TAKDIR KU

TAKDIR KU
135. IBU KEMANA


__ADS_3

"Lagian ibu kenapa lama sekali di sana, ini sudah lebih dari satu minggu." Kata Monik.


"Apa sebelum pergi ibumu ada ngomong sesuatu pada mu?"tanya pak Jumadi.


"Gak si pak. Cuma mbak dan ibu habis berantem sama nenek."Kata Monik.


Pak Jumadi naik pitam, langsung menoleh ke mamaknya. Apa yang membuat Anah dan istrinya harus pergi pasti juga karena mulu maknya.


"Apa benar yang di katakan Monik Mak?"tanya pak Jumadi.


"Ya memang aku marah dengan Anah, dan aku menjewer kuping dan menjambak rambutnya. Karena aku kesal saat dia bikin kue di rumah Halimah. Di bilang ke Halimah kalau mamakmu ini Mak lampir. Orang yang jahat suka ganggu ketenangan orang. Terlebih ibunya dan dia, selalu hidup dalam ketakutan dan tertekan. Padahal kalau mereka tidak salah juga mamak gak marah."Kilahnya Nenek.


"Tapi apa yang di katakan oleh Anah ada benarnya. Apa mamak tidak ngaca, Anah dan ibunya itu selalu salah di mata mamak. Kapan benarnya, dan kapan keluarga ku akan adem ayem Mak? Kalau mamak tidak bisa akur dengan menantu di sini. Sementara di sana mamak tidak di anggap ada sama mantunya. Inem dari dulu mengalah Mak, karena dia merasa tidak punya mamak. Maka mamak lah mamaknya, tidak pernah dia membenci mamak. Tapi mamak lihat menantu yang mama bangga-banggakan, tidak menganggap mamak siapa-siapa. Bahkan anak kesayangannya mamak itu lupa aku dan mamak. Dia lebih memilih keluarga istri daripada keluarga nya sendiri."Pak Jumadi meluapkan emosi dan kekesalannya.


Udin yang tadi menangis, langsung diam melihat dan mendengar bapaknya berbicara dengan nada tinggi pada mamaknya. Yang Udin tau mbak dan ibunya memang berantem beberapa sebelum ibu dan mbaknya pergi.


Monik mencerna setiap ucapan bapaknya. Sekarang dia tau kenapa ibu dan mbaknya pergi. Pasti ingin menghindari kemarahan neneknya. Lalu Monik mengingat perlakuan neneknya pada mbaknya beberapa tahun lalu. Di mana waktu ia tinggal bersama nenek dan mbaknya. Sang nenek mesti marah tidak pernah main tangan padanya. Berbeda dengan apa yang neneknya lakukan pada mbaknya itu. Tidak jauh berbeda dengan yang kemarin, sekarang ia tau kenapa dulu mbaknya sampai memberikan luka di lututnya.


Nenek tidak berkata apa-apa lagi, ia hanya berpikir bahwa apa yang di katakan oleh anaknya itu benar. Menantu yang satu ini tidak pernah marah. Mungkin karena dia sudah keterlaluan di depan menantunya itu ia melampiaskan kekesalannya. Padahal selama ini Anah tidak pernah melawan, sekarang dia tetap tidak melawan. Seandainya Anah melawan sudah pasti dirinya bisa di banting dengan Anah.


Pak Jumadi mengajak Udin untuk ke kamar, ia tidak mau berhadapan dengan mamaknya. Yang akan membuat dirinya di kuasai nafsu setan, dan menjadi kan dirinya rugi sendiri.

__ADS_1


"Adek bobok yo, sudah malam besok sekolah kan? bapak juga akan berangkat lagi ke kawasan. Kasihan mas Ses dan yang lain nanti kehabisan bahan makanan."Ajak pak Jumadi sambil menuntun Udin ke kamar.


Monik juga memilih untuk mematikan tv dan pergi ke kamar untuk istirahat. Meski pikiran melayang kemana-mana dan tidak bisa langsung terpejam menikmati mimpinya. Tapi dia bisa menghindari neneknya, yang secara tidak langsung membuat ibu dan mbaknya pergi dari rumah. Dan sekarang entah kemana keberadaan ibu dan mbaknya. Monik juga merasa jika ibunya tidak mungkin di kampung yang dulu lama begini.


Di kamar pak Jumadi memeluk anak bungsunya, di elusnya dari tadi namun bukan nya tidur malah menatapnya.


"Kenapa malah melotot begitu, kalau besok kesiangan kamu telat sekolah lo."kata pak Jumadi dengan lirih.


"Aku kangen ibu pak, kalau ibu pergi ke kawasan pasti ibu gak lama lagi pasti pulang. Ibu kemana, kalau ibu tidak pulang aku tidak punya ibu lagi. Huhuhuhuhu ibu.....," tangisnya pilu terdengar sampai nenek yang berada di kamar nya.


"Huss... tidak boleh berbicara buruk begitu. Bapak akan cari kalau dalam sebulan tidak pulang. Untuk sekarang Udin doakan ibu dan mbak baik-baik saja ya. Insya Allah ibu dan mbak akan pulang bapak janji akan bawa ibu pulang nanti."Ucap pak Jumadi, hatinya terasa diiris mendengar ucapan anak bungsunya. Ingin rasanya menjerit, karena sesaknya dada saat melihat air mata anaknya.


...****************...


sehari telah berlalu, malam ini pak Jumadi sedang termenung di teras dengan kopi di sampingnya. Tatapan mata jauh memandangi pemandangan nan indah di sana. Berkelelip lampu-lampu di pedesaan dan kota dan bintang di langit biru.


Ia teringat anaknya yang sangat suka duduk di tempat ia duduki ini. Bisa sedikit menghibur memang, tapi tidak untuk pak Jumadi. Kini bayangan Anah mutar-mutar di pelukan matanya. Dan pikiran nya penuh dengan istri dan gadis kecilnya.


Sementara Seswanto bingung dengan sikap bosnya itu. Seperti sedang banyak masalah yang sedang di hadapinya. Di perhatikan sejak datang pagi tadi, bosnya tidak banyak bicara bahkan banyak melamun. Ada rasa penasaran yang hinggap di hatinya, ingin bertanya tapi takut salah. Sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya ada apakah gerangan.


"Lek,"panggil Seswanto.

__ADS_1


"Iya Ses,"jawab pak Jumadi dengan menoleh pada Seswanto.


"Apa yang lek Jum pikirkan?" tanyanya.


"Bibi mu dan Anah belum pulang Ses."Jawab pak Jumadi dengan raut wajah sedihnya.


Seswanto kaget tidak pernah melihat pak Jumadi seperti ini sebelumnya. Tampak begitu rapuh, seperti masalah yang dihadapi tidak ringan. Dan dia tau kalau Bu Sarinem tidak pernah pergi lama. Tapi apa yang membuat bu Sarinem pergi dan hanya membawa Anah.


"Tak kira dia sudah pulang, maka aku di sana agak lama. Mana si Udin semalam menangis, dan rewel. Sebenarnya ke mana mereka aku tidak bisa menjangkau nya. Bahkan hati ku berkata kalau bibi mu dan Anah tidak di sana." Kata pak Jumadi dengan meneteskan air mata yang sudah tak terbendung lagi.


Hal itu membuat Seswanto berpikir bahwa Bu Sarinem pergi jauh tidak mungkin kalau deket hanya membawa Anah yang sudah bisa di ajak kerjasama. Mungkin dengan begitu tidak harus mengeluarkan biaya yang besar untuk hidup berdua. Dan Seswanto berpikir apa mungkin ini terjadi, ada hubungannya dengan nenek Irah.


"Lek apa di rumah ada masalah sebelum bibi dan Anah pergi?"pertanyaan Seswanto sangat tepat. Pak Jumadi hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Seswanto.


"Apa itu juga karena bertengkar dengan nenek Irah?" tanyanya lagi membuat pak Jumadi langsung menoleh pada Seswanto.


"Kira-kira apa pendapat mu untuk masalah ini. Apakah kamu ada solusinya, bagaimana bisa membawa bibi mu pulang?"tanya pak Jumadi.


"Begini lek.......


*****Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2