TAKDIR KU

TAKDIR KU
91.DASAR MALING


__ADS_3

"Woeee maling!" teriak Johan.


Anah pun menoleh dan tersenyum kikuk. Dia pikir rumah Johan kosong, ternyata ada Johan yan menyembul di jendela ruang tamu.


"Jo karena kamu sudah nongol sekalian aku petik ya?"tanya Anah.


"Sudah ketahuan aja izin, tadi ngambil-ngambil aja tuh."Kata Johan dengan tatapan sengit pada Anah.


"Ya elah Jo, kalau tau kamu di rumah aku minta dari tadi jadi aku tidak mengambil yang pada jatuh Jo."Kata Anah.


"Alesan macam apa itu sekali maling ya tetep maling kamu."Kata Johan.


"Johan aku akui aku ini memang maling, aku ambil yang sudah tak mungkin kamu ambil dan makan. Karena masih layak di makan ku ambil. Kenapa kamu selalu berkata pedes kaya cabe. Tapi perkataan mu gak akan mungkin cepat hilang seperti pedesnya cabe Jo."Kata Anah dengan nada tinggi.


"Eh aku ngomong itu benar kamu itu maling. meski pun yang kamu ambil yang jatuh dan busuk. Kalau tanpa izin yang punya juga maling. Maling rambutan busuk, dasar maling makanya punya pohon sendiri biar puas makan gak jadi maling.


Anah mengakui apa yang di katakan Johan. Kalau punya pohon rambutan sendiri, gak mungkin dia harus ngambil rambutan yang sudah jatuh di tempat orang.


Dan perkataan Johan sungguh menyinggung perasaan Anah. Harusnya kalau punya pohon rambutan banyak itu berbagi dengan orang lain. Yang tidak punya jangan sampai orang harus jadi maling juga.


Johan tak pernah berbaik hati sama Anah, kalau sama yang lain dia suka ngajakin petik bareng. Bahkan dia tidak perduli dengan Anah, mau sakit hati atau tidak. Terlebih lagi Johan tambah benci pada Anah. Karena ibu dan bapaknya selalu membela Anah.


"Johan aku minta rambutan ya."Ujar Anah, langsung berbalik badan dan memetik beberapa tangkai rambutan.



"Anah berhenti, main petik aja kamu!"teriak Johan saat Anah metik rambutan yang di samping rumah.


"Bodo wleee"Anah langsung lari pulang tak menghiraukan teriak Johan.


"Woeeeee maling kamu ya, DASAR MALING!" namun tidak di hiraukan oleh Anah.


"Awas aja nanti kalau dia nonton TV akan aku pelintir itu tangannya. Amit-amit kalau aku punya istri atau saudara kayak dia ih." Johan mengerutuk.


Anah sudah sampai rumah dengan raut muka sumringah. Dengan rambutan di tangan, langsung masuk tak lupa mengucapkan salam.


"Assalamualaikum..."Ucapnya dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam"jawab Nenek dan Monik.


"Ee mbak metik rambutan?"tanya Monik.



"Iya ini ayo makan sama-sama."Ajak Anah.


"Kamu metik izin apa gak?"tanya Nenek.


"Aku tadi kesel sama Johan Nek. Aku Lo cuma nutur yang di bawah pohon bukan yang di pohon. Eh aku di teriakin maling, sudah kata-kata pedes banget. Ya udah aku langsung izin aja dan petik itu rambutan dan kabur. Makanya dia teriak-teriak, kalau orang denger, paling dia yang di omelin. Lagian pelit banget, orang tuanya aja baik banget. Kenapa dia begitu ah apa dia anak angkat kali ya."Kata Anah.


"Eh kalau ngomong jangan sembarangan. kamu sama Monik saja beda, kamu cerewet kalau ngomong gak mau kalah. Tapi pikirannya masih kayak bocah cilik."Kata Nenek.


"Kan aku pintar, gak mau lah aku kalah mulu. Kalau masih kayak bocah cilik, memang aku sudah sebesar apa Nek? Aku ini yang di sebut kecil-kecil cabe rawit Nek." Dengan tersenyum manis dan tangan dada sama pipi.


Hal itu membuat Nenek agak jengkel, pedenya membanggakan diri sendiri.


Monik selalu diam, tapi dalam hati selalu ingin seperti mbaknya cantik, sehingga banyak yang suka dengan dirinya.


"Ye Nenek aku mana tau. Mungkin aku ini ngikutin Nenek, kan Nenek itu cerewet dan kemayu (centil) juga. Mungkin juga dulu waktu ibu hamil aku, kalau ketemu orang cerewet sama kemayu gak bilang amit-amit."Ucap Anah.


Deg


Nenek merasa di tampar oleh ucapan cucunya yang selama ini ia jadikan pelampiasan.


Bukan hanya saat dua tahun lalu ia mulai siksa. Tapi sejak dalam kandungan ibunya Anah mengalami penyiksaan.


Dulu yang di siksa memang ibunya, tapi secara tidak langsung, bayi yang di dalam kandungan ibunya merasakan semua itu.


Dan sekarang apa pun yang dilakukan oleh di tangkis oleh Anah. Kecuali jika pakai benda dan siksaan masih terima dan nangis.


"Emang kalau itu terjadi mana Nenek tau. kan ibu yang hamil bukan Nenek. Sini bagi Nenek rambutan satu tangkai yang kecil saja."ujar Nenek, mengalihkan pembicaraan yang sempat di bahas.


"Ni buat Nenek, besok aku mau beli aja ya Nek. Seribu kali Nek, biar dapat banyak. Dan belinya sama bude atau pade, kalau bisa jangan ada Johan. Males aku sama dia, orang punya rambutan banyak gak di jual juga gak mau berbagi. Emang dia mau mati ke timbun rambutan kali ya." Celoteh Anah.


"Huss kalau ngomong itu di pikirkan dulu. Jangan sembarangan nanti kalau gede jadi suami mu kamu sendiri yang susah."Kata Nenek.

__ADS_1


"Emang susah kenapa Nek?" tanya Monik. tertarik dengan ucapan neneknya.


"Kan Johan mati ke timbun rambutan, mbakmu bilang."Jawab Nenek.


"Eh amit-amit deh aku jadi istrinya. Ganteng sih tapi buat apa, orang pelitnya nauzubillah."Kata Anah sambil beranjak ke dapur.


"Kamu mau kemana? tanya Nenek.


"Ambil minum nek haus dari tadi ngomong terus."Sahut Anah, sambil jalan ke dapur mengambil teko air dan gelas.


Tak lama Anah kembali dengan tangan kanan membawa teko, dan tangan kiri membawa dua gelas plastik.


...****************...


Di tempat Johan.


Ada dua orang dewasa datang ke rumah dengan membawa kayu bulat dan dan bambu.


"Johan... mana maling nya? apa sudah kabur? Apa yang di maling? bapak dan ibumu mana?"tanya bapaknya Nuri dan adik iparnya.


"Malingnya sudah pergi pakde, itu Anah malingnya main metik aja padahal aku gak bilang boleh."Adu nya dengan wajah kesalnya.


"Ah kamu ini han, kirain apaan yang di maling."Kata pak leknya Nuri.


"Apa dia bilang minta tadi?"tanya pak Edi.


"Bilang minta setelah ketahuan ngambilin yang di bawah pohon, yang pada jatuh."Jawab Johan.


"Kan sudah bilang berarti dia gak maling Han,"ujarnya


"Ya maling lah kan saya tidak izinkan tadi pakde."Kata Johan dengan nada kesal, karena Anah di bela sama bapaknya Nuri.


"Kamu ini sama Anah pelit banget nanti dia gede tambah cantik, kamu suka dia gak mau sama kamu Han."Pak Edi mengejek Johan.


"Aku.....


*****Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2