik ya kalau pakai kalung biji kopi. Ini duitnya juga, hasil bapak petik kopi tempat bude Parti."Kata pak Jumadi.
"Emang Anah cantik pak? di tambah pakai kalung cantik nambah deh." Dengan percaya diri yang tinggi.
"Eh anak bapak tidak baik lo ngomong begitu? jangan suka bangga dengan diri sendiri ya. Itu sifat orang sombong. Orang sombong tempatnya di neraka mau?" tanya pak Jumadi.
"Sudah ceritanya, sekarang sudah magrib, Sekarang Anah dan Monik tetap disini ya? setelah sholat kita makan bersama."Pesan ibunya.
__ADS_1
"Iya bu."Jawab Anah dan Monik kompak.
Setelah selesai men?jalankan kewajiban sebagai umat Islam. Mereka makan bersama dengan hikmat tak ada suara selain sendok dan piring.
Setelah selesai makan Parno berpamitan pulang ke rumah mertuanya, tak enak pada mertuanya jika tak pulang. Apalagi istrinya semenjak hamil makin manja, dan tak bisa di tebak kemauannya, yang suka aneh aneh.
"Mas aku gak nginep ya, gak enak sama pak Iman."Kata Parno
"Gak enak sama mertua, apa gak enak kalau gak ketemu Susi."Canda pak Jumadi.
"Lah biasa aja mas gak ada yang spesial, kalau sama Susi."Dengan raut muka memelas.
"Lah apa masih berat hatimu untuk menerima Susi?"tanya pak Jumadi.
"Ya sebenarnya kalau Susi sendiri baik mas, jujur aku juga suka. Tapi pak Iman itu yang sudah mendalilkan dirinya. Jadi aku juga gak bisa nolak, susah buat menjauh dari mereka mas. Percaya gak percaya, masa yang akan datang kita akan semakin jauh mas. Aku cuma pasrah aja mas sama hidup ku. Mau di bawa ke mana, tadinya aku sudah bilang sama mamak kalau sampean gak usah tau.
Setelah ku pikirkan lagi lebih baik mas tau sebelum jauh. Supaya bisa waspada di kemudian hari. Aku tau mas bisa melihat mana yang benar dan tidak."Jelas Parno, pada masnya.
"Mas orang ngomong serius malah bahas apem. Paling sampean yang gak dapet jatah, apem mentul to?"langsung tertawa bersama.
"Hahahaha lak mbak yu mu itu gak bisa diem, kalau di pegang apem nya. Kalau anak-anaknya belum tidur mana bisa Lee Lee." Keceplosan langsung membekap mulutnya. Namun sudah terlanjur di dengar istrinya.
"Mas!!"bu inem sudah manyun. Dan segera pergi ke kamar, karena malu sama adik iparnya.
"Hahahaha.....hap..." tawa lepas dari mulut Parno.
Merasa malu juga di tertawakan oleh adiknya. Dia ambil pisang goreng yang masih anget lalu di buat nyumpel mulut Parno.
"Enak tu pisang gorengnya, mbak yu mu yang goreng.
"Eem... e..nak mas. Sebelum aku habiskan."Sambil tersenyum penuh kemenangan. Karena melihat muka masnya yang memerah malu.
"Kalau habiskan sebelum kamu pulang. kenapa jadi lari dari pembahasan mu coba."kata pak jumadi.
__ADS_1
"Lah kan mas yang duluan, coba tadi gak bahan apem mentul sagala." Berkata sambil tersenyum.
"Halah gengsi mau ngakuin, kalau gak enak gak mungkin juga istrimu hamil to."Kata pak Jumadi, yang membuat Parno langsung nunduk malu.
"Sudah apa mas, jangan bahas apem mentul lagi."Ujar Parno gak sadar dia.
"Lah yang masih membahas kamu Par, aku mana nyebut,"skak mat buat Parno.
"Ya sudah sana pulang, yang penting kamu tidak kenapa napa, semoga kamu selalu dalam lindungannya Allah SWT."Mendoakan adiknya.
"Aamiin..."Mengamini doa masnya.
"Ya udah aku pulang mas. Sudah jam setengah 9 malam."Saat Parno mendongak menatap jam dinding.
"Ya sudah pulang sana sudah di tunggu di ruang tamu sama apem mentul, mertuamu di teras."Kata pak Jumadi.
...****************...
Parno pikir masnya asal ngomong saja. ternyata benar adanya, mertuanya yang laki nunggu di teras sedang kan istrinya nunggu di ruang tamu dengan manyun. Yang kelihatan dari halaman rumahnya.
"Assalamualaikum pak," Parno ngucap salam.
"Wa'alaikumsalam, Kenapa pulang malam banget, tu Susi merengek terus minta diantar ke sana." Kata pak Iman, padahal Susi tidak ngomong. Tapi memang Susi lagi manyun nunggu Parno belum pulang.
"Iya tadi saya ngobrol dulu sama mas Jum."Kata Parno.
"Oh mas mu lagi pulang, kapan sampai?"langsung berubah. Rupanya pak Iman merasa tidak enak, dengan ucapan Parno.
"Tadi dhuhur sampai nya. Ya sudah saya temui Susi dulu."Kata Parno, dan meninggalkan mertuanya di teras. Dan menemui istrinya, males berhadapan dengan mertuanya.
Pak Iman hanya diam memandang menantunya, yang berjalan menemui anaknya. Dia juga tidak nyaman jika Parno memandangnya dengan muka datar.
*****Bersambung...
__ADS_1