TAKDIR KU

TAKDIR KU
89.TAWARAN PAK YADI


__ADS_3

"Kapan kamu mau mulai bikin kamar mandinya Jum?"tanya pak Jarno.


"Lusa pak, besok saya ke tempat Parno sekalian beli semen. Biar siangan Parno Heri dan Sugi cari pasir dan batu bata." Jawab pak Jumadi


"Nih minum dulu Jum, ini juga ada singkong rebus.'' Ujar bu Kokom.


"Iya bu terima kasih sudah repot-repot."Ucap pak Jumadi.


"Apanya yang repot to, gak sama sekali silahkan."Bu Kokom berlalu ke dapur.


"Kalau kamu bisa pesan sama kidul pabrik padi itu. Sekalian pinjam gerobak untuk akut pasir. Pasir satu gerobak dulu juga gak papa, nanti kamu bisa kesana habis magrib."Ujar pak Jarno.


Pak Jumadi sudah di anggap anak sendiri sehingga sesuatu yang sampai padanya. Maka ia akan memberi pendapat mana yang baik untuk pak Jumadi.


"Ngeh pak nanti saya kesana, semoga masih dapat batu batanya. Kiranya seribu kurang tidak ya pak. Sekalian saya mau pasang di sumurnya, sekelilingnya biar tidak ambrol terus. Lama-lama lebar sendiri dan air jadi kurang jernih." Kata pak Jumadi.


"Kalau begitu pesan 2000 batanya, kirim 1000 bata dulu. Tapi sumur di bekas Paino itu bening juga, kalau mau mandi nyuci dan minum bisa dari situ. Cuma ya serasa mandi di sungai tidak ada aling-aling nya. Anak mu sering mandi sambil main dan petik jambu disini bareng Warto. Sekarang mamakmu juga gak terlalu kasar sama Anah. Tapi sering keluyuran gak jelas kemana, tak jarang juga anak-anak di ajak. Coba kamu tanya anak-anak nanti, kalau lagi gak ada mamakmu."Kata pak Jarno panjang lebar.


"Baiklah pak, nanti saya akan tanyakan pada anak-anak kalau sudah selesai bangun kamar mandi."Kata pak Jumadi.


"Lek kapan pulang?"tanya sugi yang baru keluar dari dalam.


"Tadi siang Gi, besok bantuin aku buat kamar mandi ya Gi."Ajak pak Jumadi.


"Oh ya lek siaplah pokoknya."Ujar Sugi dengan senyum sumringah.


"Baiklah, kalau begitu saya pamit pak saya mau pulang sebentar lagi magrib." Pamit pak Jumadi.


"Ya iya" sahut pak Jarno dan Sugi bersamaan.


Pak Jumadi langsung keluar dari rumah pak Jarno, di seberang jalan nampak Anah dan Monik. Sudah pakai kerudung dan siap bawa turutan dan obor.


"Pak aku sama Monik berangkat ngaji ya."Pamit Anah, Monik hanya diam dan mengangguk.


"Iya hati-hati ya jalan di pinggir, jangan bercanda kalau di jalan, takut ada motor."Pak Jumadi menasehati anak-anaknya, karena memang mereka suka becanda sambil berjalan.

__ADS_1


Pernah hampir tertabrak motor yang sedang berlalu, karena mereka kejar-kejaran dan nyebrang sembarangan.


"Ya pak" kedua bocah ini menjawab.


Anah dan Monik bersalaman dengan bapaknya dan berangkat ke musholla pak Musa.


...****************...


Malam hari tepatnya setelah makan malam pak Jumadi pergi kerumah pak Yadi.


Pak Yadi pembuat batu bata dan termasuk orang kaya di desa itu. Tidak jauh juga dengan pak Rudi, memiliki TV Anah dan Warto sering nonton ke rumah pak Yadi.


"Assalamualaikum," ucap pak Jumadi.


"Wa'alaikumsalam,"jawab pak Yadi dan keluarga yang sedang nonton TV.


"Mas Jum sini masuk, anaknya gak pada ikut?"tanya istrinya pak Yadi.


"Ya mbak, anak-anak masih ngaji tadi mbak."Jawab pak Jumadi.


"Mas Jum ke sini ada perlukah atau sekedar main?"pak Yadi langsung pada pokok tujuan.


"Wah pas sampean kesini sekarang mas, kebetulan Masi ada sisa 2500 bata. Besok saya antar kerumah pagi."Jawab pak Yadi.


"Alhamdulillah, kalau gini tenang saya tidak cari lain."Ujar pak Jumadi.


"Mau bangun langsung atau kumpul-kumpul dulu ini mas?"tanya pak Yadi.


"Rencana saya mau bikin sumur sama kamar mandi, lusa mas."Jawab pak Jumadi.


"Oh begitu soalnya kalau bangun rumah biasanya lebih makanya saya tanya mas. pasir mau sekalian tak cariin satu truk aja dulu. Kalau kurang nanti mas Jum tinggal bilang, saya siap bantu."Tawar pak Yadi.


"Saya niatnya kesini mau pinjam gerobak mas buat cari pasir, sekalian pesan bata."kata pak Jumadi.


"Wes sampean tinggal bilang cukup beres, sampean tidak capek. Tau sendiri jalan habis rumah tanjakan lumayan tinggi dan panjang. Tidak seperti depan rumah sampean mas, itu butuh tenaga. Kalau begitu biar sama-sama enak sampean ikut cari pasir. Tetap angkut pakai mobil ku, sampean cukup bayar 50 ribu rupiah, sudah dapat pasir dan bata. Kalau batanya 30 ribu, bagaimana setuju apa gak sampean." Tawaran pak Yadi lumayan menggiurkan.

__ADS_1


"Baiklah mas, saya tidak tawaran mas, kalau tidak memberatkan mas tentunya."pak Jumadi menerima tawaran pak Yadi.


"Tentu tidak to mas, kan saya ang menawarkan. Itu saya membantu meringankan tenaga mas Jum dan yang membantu. Toh saya tidak bisa membantu sampean bikin kamar mandi nya."Kata pak Yadi dengan senyum tulus.


"Ya ini saya sangat berterima kasih sama mas Yadi. Saya kesini ini juga atas petunjuk pak Jarno tadi. Saya sendiri bingung karena harus pesan sama siapa."Kata pak Jumadi dengan jujur.


"Ya sama-sama mas besok mungkin jam 8 saya antar batanya."Ujar pak Yadi.


"Baik mas. Kalau begitu ini uang nya sekalian."Pak Jumadi merogoh saku celananya, dan memberikan 1 lembar 50 ribu.


"Sebenarnya tidak harus sekarang uang nya, tapi saya terima ini uang karena sudah di depan mata."Menerima uang sambil bercanda.


"Hehehehe"


"Ya sudah kalau begitu saya permisi pulang, sudah isya pasti anak-anak sudah pulang."Pamit pak Jumadi.


"Oh ya iya, baiklah mas hati-hati di jalan. Bawa senter atau tidak seperti agak mendung?"tanya pak Yadi.


"Tidak mas, tapi masih bisa lah jalan Masi terlihat, assalamualaikum,"ucap pak Jumadi.


"Wa'alaikumsalam,"jawab pak Yadi dan istrinya.


Angin lumayan kencang, pak Jumadi berjalan cepat, supaya tidak kehujanan di jalan. Karena geluduk dan kilat sudah saling bersautan.


Buru-buru karena khawatir dengan kedua anaknya, sampai depan rumah pak Rudi. Melihat rumahnya sepi dan tidak menyala kan TV.


Melihat ke depan ada kobaran obor Yana mobat mabit karena angin. Sudah pasti itu anaknya dan gerimis pun mulai turun. Pak Jumadi berhenti di pertigaan, menunggu anaknya.


Saat Anah dan Monik berjalan angin kencang ada rasa takut. Terlebih hari ini dia han berdua jika sudah lewat rumah Wati dan Eka. Samar-samar di depan ada sosok berdiri sambil menghisap rokok. Bisa di tebak itu manusia buka hantu, suasana ini sangat mendukung rasa takutnya.


"Mbak itu di depan orang bukan ya, kok aku jadi merinding."Ujar Monik.


"Iya, eh itu orang deh kayaknya, soalnya lagi kayak hisap rokok."Kata Anah, yang sudah agak sesak dadanya, karena takut.


Kini mereka semakin dekat, semakin jelas juga jika itu orang berdiri di pertigaan.

__ADS_1


"Orang Mon seperti.....


*****Bersambung....


__ADS_2