TAKDIR KU

TAKDIR KU
27.MODAL DENGKUL


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, pak Jumadi juga sibuk mempersiapkan semua perlengkapan pernikahan Parno. Meski pun acaranya berlangsung di kediamannya wanita. Dengan acara sederhana hanya akad nikah, tapi yang namanya orang kaya. Berbeda mengudang sekampung itu cukup sederhana. Untuk menyesuaikan diri dengan orang kaya cukup berat terlebih laki laki. Dan apa lagi setelah menikah, Parno harus ikut pihak perempuan.


"Par ini mas beli tanah gak luas, hanya setengah hektar. Itu untuk mu, terserah mau kamu buat rumah. Apa mau buat ladang bisa kamu tanami jagung, singkong, apa mau karet."Kata pak Jumadi


"Lah mas kan aku nanti juga tinggal di rumah Susi. Kenapa aku harus bangun rumah di tanah ini. Itu tanah nanti bisa buat Anah kan mas. Mas kenapa berikan ke aku, kan aku gak enak sama mbak Inem. Mas kerja juga selalu bersama mbak Inem. Pasti itu yang buat beli juga ada uang mbak Inem mas."Kata Parno, merasa tidak enak hati sama kakak iparnya.


"Itu sudah di setujui oleh mbak mu, kamu itu laki laki. Masak gak malu, sebagai laki-laki bertanggung jawab penuh atas istrinya. Bukan asal di terima dan modal dengkul Par. Di mana harga diri mu sebagai laki-laki. Ini masih baru setahun dua tahun mungkin tak akan ada omongan. Tapi kita sebagai laki-laki itu pikir ke depannya. Lagian kalau keluarga Susi tidak mempermasalahkan status kamu.


Tapi nanti tak luput dari pembicaraan para tetangga. Orang laki-laki menikah hanya modal dengkul. Dari omongan itu bisa memicu pertengkaran dalam rumah tangga.

__ADS_1


Lagian kamu ini, gak cuma adek kadung ku saja, tapi sudah seperti anak ku. Anggap aja aku ini bapak, seorang bapak akan memikirkan kelangsungan hidup anaknya dan masa depannya."Kata pak Jumadi, menasehati Parno selaku kakak sekaligus orang tua.


"Iya mas, terima kasih atas semua yang mas berikan pada ku. Maafkan aku yang selalu membuat mas kecewa. Maafkan aku yang belum bisa balas semua kebaikan mas. Maafkan aku tak bisa menjadi kebanggaan, sebagai adik atau pun anak."Kata Parno yang kini memeluk kaki pak Jumadi, dan merebaknya kepalanya di paha pak Jumadi. Dan menangis sesenggukan, pak Jumadi juga meneteskan air matanya. Saat mendengar suara tangis adiknya.


Nenek dan bu Inem yang di kamar masing-masing pun ikut menangis. Mereka terharu mendengar ungkapan pak Jumadi dan Parno.


"Sudah gak papa, mas gak minta balasan apapun dari kamu dek. Mas cuma pengen lihat kamu menjadi orang yang bertanggung jawab. Sekarang kamu mau nikah, tidak usah neko neko. Pernikahan bukan sebuah main rumah rumahan. Tapi untuk sekali seumur hidup kalau bisa. Maka dengarkan nasehat mas, jangan pernah kamu menyakiti perasaan perempuan. Karena perempuan harus kita lindungi, kita jaga dan sayang. Berhenti menggoda para gadis, jaga perasaan istrimu.Walau kamu belum bisa menyayanginya sepenuh hatimu. Tetapi belajarlah untuk mencintainya, karena dia nanti yang akan melahirkan keturunan mu, faham?" tanya pak Jumadi, nasehat kembali di berikan kepada Parno.


Mereka berpelukan cukup lama untuk menyalurkan rasa sayang. Mereka sebagai kakak beradik dan sekaligus sebagai orang tua. Pak Jumadi memang selalu menjadi tempat sandaran Parno kakak sekaligus ayah dan ibu baginya. Karena iya tak merasakan kasih sayang ibunya, selayaknya anak anak yang lain.

__ADS_1


...****************...


Paginya keluarga pak Jumadi, mendampingi Parno yang akan menikah hari ini. Berikutnya dengan berjalan kaki mengiring pengantin pria. Hingga sampai saat ijab qobul pun di lakukan dengan lancar. Kini acara selesai, acara saatnya keluarga pak Jumadi pulang dan meninggalkan Parno.


"Ingat sekarang sudah punya istri, jangan lagi keluyuran. Jaga sikap dan perilaku, jangan bikin malu keluarga mu dan keluarga istrimu."Nasehat pak Jumadi sebelum pulang.


"Insya Allah mas doakan aku yang terbaik."Kata Parno.


"Pasti." jawab singkat pak Jumadi sebelum berjalan meninggalkan Parno.

__ADS_1


*****Bersambung...


cerita selanjutnya yaitu cerita inti. yaitu cerita anah yang sesungguhnya, dan adik sebagai pemanis.


__ADS_2