
"Emang sedih banyak juga ada lek?"tanya Angga lagi, dengan wajah penasaran.
Para guru tertawa kecil, ketika mendengar pertanyaan Angga. Ya Angga memang tidak jauh beda dengan Anah.
Tapi Angga tak seberapa, dibandingkan Anah yang super cerewet banyak ngomong dan banyak pertanyaannya.
Anah membuat para guru kangen jika tak melihat nya terutama ibu Ega. Baru 4 hari saja, banyak yang merasa sepi di kelas.
Banyak yang tidak mau diam namun berbeda dengan Anah. Hari ini kebetulan hari sabtu, maka para guru datang untuk menjenguk Anah.
"Ya ada. Kalau yang sedih banyak itu yang nangis sampai sesenggukan, kalau pak lek kan tidak ada suara."Angga langsung mengerti dan menganggukkan kepalanya.
"Yang kaya dulu bapak meninggal ya lek? banyak yang menangis, apalagi bibi sama mamakku."Celoteh Angga.
"Betul itu."Pak Jumadi sambil memegang pundaknya Angga "Ngga kamu main sama Monik ya di sini, dia kalau di dalam sedih karena tidak bisa main. Apa lagi lihat mbaknya masih tidur terus membuat dia tambah sedih."Lanjut pak Jumadi.
"Eh sampai lupa, mari bapak ibu guru kita masuk biar Angga di sini."Ajak bu Sarinem.
"Iya pak bu, monggo."Timpal pak Jumadi.
"Iya pak bu."Mereka serentak menerima ajakan bu Sarinem dan pak Jumadi.
Mereka masuk ke dalam rumah, bu Ega langsung duduk di samping Anah, yang terbaring lemah.
Lalu tangannya terulur menyentuh kening Anah dan memang panasnya tubuh Anah masih tinggi.
Lalu mengusap kepala Anah, penuh perhatian dan rasa iba. Tak terasa air matanya menetes dengan sendirinya.
Di susul bu Intan, dan bu Yanti. Mereka berdua pun, melakukan hal yang sama dengan bu Ega. Segera mereka bangkit dari duduknya ketika para pak guru ganti menyapa Anah.
"Cepat sembuh ya Anah ibu merindukan kamu di sekolah nak." Ujar bu Ega, setelah itu ia bergeser.
__ADS_1
"Iya Anah cepat sembuh ya, bukan kah Anah selalu bersemangat untuk sekolah."Ucap bu Yanti. Sebagai guru kelas 2, ia selalu tau cerita tentang Anah dari bu Ega.
"Ya Anah memang tak pernah dapat juara namun Anah semangat sekolahnya luar biasa. Anah selalu takut tidak bisa naik kelas, jika tidak sekolah. Mari pak bu di minum, hanya ini yang bisa saya suguhkan."Ucap bu Sarinem.
"Aduh repot-repot bu."Kata bu Intan, bu intan guru kelas 2 sekaligus Istri pak kepsek.
"Teh aja tidak repot bu."Kata bu Sarinem.
"Ayo semangat Anah, mungkin Anah capek ya, jadi tidur berhari-hari. Ya sudah kalau Anah, butuh istirahat yang cukup bapak tunggu di sekolah ya? tidak boleh lama-lama ya liburnya nanti tidak naik kelas lo."Celoteh kepala sekolah, yaitu pak Hardi, panjang lebar.
"Maaf pak, Anah seperti ini dari hari apa?"tanya pak kepsek.
"Baru kemarin pak, kemarin hari pagi sempat bicara sebelum kami bawa ke puskesmas kecamatan. Dia bilang "bapak aku mau sekolah" saya sempat kaget ketika dokter bilang bahwa anak tak sadarkan diri. Dan harus di bawah ke rumah sakit besar, itu bisa langsung masu ruang ICU. Yang saya tau ruang ICU itu biaya mahal. Perjalanan ke rumah sakit besar pun sangat jauh. Dengan keadaan kami, pasti akan memakan waktu kurang lebih 6-7 jam. Akhirnya saya bawa pulang aja pak, dengan perjalanan itu yang ada akan sia-sia jika tidak ada uang yang cukup. Akhirnya saya memutuskan untuk di rawat di rumah saja. Di bantu obat tradisional saja."Terang pak Jumadi, pada pak kepsek.
Ya pak, kepsek cukup tahu jika masuk rumah sakit besar maka butuh biaya besar pula. Sementara melihat keadaan pak Jumadi pun dari keluarga sederhana. Jika tidak ada biaya, maka Anah pun tidak di terima.
"Sabar dan ikhlas ya pak, insya allah diberikan jalan yang mudah. Karena bagi allah tidak ada yang tidak mungkin, jika sudah berkehendak."Pak Hardi memberikan semangat pada pak Jumadi.
Karena author sendiri pernah, mengalami ini. Jika anak sakit dan berujung di rumah sakit. Jadi curhat ni author 🤭🤭🤭
"Iya pak terima kasih. Insya allah saya dan keluarga berusaha sabar untuk merawat putri saya."Kata itu lah yang di ucapkan pak Jumadi.
Hingga tak terasa mereka berbincang hampir satu jam. Akhirnya pak kepsek dan para guru pamit pulang.
Setelah kepergian para guru Angga dan Monik masuk, mereka minta makan karena lapar. Angga tidak pernah sungkan jika di rumah bibinya. Dari keturunan pak Jamal, hanya Angga dan Nana yang tak pernah sungkan. Karena kalau mereka memiliki sifat dari bapaknya.
"Bibi aku lapar"
"Ibu aku lapar" serentak meneriaki bu Sarinem.
"Oh, ayo sini makan, Angga pasti pulang tadi belu makan ya?"tanya bu Sarinem.
__ADS_1
"Iya bi, kan tadi pulang ganti baju, terus balik lagi ke sekolah lagi, karena sudah janji sama bu Ega."Jawab Angga
Pak Jumadi lanjutkan apa yang tadi tertunda. yaitu memetik jengkol untuk lalapan ia makan siang.
...****************...
Hari berganti hari dan kini 2 minggu berlalu, Anah sudah ada perkembangan. Sudah dari malam Anah membuka mata, saat subuh tiba berusaha bergerak dengan sangat lemah. Ia menyentuh lengan bapaknya yang ada di sebelah tangannya.
Hal itu membuat pak Jumadi kaget, pak Jumadi memang sudah bangun. Namun belum mau membuka mata, ia langsung membuka matanya, betapa senangnya hati pak Jumadi.
"Alhamdulillah... "Ucap pak Jumadi, bersyukur ya itulah yang di serukan pertama kali pagi ini.
"Nduk mau minum apa mau apa?"tanya pak Jumadi, dengan wajah sumringah di pagi hari.
"Aa ku pi pi pis pa ak."Terbata dengan lemah, ia berusaha menyampaikan pada bapaknya.
"Oh ya, sini di lepas celana nduk." Ya pak Jumadi membersihkan kencing Anah. dan mengambil lap yang khusus untuk membersihkan Anah ketika buang air kecil/besar.
dengan telaten pak jumadi membersihkan anah. setelah itu pak jumadi menganti celana dan popok kain sarung untuk tatakan anah ketika buang air kecil/besar.
"Nah sudah bersih sekarang, mau minum tidak?"pak Jumadi bertanya lagi. Anah hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Bu Sarinem mendengar suara suaminya ngobrol. Bingung, apa kah ada tamu sepagi ini. Pikir bu Sarinem, bertanya-tanya atau sedang mengigau. Karena tidak ada jawaban dari lawan bicaranya. Ia segera turun dari tempat tidur dan menghampiri suaminya.
"Mas ngomong sama siapa?"bertanya pada pak Jumadi.
"Alhamdulillah dek Anah sudah bangun." dengan senyum senangnya.
"Apa? Alhamdulillah.... ya allah."Langsung bu Sarinem mencium kening dan kedua pipi Anah. Betapa senangnya ia melihat putrinya, yang kini sudah lewat dari koma selama 2 minggu. "Terima kasih ya allah, sudah memberikan kesembuhan anak kami." Bu Sarinem berucap syukur kepada sang pencipta.
"Apa Anah sudah bangun ....."
__ADS_1
*****Bersambung....