TAKDIR KU

TAKDIR KU
57.GUNDUL MU


__ADS_3

"Ya sudah terus tujuan mu ke sini apa?"tanya pak Jumadi.


Aku ke sini mau jemput mas, kalau bisa besok pagi kita langsung pulang mas." Lalu Parno menceritakan tentang Anah dan sesuai dengan cerita Angga padanya dan keadaan Anah sebelum Parno tinggal kesini.


"Sebenarnya mas mau pulang besok, mbak yu mu dari kemarin ngajak pulang karena kami kerja pun gak bisa konsentrasi pikiran tetap ke Anah."Kata pak Jumadi, dengan muka sendu.


Sedangkan bu Sarinem sudah meleleh air matanya, dari tadi hanya jadi pendengar. Tapi sekarang dia yang di dengarkan, bahkan sampai sesenggukan. Mungkin juga karena hormon kehamilan, yang membuatnya begitu.


Pak jumadi merangkak ke arah bu Sarinem, lalu menarik dalam pelukan. Tak terasa pak Jumadi pun ikut meneteskan air mata.


Parno yang melihat mbak iparnya menangis pilu juga gak tega. Parno menunduk ketika melihat masnya dan mbaknya menangis. Ia ikut sedih ya memang dia sedih dari rumah hingga sampai sini. Akhirnya luruh juga air matanya, ia juga merasa bersalah. seharusnya ia tidak menceritakan sampai detail juga, jadi tidak akan membuat mereka sampai seperti itu.


"Mas besok habis sholat subuh kita langsung pulang ya huhu....?"tanya bu Sarinem di sela-sela menangis yang masih sesenggukan.


"Iya kita pulang habis subuh, tidak usah masak." Kata pak Jumadi menenangkan istrinya.


Par besok kita jalan ke arah pasar tadi. Tolong bantu bawa tas sama nanti kalau monik minta gendong. Soalnya mbak yu mu lagi isi, mas mau bawa kopi buat kita ongkos pulang."Ujar pak Jumadi.


"Ya mas, sudah berapa bulan mas?"tanya Parno.


"Baru jalan dua bulan ini, mudah mudahan nanti tidak hujan jadi jalan tidak licin."Kata pak Jumadi "kamu yang sabar ya nanti kalau sudah waktunya pasti kamu di kasih." lanjutnya.


"Mas emang ta....." belum selesai, sudah di jawab.


"Iya. Kelihatan dari wajah mu tu."Ucap pak Jumadi sambil menatap wajah Parno yang terlihat sedih.


"Sabarlah Par, lagian Susi masih 17 tahun ini, masih banyak waktu buat kamu pacaran dulu."Kali ini bu Sarinem yang bicara. Tapi sama sekali tidak tau jika istri Parno sudah hamil kemarin.


"Iya kalau mas kan dulu lebih parah dari kamu Par. lamar mbak yu mu dari umur 14 tahunan, nikahnya 4 tahun kemudian. Habis mas juga gak bisa langsung gelut di ranjang, kayak kamu. Perlu berbulan-bulan mas harus bisa ngajak gelutnya. Begitu gelut ternyata langsung jadi Anah nggak nyangka aja."Cerita pak Jumadi, ya itu dulu Parno belum begitu paham.


"Iih mas kok bahas kita yang dulu sih, kan aku malu sama Parno."Kata bu Sarinem, dengan nada manja dan malu.


"Ya gak papa kan tadi kasih gambaran buat Parno biar dia gak sedih dan semangat nanti buat gelut sama Susi."Kata pak Jumadi, tangannya sambil mengusap kepala istrinya.

__ADS_1


"Sudah ngobrolnya, ini sudah malam besok kita kesiangan ayo tidur." merebahkan istrinya lalu ia ikut merebahkan tubuhnya di sebelah istrinya. "Par tidur ya begini keadaannya maaf gak kasuran cuma beralas tikar. Karena kalau tidak akan terlalu dingin, itu sarung buat selimut."Kata pak Jumadi, sambil memberikan sarung pada Parno.


"Iya gak papa, yang penting nanti gak nonton mas gelut sama mbak yu." canda Parno sambil tertawa.


"Gundul mu, emang aku hewan gak pakai otak kalau gelut."Menabok lengan Parno. Sedangkan bu Sarinem sudah tidak berani menatap Parno, karena malu. Pak Jumadi menghadap istrinya, di usapnya perut istrinya dengan lembut. Dan mencium pipi istrinya, ia sengaja di depan Parno yang masih menatap mereka.


"Iih mas malah pamer"dengan nada kesal.


"Lagian suruh tidur malah lihatin terus."Tidak mau ngalah dari adiknya.


Parno balik badan membelakangi masnya, kesel juga sudah dingin tidak ada yang di peluk biar anget. "mas dingin gak bisa tidur, mbak yu sudah tidak belum?"tanya Parno, karena merasa dingin.


"Eem dah kenapa emangnya?"tanya balik, pura pura gak tau.


"Gantian peluk aku biar bisa tidur." Jawab Parno yang sudah telentang menatap pak Jumadi.


"Astaghfirullah Par kamu itu ya?" geram sekali dengan adiknya itu. "sudah dewasa belum sih, manja sama tingkah mu masih kayak bocah. Kurang kenyang apa dengan pelukan hangat mas?"tanya pak Jumadi, yang sudah bergeser memeluk adiknya. Seperti ia memeluk istrinya tadi, walaupun ngomel tetap ia lakukan.


"Hehehehe nanti aku kalau ke sini ajak istri jadi gak minta di peluk mas lagi."Kata Parno dengan cengengesan.


"Iya."langsung memejamkan mata, takut jika masnya marah.


...****************...


Keesokan harinya tepat jam sebelas mereka sampai di loket. Tempat Parno janjian dengan tetangganya kemarin.


"Mas jum" teriak nya


"Eh ya mas sudah lama di sini. Tadi Parno cerita sudah janjian sama mas Roni."Kata pak Jumadi setelah sampai depannya Roni.


"Iya mas Jum tinggal cari ojek satu aja."Ujarnya.


"Iya sebentar tak cari buat istri dan anak." langsung menghampiri tukang ojek kebetulan sudah hapal dengan pak Jumadi.

__ADS_1


"Mas saya cuma butuh ojek satu itu sudah di jemput tetangga saya." Merasa gak enak juga, biasa pakai dua ojek.


"Oh seperti mendesak pakai di jemput mas, soalnya itu yang bareng mas, berangkat kemarin siang."Ujar tukang ojek.


"Iya anak pertama saya sakit keras, jadi adik saya jemput mas." Jelas pak Jumadi.


"Oh saya turut prihatin ya mas semoga anaknya cepat sembuh, dan sehat kembali." Para tukang ojek mendoakan kesembuhan Anah. "Mari mas saya antar." Ajak tukang ojek.


Langsung mereka jalan menuju kampungnya pak Jumadi. Setelah perjalanan hampir satu sampai juga ke rumah pak Jumadi bahkan tukang ojek ikut masuk membawa barang pak Jumadi, dan menjenguk Anah yang terbaring lemah. Bahkan ikut mengusap kepala Anah, jadi tau anak itu sakit parah.


"Ya sudah mas saya balik ke pangkalan ya. semoga Allah berikan kesembuhan."Kata tukang ojek itu.


"Gak usah mas biar buat tambahan berobat anaknya. Saya senang bisa antar mas dengan selamat sampai rumah.


"Tapi mas..."


"Saya tau mas maksudnya, tidak apa-apa, benar saya senang bisa antar sampai rumah. sekalian saya bisa jenguk si kecil."Kata tukang ojek.


"Terima kasih mas atas kebaikannya semoga Allah yang balas."Ucap pak Jumadi.


"Sama-sama mas. saya permisi"tukang ojek pun langsung pergi.


"Saya juga mas Jum, langsung pulang. Par kamu mau bareng gak?"tanyanya Roni pada Parno setelah pamit pada pak jumadi.


"Mas ini buat beli bensin."pak Jumadi memberikan uang pada Roni.


"Gak usah mas kan yang kemarin di kasih Parno masih. Itu buat berobat Anah aja, kan saya sudah bilang sama Parno kemarin."Kata Roni.


"Par yakin gak mau bareng? emang gak kangen sama Susi?"tanya Roni, meledek Parno.


"Iya tu, semalam aja d...."belum selesai bicara Parno langsung samber. Takut pak Jumadi membeberkan masalah semalam.


"Iya aku ikut, mak, mbak aku pulang."Parno langsung mendorong Roni keluar dari rumah itu. Pak jumadi hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


*****Bersambung...


__ADS_2