
Seminggu berlalu Anah lagi main di halaman sama sepupunya Imah dan Nana. Selagi ada saudaranya Anah lumayan bisa main. Yang penting dia sudah beberes rumah, masak, dan halaman bersih.
"Dek Anah main engklek yok" ajak Nana, yang usianya hampir 3 tahun namun anak kecil ini sangat lincah, ceriwis, ceria, dan tentu centil. Bahkan lebih centil dari Anah dan lebih ceriwis.
"Lah emang mbak Nana bisa?" tak percaya "mbak Imah emang iya mbak Nana bisa engklek to?"tanyanya Anah pada Imah.
"Ya bisa dia tapi belum lancar, tapi mungkin penasaran dari kemarin ngajakin main terus"ujar Imah.
"Bolehlah ayok"anah bersemangat. sudah siap main, tiba tiba ada yang mengagetkan mereka.
"Aku ikut ya An"ucap Warto.
Warto adiknya Minah, ia seumuran dengan Imah. Tapi lebih tua Warto beberapa bulan.
Anah terbiasa manggil lek, walau usia mereka beda 7 tahun.
"Eh, lek Warto, boleh yok"ajak Anah.
"Aku sama kamu ya An, biar Imah sama nana."Ujar Warto.
Imah menatap Warto, dengan tatapan yang aneh. Namun Warto tau itu, adalah minta penjelasan.
"Kenapa kalau main, kamu itu maunya sama Anah terus?" Ketus Imah.
__ADS_1
"Ya emang salah ya, kalau aku mau sama Anah."Kilah Warto
"Alah ngomong aja kamu itu maunya nempel sama Anah."Kata Imah dengan sinis.
Ya Warto menyukai Anah walupun usianya masih beranjak remaja. Mereka sudah ada rasa suka dengan lawan jenis. Ya Warto usianya 13 lebih, dan Imah baru 13. mereka sama-sama kelas 5 SD. Mereka sekolah memang sudah besar usia 8 tahun.
"Suka kok sama anak kecil,"ledek Imah.
"Memang ada yang salah ya, itu kamu iri ya to,"balik meledek Imah.
Imah tak jawab dia males debat dengan teman sekelasnya ini.
"Mbak ayo suit."Kata Anah.
"Hore...... bapak dan ibu pulang."Sorak Anah dengan riang.
Warto tersenyum senang melihat wajah Anah yang ceria, karena ia sering melihat Anah murung. Itu semua di sebabkan oleh neneknya sendiri.
Anah yang langsung lari menyambut bapaknya. Dengan manja ia merentangkan kedua tangannya. Pak Jumadi pun dengan senang ia menyambut Anah dengan menggendongnya.
Warto membantu membawakan barang yang tergeletak di halaman rumah. Karena di tinggal untuk melepaskan rindu pada putrinya. Tak lupa Warto juga mencium tangan pak Jumadi.
"Warto terima kasih ya dah bantu bawa barang masuk."Ucap pak Jumadi.
__ADS_1
"Iya lek sama-sama"jawab Warto dengan tersenyum manis.
"Sini pada duduk dulu, nanti bibi ambil jajan dulu."Ucap bu Sarinem.
"Iya bi"jawab Warto, Imah dan Nana, serentak.
Lalu bu Sarinem membongkar tas yang di bawa tadi. Dan mengeluarkan oleh oleh yang di bawa dari perantauan.
Ada cabe, kopi, ada ubi, juga keripik pisang, dan singkong yang di bawa.
Kripik ia suguhkan, di ruang tamu ada Nenek, Parno,Warto,Imah,Nana,Monik, Anah dan pak Jumadi. Lalu bu Sarinem membungkus kopi dan cabe dengan plastik untuk di bawa pulang sama Imah dan Warto.
"Nah ini nanti Imah dan Warto bawa pulang ya kasih mamak kalian." Memberikan bungkusan pada Imah dan Warto.
"Nana suka ya sama kripik pisang"tanya bu Sarinem.
"Iya bi, kripiknya enak bibi belinya jauh ya? balik bertanya pada bu Sarinem.
"Iya tadi bibi mampir pasar yang jual makanan olahan. Jadi beli kripik ini tapi bibi cuma beli ini aja."Jelas bu Sarinem.
"Ini juga sudah cukup bi,"jawab Warto.
Mereka lanjut dengan canda tawa, terutama Anah yang selalu nempel sama ibunya. Lalu Warto, Imah dan Nana pamit pulang, dengan menenteng oleh oleh, yang di berikan bu Sarinem tadi.
__ADS_1
*****Bersambung....