TAKDIR KU

TAKDIR KU
55.JEMPUT MAS, KARENA ANAH SAKIT.


__ADS_3

Makanya mereka bisa menikahkan aku sama Susi. Biayanya semua mas dan mbak yu yang tanggung. Aku cuma siapin mas kawin, maka dari itu aku gak mau kecewakan mereka mak."Kata Parno merasa berhutang budi, apalagi dari bayi mas nya yang menghidupi dirinya. Bukan orang tua, karena mamaknya malah kabur dari tanggung jawab.


Setelah ngobrol dengan mamaknya Parno berangkat, pulang ke rumah dulu pamit sama istrinya dan mertuanya. Kebetulan tetangganya mau ke kota, sekalian dia nebeng. Dan dia minta turun di loket karena arahnya berlawanan. Tetangganya ke kanan sedangkan dia ke kiri.


"Ya mas wes sini saja aku mas, ke arah pegunungan yang terlihat dari sini."Parno sambil menunjuk ke arah pegunungan, yang terlihat dari loket tempat dia berdiri.


"Oh mas Jum merantau ke pegunungan itu ya?" menanyakan guna memastikan.


"Iya aku di bilangin, katanya gunung itu kelihatan dari loket ini."Jelas Parno.


"Nih mas, buat beli bensin, terima kasih ya mas dah di kasih tumpangan."Ucap Parno.


"Sebenarnya gak perlu Par, kamu lagi perlu buat jemput mas Jum, pasti ongkos ke sana lebih mahal."Ragu menerima, karena Parno lagi butuh ongkos pulang pergi, belum tentu yang di jemput punya uang juga.


"Insya Allah cukup mas bolak-balik. Kalau saya ngojek pasti lebih mahal dari ini."Kata Parno.


"Ya sudah aku terima besok pulang jam berapa sampai sini? biar bareng, nanti yang ngojek satu motor saja."Ujarnya ingin membantunya apalagi sudah tau karakter pak Jumadi.


"Biasanya mas Jum sampai sini jam sebelas mas. Tapi nanti ngerepotin mas lagi saya."Merasa tidak enak jika ngerepotin.


"Nggak, sekalian aku pulang, apa salah nya kita bareng Par, itu bus sudah datang hati-hati ya."Ia melihat mobil bus berhenti tepat di depan mereka.


"Iya mas, sekali lagi terima kasih."Parno langsung naik ke bus setelah mengucapkan terima kasih.


Bus itu melaju menuju ke arah pegunungan, walaupun tidak sampai sana. Karena arahnya berbeda tujuan, tidak ada mobil arah sana langsung. Harus naik mobil bus, mobil angkot, dan di sambung dengan ojek.


Setelah melalui jalur jalan mulus, kini ia harus jalan penuh lika-liku. Baru ia sampai pasar yang adanya hanya hari rabu. Tapi daerah situ banyak toko kelontong besar. Toko perhiasan dan jajanan ringan, seperti untuk warung.

__ADS_1


"Pak bisa saya minta antar ke rumah pak Harto. Saya adik iparnya pak Harto, tau kan pak?" tanya Parno.


"Ya tau lah kak, kami ini para ojek tau semua rumah pak Harto. Ayo kak saya antar,"ajak seorang pemuda, karena giliran ia yang jalan.


"Mari, terima kasih sebelumnya." Parno langsung naik motor itu, dia pegangan dengan kuat ada rasa takut juga jika tergelincir. Karena jalan yang mereka lalui terjal, bahkan agak licin.


"Ini karena habis hujan tadi kak, ini sudah agak kering. Coba Kakak kesini siang sulit untuk di tempuh kak. Ini motor kami masih ada rantai, jika tidak maka tidak bisa menempuh jalan ini kak."Cerita pemuda itu


"Wah serem juga ya kak, kalau ke sini." Kata Parno.


"Ya begitu kak kalau mau jadi tukang ojek di sini, harus punya nyali tekat yang kuat kak. Saya pikir tadi kakak mau kerja sama pak Harto. Kayak yang kakak, yang bawa istri dan anak itu."Kata pemuda itu, rupanya sudah mengenal pak Jumadi.


"Nah itu kakak kandung saya kak. Kalau istrinya itu, adik kandung istrinya pak Harto. Saya hanya ipar saja, pengen ketemu sekaligus silaturahmi ke pak Harto."Kata Parno menjelaskan.


"Oh begitu ternyata, masih saudara kandung dan ipar. Tapi beda ya kalau kak Jumadi itu istrinya ramah, baik lagi. Kalau istrinya pak Harto itu agak angkuh. Apa karena kaya ya? jujur saja, kami yang penduduk asli sini tak sekaya pak Harto. Saya akui kalau orang jawa itu pekerja keras. Itu pak Harto dan kak Jumadi, contoh nya."Cerita si pemuda itu.


"Ya mungkin begitu kak, kalau istrinya kakak saya memang baik, ramah. Ya tidak semua orang jawa begitu kak, tapi rata rata pekerja keras dan ulet. Itu yang jadi presiden kita juga jawa kak. Dari pak sukarno sekarang pak suharto, tidak tau presiden mendatang."Kata Parno.


Parno segera turun lalu membayar ojek itu."Terima kasih ya kak, berada saya harus bayar nih?"tanya Parno.


"5 ribu kak."Jawab nya, Parno langsung memberikan pada pemuda itu.


"Parno, apa kabar? kok sore kesini biasanya siang sampai sini?"tanya pak Harto, masih di dengar oleh pemuda tadi.


"Iya mas, kabar baik, iya ini saya ada perlu sama mas Jum."Jawab Parno.


"Pak Harto saya balik ya? mari kak salam buat kak Jumadi."Kata pemuda itu

__ADS_1


"Oh ya hati-hati,"kata pak Harto.


"Ya kak nanti saya sampaikan pada kakak saya."Jawab Parno.


"Ayo masuk, kebetulan jam makan ini,f lagi pada makan. Yuk langsung makan jangan sungkan, anggap rumah sendiri."Ajak pak Harto.


"Bu tolong piring satu lagi untuk Parno ni."Teriak pak Harto pada istrinya yang di dapur.


"Loh Parno siapa pak? apa adiknya Jumadi?"balas teriak.


"Iya ini baru sampai."Jawab pak Harto.


"Woalah benar to. Ini makan sekalian jangan sungkan, anggap rumah sendiri. Kamu sendiri kenapa istri mu gak di ajak?"tanya bu Parti.


"Ya mbak yu. Ini saya kesini ada perlu sama mas Jum, jadi ya tidak ajak istri. Lain kali kalau ke sini, tak ajak biar kenal daerah sini."Jelas Parno.


"Oh, perlu mendesak apa tidak, kalau nginep sini dulu gimana? toh baru sampai sini pertama kali juga?" tanya bu Parti.


"Iya sini dulu besok baru ke Jumadi, biar bareng aku ke sana."Timpal pak Harto.


"Maaf saya gak bisa tunda-tunda mas, mbak, ini mendesak, bahwa kalau daerah ku gak rawan aku ajak mas Jum pulang sekarang juga mas."Jelas Parno merasa tidak enak.


"Loh memang mendesak gimana to ini maksudnya, mbak yu gak ngerti?"tanya bu Parti.


"Saya kesini mau jemput mas, karena Anah sakit, bahkan sampai tidak sadarkan diri. Badannya panas tinggi, sampai kejang-kejang. Namanya bocah gak ngerti , nyamperin saya di rumah bilang Anah sakit, badannya menggigil bergetar kencang. Saya lihat ke rumah, ya badannya panas tinggi."Kata Parno panjang lebar.


"Yo wes kalau gitu berarti Jumadi harus pulang besok, mampir sini dulu kalau mau pulang ya sampaikan pada Jumadi nanti."Ujar pak Harto.

__ADS_1


"Iya mas, insya Allah nanti mampir. tapi saya ke sana sama siapa mas?..."


*****Bersambung....


__ADS_2