
"Baiklah pak, Anah ayo sama ibu masuk. nanti kalau sudah pusing pulang saja ya."Kata bu
Ega
"Iya bu, tapi nanti aku kalau pulang tidak naik kelas bu." Kata Anah raut wajah sendu.
"Nanti kalau Anah sudah sembuh dan tidak lemas lagi, Anah boleh ikut ulangan susulan. Nanti belajar dengan menjawab soal dikelas sendiri, tapi kalau olahraga anah tidak bisa. Tapi tidak apa-apa yang buat Anah naik kelas 2 itu belajarnya bukan olahraga ya." Penjelasan bu Guru panjang lebar.
"Beneran bu, aku bisa nyusul ulangan?" tanya Anah memastikan.
Bu guru Ega mengangguk sebagai jawaban, dan Anah nampak berfikir.
"Jadi apa Anah mau masuk apa mau pulang? kalau masih pusing, pulang saja ya nanti kalau sudah sehat Anah baru sekolah. Yang penting Anah tidak lemas banget dan sudah bisa jalan sendiri ya. Ibu yakin Anah bisa naik kelas, kan Anah anak yang pintar ya. Sekarang pulang dulu sama bapak ya istirahatlah di rumah ya?"bu Ega membujuk Anah supaya mau pulang dan beristirahat dulu.
"Iya bu aku pulang deh pusing kepala ku."Kata Anah, hal itu membuat bu Guru panik.
"Pak"sedikit tinggi suaranya.
Pak Jumadi segera masuk dan melihat Anah memegang kepalanya langsung mempercepat langkahnya.
"Iya bagaimana?"tanya pak Jumadi.
"Anah sudah merasa pusing mending pulang saja dan istirahat di rumah pak."Jawab bu Ega.
"Anah mau pulang?"tanya pak Jumadi pada putrinya. Anah cuma mengangguk kan kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah bu Guru maafkan kami sudah mengganggu jam belajar."Ucap pak Jumadi.
"Iya pak tidak apa-apa. Saya mengerti dengan rewelnya Anah, semoga cepat sembuh ya nak."Kata bu Ega sambil mengusap lembut kepala Anah.
"Ya Bu Guru, terima kasih. Assalamualaikum"langsung mengendong Anah lalu menaikkan Anah di atas sepeda.
"Wa'alaikumsalam"jawab bu Ega, dan memandangi Anah sampai di ujung gedung. Segera masuk dan melanjutkan mengajar.
Ternyata tidak hanya para Guru yang ada di gedung kelas 1-3 dan perpustakaan saja yang menyaksikan kedatangan pak Jumadi mengantarkan Anah. Tepatnya di gedung terpisah yaitu gedung khusus untuk ruang kepala sekolah dan ruang guru. Pak kepala sekolah itu memandangi Anah dari baru datang sampai pulang. Iya terharu dengan perjuangan anah ingin sekolah. Iya bu Ega selalu ceritakan apa pun info tentang Anah.
"Sungguh luar biasa semangat sekolah nya meskipun tidak pernah dapat juara kelas namun masuk sepuluh besar. Semoga Allah SWT berikan kesehatan untuk mu nak."Pak Hardi berkata dalam hatinya.
Semua orang hanya Anah di tinggalkan merantau untuk men cari uang dan penghasilan lebih. Tidak ada yang tahu selain para orang tua dari Johan Angga Nuri dan Warto. Jika Anah tidak hanya kekurangan cinta dan kasih sayang kedua orang tuanya. Tetapi Anah sudah hidup dalam tekanan, dan kekerasan. Hingga sampai terkena mental, yaitu psikis, pikiran fisik dan batin.
"Assalamualaikum" ucap pak Jumadi saat sampai di rumah. Dan langsung mengendong Anah, lalu mendudukkannya di pinggir ranjang, mengambil air minum.
"Wa'alaikumsalam loh sudah pulang apa sudah selesai ulangannya?"tanya bu Sarinem, pura pura tidak tau.
"Anah pusing lagi Bu dah biarkan anah istirahat ya bu"jawab pak Jumadi.
"Iya pak, dah tiduran dulu masih jam delapan. Jangan tidur beneran itu gak baik, kalau mau cepat sembuh nih jamu minum biar Anah gak lemas lagi ya."Kata bu Sarinem, sambil memberikan ramuan kunyit dan dan kapur sirih.
Anah selalu menuruti apa saja yang di katakan ibunya jika untuk kebaikan nya. Walau terkadang Anah merasa kurang nyaman dengan apa yang di katakan ibunya. Karena selalu menjadi kan Anah sebagai orang yang harus menerima meskipun pahit. Namun Anah selalu menunjukkan bahwa dirinya tidak apa-apa. Padahal di hatinya merasa perih, sudah pasti itu harus di tutupi.
Pak Jumadi yang sering berada di sisi Anah, di saat anah mendapatkan perlakuan yang berbeda dengan Monik. Pak Jumadi memutuskan pergi ke suatu tempat dengan alasan merantau. Kepergian pak Jumadi tidak ada yang tahu alasannya yang sebenarnya.
__ADS_1
Selama pergi kurang lebih 4 bulan, di sana pak Jumadi kerja petani dan malam belajar ilmu kebatinan dan juga pelindung diri. setelah ia lulus dan menguasai dengan baik. dengan haru tetap rendah hati, hanya untuk menjaga diri dan keluarga dari keburukan dan kejahatan orang.
Setelah itu maka pak Jumadi bisa tahu apa saja yang terjadi dengan keluarganya. Seperti setahun belakangan ini yang terjadi pada Parno dan Mamaknya. Dan selanjutnya anak sulungnya, hal itu membuat pak Jumadi geram sendiri. Pak Jumadi memilih diam bukan tak bisa marah dengan apa yang terjadi pada Anah. Sama halnya Parno waktu itu, akan terjadi sesuatu pada Parno dan Susi aku kejahatan orang sekitar. Namun pak Jumadi hanya bisa berdoa dengan harapan adik dan adik iparnya, baik-baik saja.
"Nduk apa pun yang di kasihkan ibu itu supaya kamu bisa cepat sekolah. Ini kan harus sebelum makan tadi, karena kamu ngambek jadi kami diam. Anah mau cepat sekolah kan."Kata pak Jumadi ketika melihat Anah menunduk. Dan Anah langsung mengambil gelas di meja dan meminumnya.
"Iya bu pak, tapi bosan minum obat dan jamu terus. Aku mau yang manis saja gak getir, kalau minum ini gak ada gulanya. Rasanya lidah aku tebal, lama hilang nya. Kalau beli jamu di pasar enak, dan manis gak kayak gini." Itulah Anah jika ingin tahu sesuatu, ngoceh kayak burung beo.
"Ini namanya jamu buat tambah darah, kalau yang di pasar itu beras kendur itu untuk capek."Jawab Nenek yang muncul dari dapur "Dan ini untuk napsu makan, supaya anah kalau makan banyak cepat sehat kan bisa cepat sekolah to." lanjut Nenek.
"Iya Nek nanti ya, aku kenyang."Menjawab ucapan Nenek.
Anah merebahkan diri di atas ranjang dan dia kepikiran dengan ucapan bu guru waktu di sekolah tadi."Aku harus sembuh cepat, pokok nanti hari sekolah supaya aku bisa ikut ulangan susulan. Biar saja Monik yang tidak naik kelas 2 asalkan jangan aku. Lagian Monik Belu bisa menulis apa lagi kenal huruf, gimana mau naik kelas juga. Itu namanya bu guru curang kan. Eh bu Guru kan tidak boleh curang, terus muridnya jadi apa dong."Anah berceloteh dalam hati.
pak Jumadi tersenyum melihat Anah menerka-nerka, yang akan terjadi kedepannya jika adiknya yang naik kelas.
"sudah jangan di pikirkan, besok Monik biar sekolah ya biar dia tambah pintar ya."Kata pak Jumadi pada Anah.
"Gimana Monik mau sekolah kan tadi bapak tidak di daftarkan sekolah."kata Anah.
"Kan tadi bapak menjaga kamu, bapak gak mau kamu pingsan lagi."Kata pak Jumadi.
"Ya sudah sekarang.....
*****Bersambung.....
__ADS_1