TAKDIR KU

TAKDIR KU
151.SANTET ATAU GUNA-GUNA


__ADS_3

PERHATIAN:


Agar ceritanya nyambung, baca bab sebelumnya ya.


Terima kasih.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Lah terus anakmu itu mau jadi apa to mas. Lagian ini semua salah mas dan mamak, secara tidak langsung anak itu membenci orang tuanya sendiri. Coba saja mas tidak membuat Anah kecewa, aku gak akan kena imbasnya mas. Sakit hati aku mas, saat Anah bertanya aku ini ibu kandung apa tiri."Bu Sarinem tidak bisa lagi menahan sesak di dadanya. Hingga menangis sesenggukan lalu berjalan menuju ke kamar.


Pak Jumadi pun menatap istrinya yang sedang merajuk. Dan memilih pergi ke kamar, dari pada menyelesaikan masalah yang ada. Semenjak istrinya tau bahwa Anah dulu tersiksa. Sekarang pak Jumadi tidak bisa menyinggung tentang masa lalu Anah. Maka dirinya lah yang menanggung semua, berada di setiap masalah.


Pak Jumadi juga jadi serba salah jika berhadapan dengan anaknya yang keras kepala persis dengan ibunya. Mudah tersinggung, mudah marah, apa lagi dengan orang yang pernah menyangkut dengan masa lalunya.


Karena tidak ingin pusing mikirin yang tidak bisa meredakan pikiran. Ia berniat untuk pergi ke rumah pak lek nya, yang berstatus pak lurah yang bernama Sujarwo. Dan juga teman kecil nya, sebelum bapaknya meninggal dulu. Setelah bapaknya meninggal pak Jumadi tidak pernah main lagi. Karena memiliki tanggung jawab atas masa depan adiknya dan dirinya.


Anah melihat bapak pergi dari rumah pun mengikuti dari jarak jauh. Karena tidak mau ketahuan kalau mengikuti. Begitu tau kalau bapaknya ke rumah mbah, yang merupakan sepupu dari nenek. Setelah bapaknya masuk Anah berlari langsung masuk ke dalam rumah tersebut.


"Assalamualaikum mbah Mur, mbah Suja."Ucap Anah terus menyalami tangan mbah putri dan mbah kakung.


"Wa'alaikumsalam, ngitilin bapak mu?"tanya mbah Suja.


"Ngeh mbah, kulo ajenge nyuwun damel aken KTP (Iya mbah, saya mau minta di buat kan KTP). Mumpung lagi ada bapak, kan saya juga mumpung pulang ke rumah."Jawab Anah, sambil cengengesan.

__ADS_1


"Oh, la kemarin ke sini sama nenek gak ngomong. Tapi emangnya kamu sudah umur berapa? sudah siap nikah kan?"tanya mbah Suja.


"Tujuh belas kurang sebulan mbah, tapi di bikin pas tujuh belas tahun ya mbah."Jawab Anah.


Masa tak kira sudah 20 lo, karena kelihatan cantik dan dewasa. Lah ini minta di tuain lagi, emang lahir tanggal berapa?"tanya mbah Suja lagi.


"Saya lahir tanggal 30 Juni 1988. Tapi karena ini baru bulan mei gimana kalau saya di bikin bulan 30 Mei 1988 aja?"tanya Anah yang ingin umurnya pas dengan sekarang 17 tahun. Walau sebenarnya kurang satu bulan.


"Wes tenang wae Trimo beres(Sudah tenang aja terima jadi)."Langsung masuk ke dalam kantung, di ketiknya untuk membuat KTP Anah.


Tahun 2006 masih pakai mesin ketik ya, belum semua wilayah mengunakan komputer. Apa lagi daerah pelosok, serba terbatas alat-alatnya.


Lima belas menit kemudian mbah Suja sudah menyerahkan KTP (kartu tanda penduduk) pada Anah. Dengan senang hati Anah menerima apa yang di serahkan padanya. Dalam hitungan detik saja Anah membelalakkan matanya. Karena tidak sesuai dengan apa yang ia minta, lalu protes.


"Mbah! ini yang benar saja, kan tadi saya bilang di tuain sebulan. Kok malah di tuain 6 tahun, memangnya saya kelihatan setua itu apa?!" tanpa sadar Anah sudah berbicara dengan nada tinggi.


Karena ia punya maksud tertentu pada Anah, namun tidak memberitahu Anah sebelumnya. Jadi secara tidak langsung ia yang salah pada Anah. Mana ada orang mau di tuain begitu, tanpa ada alasan tertentu.


"Ngene nduk, mbah minta maaf sebelumnya. Karena sudah buat ini tanpa persetujuan mu, kamu itu tidak di Jakarta. Kalau bisa jangan pakai data asli mu, kalau begini kamu tidak ada yang mengenali. Berapa usia mu, kapan hari lahir mu. Karena dari tanggal lahir mu itu kamu akan di ketahui lahir hari apa."Mbah Suja memberi penjelasan.


"Memang bisa begitu Mbah?"tanya Anah, yang ia pikir sangat tidak masuk akal.


"Bisa nduk, apa lagi orang Jawa. Bukan maksud mbah, nakut-nakutin kamu nduk. Ini sering terjadi, pada anak gadis yang cantik manis dan kinyis-kinyis seperti kamu." Mbah Suja mencolek dagunya Anah. Membuat Anah tersipu malu, di godain sama mbahnya.

__ADS_1


"Kok bisa begitu Mbah?"tanya Anah.


"Ya bisa, kalau kamu menolak seorang laki-laki yang ingin menjadi pacar bahkan ingin menikahi mu. Kalau dia tau tanggal lahir mu, makan dia bisa santet atau guna-guna. Apa lagi kalau kamu ketemu dengan orang Jawa timur. Sama seperti keluarga kita ini, jarang yang menerima jika di tolak. Kebanyakan ia sakit hati dan pergi cari dukun buat kerjain kamu. Yang tadinya menolak, pada akhirnya kamu mencari-cari dia. Kalau dia langsung menerima itu karena dia memang cinta dan sayang kamu. Tapi kalau dia terlanjur sakit hati, maka kamu bisa gila seumur hidup mu. Kalau tidak ada yang tau kamu gila karena di buat oleh seseorang."Penjelasan mbah Suja panjang lebar pada cucu sepupunya.


"Waduh amit-amit jabang bayi. Eh Mbah beberapa hari lalu aku di apeli sama para bujangan sini. Kok aku jadi takut ya? kira-kira dia orang baik apa pendendam ya Mbah?"tanya Anah pada mbahnya itu.


Spontan pak Jumadi duduk tegak dan bertanya pada Anah. "Siapa namanya nduk?"tanya pak Jumadi bersamaan dengan mbah Suja.


"Eem.... Septyadi kalau gak salah."Jawab Anah.


Membuat keduanya bernafas lega, sebab kedua orang tua itu. Sudah tau siapa orang tua dari bujang itu.


"Oh kalau itu Insya Allah aman. Dia pemuda sholeh, bahkan banyak anak gadis yang pengen jadi pacar atau istrinya. Lalu apa dia mengatakan sesuatu pada mu?"tanya mbah Suja.


"Iya mbah, tapi aku waktu itu bingung. Mau menolaknya takut dia sakit hati. Ya sudah pura-pura gak ngerti aja, dari pada menyakiti perasaan dia. Padahal memang gak ngerti sih, soalnya gak bisa ngasih jawaban, hehehehe."Jawab Anah sambil cengengesan.


"Kalau dia bilang sama orang lain, kalau kamu itu cantik, tapi masih bocah gimana?" tanyanya sambil melirik ponakannya.


"Ya gak masalah pak, kan dengan begitu aku gak di cari-cari sama bujang yang kebelet kaw*n, eh nikah. Jadi aman aku terkenal bongsor, sudah gede tapi masih ngah-ngoh. Hahahaha. Matur nuwun ngeh mbah, kulo wangsul riyen(Terima kasih ya Mbah, saya pulang dulu)." Langsung menyalami tangan mbah Suja, dan berjalan keluar dari rumah mbah Suja.


Sampai di luar Anah menoleh "Pak, sampean seng bayar ya assalamualaikum."Langsung berlari pulang dari rumah mbahnya.


"Memang gak salah jawaban anak mu. Gede bongsor, tapi tingkahnya masih bocah. Beda sama Monik, malah terlihat dewasa. Sopan lan santun sama yang lebih tua, la ini kayak bocah baru gede. Tapi kalau ngomong kayak orang tua, bahasanya juga ngenak banget di rulung hati."Katanya mbah Suja sambil menggeleng kepalanya.

__ADS_1


"Itu adalah didikannya mamak lek, itu salah ku juga meninggalkan Anah sama mamak." Lalu menceritakan tentang ia meninggal Anah.


*****Bersambung ......


__ADS_2