TAKDIR KU

TAKDIR KU
98.ITU METDI


__ADS_3

Sudah sampai seberang langsung lari, dan hujan mengiringinya jalan pulang. Sepanjang jalan Anah membaca surat-surat pendek yang sudah dia bisa. Yaitu 3 surat terakhir dalam Alquran, sampai di rumah mbah Rom dia baru jalan dan tenang walau pun masih ngos-ngosan.


Anah yang berjalan tergesa-gesa dapat teguran mbah Rom yang tepat di teras.


"Anah kamu baru pulang sore banget?"tanya mbah Rom.


"Iya mbah tadi tanggung kalau mau pulang soalnya sudah selesai sekarang besok tidak ke sana lagi."Jawab Anah, memang tadi dia menyelesaikan pekerjaan hari ini.


Karena kalau Anah kerjakan besok tanggung tinggal sedikit, mungkin jika di kerjakan tidak sampai satu jam.


"Oh alah, ya tidak apa-apa kan, jadi kamu tidak pulang terlambat begitu. Tuh sudah Hampir setengah sebentar lagi magrib, memang kamu tidak ngaji?"tanya mbah Rom.


"Untuk hari ini aku libur dulu Mbah, capek besok saja."Jawab Anah.


"Ya sudah nyebrang hati-hatilah."Ujar mbah Rom.


Rumah mbah Rom tepat di pertigaan jalan besar. Sehingga mbah Rom, selalu mengingat kan Anah setiap pulang dari sawah.


"Ngeh mbah."Kata Anah yang langsung jalan pulang, tak lupa iya menoleh kanan dan kiri sebelum menyebrang jalan.


Begitu sampai rumah Anah langsung mandi karena ia juga sudah basah dengan air hujan.


Sepanjangan jalan pulang selain ketakutan, Anah juga kehujanan.


Nenek hanya memperhatikan cucunya tanpa bicara, melihat Anah yang pulang sudah ngos-ngosan.


"Pasti dia lari sepanjang jalan karena hujan, lagian sudah sore gak pulang sampai mau magrib." Nenek berkata dalam hati.


Setelah mandi Anah duduk dekat neneknya yang lagi makan sirih.


"Nek tadi ke sawah nyusul aku?"tanya Anah.


"Kalau nenek nyusul kamu, kenapa kamu pulang sendiri. Dan nenek ada di rumah, bukan di sawah?" tanya Nenek balik.


Deg

__ADS_1


"Beneran nenek gak ke sawah walau sebentar?"Anah bertanya lagi, dengan raut wajah takut bahkan merinding.


"Iya, memang kenapa sih?" tanya Nenek greget sama cucunya ini, dan mulai curiga dengan pertanyaan nya itu.


"Tadi waktu aku mau pulang, aku di ajak pulang sama nenek. Nenek pakai baju hijau, terus pakai kain jarek hijau, pakai kerudung hijab dan capil (topi pak tani). Tapi nenek jalan ke utara, aku ya ikut. Aku pikir nenek ngajak pulang tapi mau lewat jalan yang tembus ke kuburan."Kata Anah.


"Terus?"tanya nenek.


"Ya aku ikut lah, tapi aku kepeleset waktu mau nyebrang sungai. Dan kepeleset lagi pas di galengan yang becak bekas di jebol buat buang air sawah itu. Aku tanya, emang kita kita mau kemana nek. Karena tidak ada jawaban, pas sampai galengan yang bagus nenek sudah gak ada. Tapi itu jalan cepat waktu belum hilang, habis nenek hilang aku meringing hiiii sampai sekarang masih merinding nek."Cerita Anah, dan masih mengingat apa yang tadi terjadi di sawah.


"Memang suara seperti apa? mukanya gimana?."tanya nenek.


"Ya suara nenek lah, tapi kalau muka aku lihat gak jelas, soalnya gak noleh. Terus yang bikin aku heran aku aja kesusahan gak mau bantu apa lagi nunggu, noleh aja gak."Jawab Anah.


"Itu metdi (setan), untungnya kamu masih sadar dan ingat pulang kerumah. Kalau enggak mungkin kamu sekarang linglung duduk di kuburan sana."Kata Nenek, sambil menatap wajah Anah, yang sedang menganga.


"Hah? setan. Huff alhamdulilah masih selamat ya Allah, oh ya pas aku pas merinding tadi langsung istirahat dan baca zikir dan surat pendek. Sambil terus lari mana sudah hujan, sampai aku di samping rumah mbah Rom. Baru jalan walau aku ngos-ngosan, tapi aku sudah tenang Nek."Ceritanya Anah.


"Lagian kamu ngapain pulang terlalu sore bahkan sudah mau magrib. Kan kamu tau di sana dekat kuburan, banyak yang jahilin kamu?"tanya Nenek.


"Aku selesai kan matun nek, tanggung jika besok aku ke sana cuman setengah jam man."Jawab Anah.


"Iya Nek." Jawab Anah, sambil jalan mengikuti nenek nya ke kamar mandi untuk wudhu.


Setelah sholat magrib Anah makan, hari Anah hanya menggoreng telur ceplok buat makan. Nenek tidak protes, karena tahu jika Anah capek.


...****************...


Sebulan kemudian Anah yang kini kelas 4 terpilih, menjadi perwakilan dari sekolah untuk maraton sekecamatan. Dan akan ada undian berhadiah jika beruntung.


Dari sekolah terpilih 4 anak saja, yaitu Anah Angga, Aidil, Danu. Dan kelas 5 dan 6 masing-masing 1 murid. Dari 6 murid, jadi mengikuti acara sekolah. Acara tersebut di ada kan di kampung sebelah sekolah dekat pasar.


Acara itu di adakan pada hari sabtu, Anah dan Angga berangkat pagi bersama mereka bawa ongkos 1000 rupiah, dan bawa bekal.


"Nek aku berangkat ya."Pamit Anah dan Angga.

__ADS_1


"Iya hati-hati ya kalian, Angga jaga adik mu."Pesan Nenek.


"Siap Nek tenang aja aku akan jaga dia."Ujar Angga.


Angga dan Anah berangkat ke desa sebelah saling bergantian menggowes sepeda. Yang pertama Anah yang di bonceng dan di ganti kan Angga.


Angga yang memiliki badan kecil, lebih cepat capek membonceng Anah. Karena itu Anah mengalah jika di bonceng, ia kasihan sama Angga.


Anah dan Angga sampai lebih dulu dari pada yang lain. Murid yang ada di sekolah tersebut, pada berdatangan namun bukan yang ikut di acara. Yang ikut acara kumpul di depan kantor, kepala sekolah.


"Mas gak enak juga ya di sini cuma berdua belum pada datang. Mana di lihatin terus dari tadi, itu murid sini atau bukan ya."Kata Anah, yang merasa risih di lihatin sama anak laki-laki berjumlah 8 orang.


"Iya mana badannya besar-besar kan aku jadi merasa terinjak, hehehe."Angga membalas Bisik Anah, dirinya juga merasa minder.


"Hai.., kalian dari SDN 2 xxx ya?" tanya soal satu dari mereka.


"Iya kak."Jawab Anah.


"Dari sekolah mu berapa orang yang ikut?"tanyanya lagi, sambil terus menatap Anah yang berani menjawab.


"Tidak, ada lagi tapi belum datang, mungkin sebentar lagi."Jawab Anah.


"Oh, kalian dari tadi gandeng terus, kalian pacaran?"tanyanya menatap Anah dan Angga secara intens.


Belum sempat Anah dan Angga menjawab, teman-temannya sudah datang dan memanggil.


"Anah, Ngga"teriak mereka.


"kalian gak nunggu kami sih"protes Iwan.


"Iya, tadi langsung langsung dari rumah mas. Jawab Angga.


"Kamu boncengan sama Anah?"tanya Raden.


"Iya mas soalnya nenek Irah tidak kasih bawa sepeda masing-masing. Kami harus satu sepeda, dan aku harus jaga dia. Terlebih hanya Anah yang perempuan, lagian pak Hardi kenapa cuma milih Anah saja."Jawab Angga, merasa heran kenapa cuma Anah yang perempuan.

__ADS_1


"Ya tidak apa-apa cuma Anah yang berani, yang lain gak ada."Kata Iwan.


"Bersambung....


__ADS_2