
Tidak terasa sudah hampir satu minggu ini Anah di Jakarta. Yang awalnya Anah kalau malam menangis sesenggukan di kamar. Kini sudah terbiasa dengan suasana rumah bu Ida. Dan ini juga hari sabtu, di mana pak Hilmy, suaminya bu Ida libur kerja.
"Bu ini ceker ayam nya di girang sama tahu tempe juga?"tanya Anah.
Anah berinisiatif untuk memasak ceker ayam siap girang. Yang hampir setiap hari ada, sebab bu Ida jarang masak. Sebab ia memiliki baya dan balita dua. Anak perempuan pertama usia 3 tahun, anak perempuan kedua 1 tahun setengah. Dan bayi laki-laki usia 2 bulan.
(jangan tanya kenapa jarak mereka berdekatan, yang jelas mengejar target, yaitu bayi laki-laki)
"Iya Mar, emang kamu bis?"tanya bu Ida.
"Insya allah bisa bu kan sering lihat ibu masak. Tapi jangan suruh saya ganti gasnya, saya takut."Jawab Anah sambil cengengesan.
"Ya sudah hati-hati nanti kamu ke ciptaan."Ujar bu Ida, ada rasa khawatirnya melepas Anah masak.
"Iya bu."Kata Anah, langsung menyalakan kompor gas tersebut. Yang biasanya Anah hanya memasak air untuk termos air panas. Untuk persiapan anak-anaknya minum susu atau buat kopi dan teh.
Jam makan siang sudah selesai, Anah mencuci piring mereka. Anah di sini dapat merasakan kehangatan keluarga. Sehingga baru beberapa hari saja sudah belah. Setelah selesai pekerjaan nya Anah boleh istirahat mau tidur atau main ke depan sama para mbak sesama pembantu.
Anah tertarik dengan suara-suara yang mengundang jiwa penasaran Anah. Akhirnya Anah mengambil kursi plastik yang buat duduk kalau menyetrika. Kemudian dia Anah menaruh kursi plastik di pinggir tembok pembatas. Lalu naik dan melihat apa yang sangat berisik. Meski sudah jelas jika di dengar telinganya itu pertandingan sepak bola. Tapi masih penasaran jika belum melihat langsung. Tembok pembatas itu setinggi dua meter, sehingga dapat melihat dengan kursi plastik.
Setelah itu Anah kembali masuk dengan kursi plastiknya, lalu dia kembali ke belakang untuk mengambil pakaian yang sudah kering. Yang akan ia setrika, dari pada dia nganggur. Lumayan nanti sore ia bisa main di depan rumah bersama para pengasuh lain dan beberapa pembantu.
Sore hari ini ternyata Anah di ajak berkeliling untuk mencari makan malam. Di salah satu rumah makan, namun tidak untuk makan di sana. Bu Ida mengajak Yuna anak pertama nya untuk turun dan membeli makanan. Sementara bayi nya di serahkan pada suaminya.
__ADS_1
"Mar apa kamu betah kerja di rumah saya?"tanya pak Hilmy.
"Belum tau pak cuma saya sudah mulai biasa berada di rumah bapak."Jawab Anah
"Memang kemarin-kemarin kamu tidak nyaman gitu?"tanya Hilmy, yang merasa dirinya dan istrinya memperlakukan Anah dengan baik.
"Bukan tidak nyaman, tapi belum biasa jadi seperti asing gitu."Jawab Anah dengan senyum terpaksa, karena merasa tidak enak.
"Tapi ibu tidak pernah marah sama kamu kan?"tanya pak Hilmy.
Karena seharian berkerja tidak tau apa saja yang di lakukan istri dan pembantu nya di rumah.
"Tidak pak, lagian kalau marah juga pasti ibu bilang sama bapak. Kalau saya di marahin pasti juga karena saya ada salahnya. Jadi menurut saya wajarlah kalau ada kemarahan, untuk kebaikan saya kedepannya."Jawab Anah, membuat pak Hilmy terperangah.
Anah cuma duduk di SD negeri, dan tinggal di pelosok negeri. Namun tidak di sangka bisa mengambil sikap tegas dan baik. Apa mungkin di balik kepolosan Anah ini, ternyata dia orang yang cerdas. Banyak belajar dari pengalaman hidupnya, dan di balik sifat cerianya ada kerapuhan. Sehingga ia berusaha untuk mampu membuat orang lain merasa senang dan nyaman bersama dirinya. Namun sebaliknya berusaha nyaman berada pada tempat dan lingkungan.
"Ya pak, lihat nanti sampai sebulan mungkin baru akan tau saya betah atau tidak nya."Kata Anah.
Mereka tidak ngobrol lagi karena bu Ida juga sudah kembali. Lalu pak Hilmy melajukan mobilnya menuju ke rumah. Namun terjebak macet karena ada kecelakaan di jalan depan.
...****************...
Di kampung halaman.
__ADS_1
Pak Jumadi hari sudah tiga hari di rumah. Namum anak dan istrinya belum juga pulang ke rumah. Perasaan pak Jumadi menjadi kalut, sebab istrinya tidak pernah pergi selama ini. Malam hari pada kumpul ruang tamu, untuk nonton film sinetron.
"Pak kapan ibu pulang, kok lama ke rumah mbak Izah?"tanya Udin yang tiba-tiba menanyakan ibunya.
"Bapak tidak tau sampai kapan ibu mau pulang. Kamu doakan ibu biar bisa pulang dan selamat ya."Ucap pak Jumadi pada anak bungsunya.
"Iya pak, tapi aku kangen sama ibu."Kata Udin dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kamu harus belajar sabar, kamu kan anak laki-laki masak nangis kan malu"Kata pak Jumadi.
Pak Jumadi semakin terpojok dengan masalah ini. Saat ini dia tau kepergian istri dan anaknya itu karena mamaknya. Ini yang dari dulu ia takutkan, jika istrinya sudah tidak mampu menahan beban perasaannya. Tapi a juga tidak mungkin mengusir ibunya. Biar bagaimana pun kelakuan buruk ibunya, itu adalah perempuan yang sudah melahirkan dia ke dunia ini. Jika harus memiliki antara istrinya atau ibunya. Ia tidak akan pernah sanggup karena bagi nya kedua perempuan itu adalah hidup nya.
Pak Jumadi melihat Monik yang merangkul Udin yang sedang menangis. Dan Udin yang memang sifat yang unik. Kadang tidak ada yang tau apa penyebabnya itu. Udin sewaktu waktu menangis sejadi-jadinya sampai dia gegulungan di lantai. Dan itu pasti dia sampai puas menangis. Jika sudah puas pasti akan minta mandi karena badan kotor. Bahkan seperti tidak pernah terjadi apa-apa, hal itu yang membuat yang lain bingung.
Ketika Udin menangis tidak akan ada yang bisa membuat nya diam. Kecuali dirinya sendiri, seperti ada beban yang berat. Maka dari itu Udin berusaha melepaskan diri dari beban dengan menangis.
(Dan hal itu sampai sekarang ya guys, setiap banyak beban pikiran yang membuat dirinya tertekan. Tidak ada yang bisa tahu titik permasalahan jika tidak cari tahu tentang dirinya sebelum kejadian.) karena orang nya tertutup.
Monik menghampiri bapaknya yang melambaikan tangan, sebagai isyarat memanggil dirinya.
"Iya pak." Jawab Monik sambil duduk di kursi samping bapak nya.
"Biar kan adikmu menangis dia kangen sama ibu. Nanti kalau sudah merasa tenang, pasti berhenti sendiri." Ucap pak Jumadi.
__ADS_1
"Lagian ibu.....
*****Bersambung.....