
"Bisa kita berangkat ke rumah bibi Susi sekarang?"tanya bu Marni.
"Iya bude, tapi aku lemes banget. Nanti kalau aku jatuh gimana?"tanya Anah.
Nanti bude pelan-pelan biar kamu tidak jatuh lah. Masak iya bude mau bawa kamu balab sepeda An."Kata bu Marni dengan bercanda.
"Iya aku tau, bude janji ya kalau aku gak kuat berhenti."Kata Anah.
"Iya, ayo nanti gak jalan-jalan kalau ngoceh terus."Kata bu Marni.
"Iya bude,"Anah berdiri mengandeng tangan bu Marni.
Bu Marni menuntun Anah keluar kamar, tak lupa mengunci pintu. Dengan pelan dan gemetar Anah naik ke boncengan sepeda.
Karena jalan menanjak bu Marni mendorong sepeda sampai jalan datar. Bu Marni naik dan menggowes sepeda menuju ke rumah Susi dan Parno.
Anah merasa pusing dan lemas semakin mendera. Semakin Anah rasakan pusing dan gelap, Anah langsung bicara.
"Bude berhenti, mataku gelap pusing." Keluh Anah.
"Iya ya."Sahut bu Marni, ketika sepeda berhenti Anah sudah miring ke kanan hampir saja jatuh.
Bu Marni kaget, baru kakinya mendarat ke tanah. Tiba-tiba saja Anah miring dan untuk dengan cepat bu Marni menangkap.
"Huff selamat. Anah," namun tidak ada sahutan "An, Anah An" bu Marni mulai panik. karena tidak ada sahutan, beberapa detik kemudian Anah menyahut.
"Eem...." Masih pusing jadi tidak banyak bicara.
"Syukur lah, pusing banget ya,. masih gelap gak?"bu Marni.
Anah yang di tanya pun mencoba membuka mata, karena pusing nya mulai ringan tidak seperti tadi.
"Bude di tuntun saja ya aku pusing banget kalau goyang nya sepeda kencang."Keluh Anah.
"Sekarang boleh jalan lagi, bude tuntun ya."Bu Marni menuntun sepeda itu dengan telaten.
__ADS_1
Bahkan ia harus berusaha untuk tidak jatuh. Di lakukan dengan sangat hati-hati, sehingga menjadi perhatian orang. Yang berada di depan rumah, itu juga tak luput dari pertanyaan mereka.
"Mbak Marni kenapa sepeda sama orang nya di tuntun. Bukan dinaiki itu sepedanya, kan malah susah begitu?"tanya ibunya Heru.
"Ini Asih, Anah lagi sakit, tadi tak gowes sepeda nya. Tapi tadi Anah nya mau jatuh, kalau kecil nih bocah tak gendong. Lah ini orang sama gede nya sama budenya."Keluh bu Marni
"Ya mbak, yang hati-hati. Memang mau di bawa kemana to?"tanyanya bu Asih.
"Ini mau tak antar ke rumah Susi, soalnya bibi irah di sana juga lagi sakit."Jawab bu Marni.
"Oh begitu, emang lagi musim sakit. semoga cepat sembuh ya Anah, biar bisa sekolah lagi. dan semoga nenek juga cepat sembuh."Ucap bu Asih.
"Aamiin...."
"Aamiin."Anah dan bu Marni bareng menjawab Aamiin.
Dan sepanjang jalan, hampir sama pertanyaan dan doanya.
Bu Marni mengunakan tenaga full untuk mendorong di jalan tanjakan panjang 200 meter menuju rumah Susi. Karena rumah Susi di penghabisan tanjakan.
Mereka ada yang memanggil pun, Parno keluar rumah. Cukup membuat nya kaget, melihat Anah nangkring di atas sepeda. Dengan meringkuk. Dan kakak iparnya itu memegang sepeda.
"Astaghfirullah... mbak ini kenapa Anah?" tanya sedetik kemudian "ya Allah dia panas sekali mbak."Kata Parno panik.
Karena tadi pagi Anah baik-baik saja, waktu pamit mau sekolah. Pantesan siang Anah tidak pulang ke rumahnya, ternyata sakit.
Setelah membawa Anah ke kamar bersama neneknya. Parno keluar kembali, untuk minum penjelasan pada bu Marni.
"Mbak ini minum dulu pasti haus."Parno memberikan air putih pada bu Marni, yang sedang duduk si lantai yang sudah di semen.
"Terima kasih Par, kamu kalau bisa jemput Jumadi. Kan gak enak kalau kamu urus mereka sendiri. Bukan apa-apa ini hanya saran ku saja. Tapi kalau kamu mau urus mereka sendiri, lebih baik di rumah mas mu."Kata bu Marni pada Parno.
"Iya sebenarnya biar tak urus di sini juga gak apa-apa mbak yu. Gak perlu di rumahnya mas Jum juga."kata Parno.
"Bukan apa-apa Par, sepertinya keluarga istri mu kurang suka jika mereka di urus kamu dan di sini."Kata bu Marni.
__ADS_1
Obrolan mereka samar-samar terdengar oleh telinga nenek di kamar.
"Aku juga gak urus mereka di rumah mertua mbak di rumah sendiri."Parno tersulut emosi.
"Memang ini rumah mu sendiri Par, tapi apa ini total milik mu. Selain itu aku melihat mereka tadi ada di halaman rumah mertua mu. Begitu melihat aku sama Anah, dia sempat melihat kamu angkat Anah. Lalu mereka masuk rumah mertua mu, jika mereka suka akan kehadiran bibi dan Anah. Begitu melihat kami datang dia langsung pulang."Kata bu Marni.
Bu Marni tidak berniat mengada-ada, tapi bicara apa adanya. Karena waktu dia datang mereka lagi di halaman. Dan Susi terlihat akan pulang, tapi melihat kedatangan bu Marni dan Anah.
Malah balik badan dan masuk kembali, ke dalam rumah orang tuanya bersama mamaknya.
Parno berpikir sejenak dan mencerna ucapan bu Marni. Lalu ia ingat semalam Susi di dapur, entah apa yang di lakukan.
Beberapa saat kemudian mertuanya menyusulnya. Cukup lama Susi dan mertuanya di dapur, dia tidak menaruh curiga apa pun.
Dan ketika Sekar menangis, baru mereka kembali ke ruang tamu. Tapi mertuanya langsung pamit pulang, tak lama Anah masuk dengan raut wajah tanpa ekspresi.
Sekarang ia paham, "apa Anah mendengar apa yang mereka bicarakan. kan pintu dapur semalam belum di kunci. Setelah kepergian mamak dan bapak, Anah masuk dengan wajah tidak enak dilihat."Kata parno dalam hati.
"Ya sudah yu nanti saya bicarakan sama mamak, mau pulang dan tak rawat di sana atau aku jemput mas Jum dulu. Kebetulan semalam, Anah menangis kangen sama bapaknya. Mungkin dia sakit karena kangen bapaknya, dengan begitu pasti bapaknya tidak akan pikir panjang. Kali aja aku datang pagi, bisa langsung pulang."Kata Parno, dengan nada rendah dan tatapan kosong ke arah pintu.
"Ya sudah aku pulang, ini sepeda tak tinggal, dan ini kunci rumah."Ujar bu Marni, sambil menyerahkan kunci.
"Sepeda pakai saja mbak, emang mbak gak capek jalan. Terus nanti kalau jalan, mbak magrib belum sampai rumah."kata Parno.
"Ya sudah kalau begitu tak pinjam dulu, nanti aku pulang kan pas Jumadi sudah di rumah."Ujar bu Marni, sambil berdiri dan keluar rumah.
"Terima kasih ya mbak yu, sudah bantu anter Anah. Tak kira Anah mau pulang ke sendiri Sora begitu."Ucap Parno.
"Iya sama-sama Par, dia juga keponakan ku juga. Jadi sudah sewajarnya aku iku mengurusnya. Siapa lagi kalau bukan kita par, yang ada kalau kita diam aja. Akan jadi buah bibir para tetangga kita Par, kecuali tidak ada saudaranya."Ucap bu Marni.
"Iya juga ya, ya sudah mbak yu hati-hati di jalan."Ujar Parno.
"Ya assalamualaikum,"Ucap bu Marni langsung naik sepeda pergi.
"Wa'alaikumsalam,"jawab Parno, lalu masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
*****Bersambung....