
"Dia harusnya kelas 3 SMP, umur dia itu sudah 16 tahun. Karena dulu dia bareng sama kakak ku sekolahnya."Jawab Ani.
"Dan sekarang dia sudah lulus semua."Celetuk nah.
"Lulus apanya, sekolah aja gak naik-naik juga."Kata si Dina, ketua kelas.
"Kamu itu harus cermat Din, dia sudah gak perlu perjuangan kan nilai yang bagus. Gak perlu sekolah tinggi-tinggi sudah surat kelulusan."Kata Anah.
Surat kelulusan apa dia SD saja tidak lulus, apa lagi sekolah lain."Kata Dina.
"Surat nikah. Hahahahaha." Anah tertawa lepas, lupa sebelah ruang kelas adalah ruang guru. Dan hanya di sekat dengan dinding kayu papa. Sehingga obrolan mereka terdengar oleh para guru yang sudah siap mengajar.
"Ada saja itu anak mengganti pribahasa."Ujar ayu.
"Memang anak satu itu berani, apa lagi kalau Marasa benar."kata bu Wayang.
Bu Ayu dan bu Wayang adalah orang ber suku Bali. Dan asli berkelahiran Bali Denpasar, pindah tugas ke Bandara Lampung.
Kembali di kelas Anah.
"Selamat pagi anak-anak."Sapa pak Safrudin.
"Selamat pagi pak."Serentak para murid menjawab sapaan pak guru.
"Sepertinya gembira sekali, ada apa ini anak-anak?"tanya pak Safrudin.
"Sebenarnya gembira pak, tapi itu kami lagi bahas Mimin."Jawab Dina.
"Oh Mimin, apa ada yang mau nyusul Mimin nikah?" tanya pak Safrudin.
"Tidak pak."Kompak semua murid perempuan.
"Yakin nih jangan nanti baru terima ijazah. Bapak dapat undangan pernikahan dari kalian?"tanya pak Safrudin dengan senyum menggoda para muridnya.
"Insya Allah tidak pak."Kompak lagi.
"Awas saja nanti kalau ada yang datang ke rumah bapak cuma kasih undangan. Pas datang ke acara nikahan, bapak jewer kupingnya."Ancam pak Safrudin.
"Baik cukup sampai disini. Kita mulai belajar, sesuai jadwal hari ini matematika. Siapa yang nilainya kurang dari sepuluh, maka akan bapak hukum dengan rotan. Sesuai nilai yang di dapat, jika dapat lihat maka lima juga hukumannya."Tegas pak Safrudin.
"Yah..."Seru semua murid.
"Dan tidak ada yang mencontek,"Kata pak Safrudin.
Semua murid mengerjakan tugas dengan serius dan tidak ada yang mencontek. Bagaimana mereka mau mencontek, pak Safrudin ini memiliki mata jeli. Sehingga sangat mudah menemukan murid yang mencurigakan.
__ADS_1
Dan selama mengisi soal pak Safrudin berdiri tegak mengawasi para muridnya. Dan supaya riel nilai murid, seperti sedang ujian nasional saja.
"Waktu tinggal 5 menit lagi. Siapa yang sudah selesai kumpulkan di meja guru."Perintah pak Safrudin.
Yang sudah selesai langsung maju dan meletakkan buku di meja guru. Sesuai instruksi pak Safrudin, yang belum selesai pun segera menyelesaikan.
"Silahkan istirahat 15 menit."Ujar pak Safrudin.
"Baik pak,"lalu pada keluar kelas.
Lima belas menit kemudian pak Safrudin memberi kode dengan bertepuk tangan.
"Prok Prok Prok"
Para murid langsung masuk kelas, dengan perasaan tegang tentunya. Mereka berdebar-debar berapa punya nilai, dan akan kena pukul berapa.
"Sesuai namanya yang bapak sebut maju dan lihat nilai kalian. Sebut dan selanjutnya berapa hukuman yang harus kalian terima. Dan Alhamdulillah hari tidak ada yang bisa lolos dari hukuman."Ucap pak Safrudin dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.
"Dina Gayatri," setelah yang di panggil tiba di hadapannya "berapa rotan yang harus kamu terima?"tanya pak Safrudin.
"Satu pak."Jawab Dina.
"Baik, mana telapak tangannya."Pinta pak Safrudin.
Jika mendapat hukuman rotan satu, itu artinya Dina mendapatkan nilai 9. Begitulah seterusnya para murid maju satu persatu sesuai panggilan.
Dan yang terakhir bikin pak guru satu ini geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak di mana-mana pada pengen dapat dikurangi hukumannya. Ini malah minta lagi, sehingga temannya bingung. Dan terjadilah tawar menawar di meja guru itu.
"Mariana," panggil pak Safrudin.
Anah maju ke depan dengan senyum melihat nilainya.
"Berapa rotan yang kamu dapat?"tanya pak Safrudin.
"Dapat tiga pak,"jawab Anah dengan santai.
Pak Safrudin tersenyum "kamu dapat nilai berapa?"tanya pak Safrudin dengan tatapan penuh arti.
"Delapan pak."Jawab Anah.
"Lalu kenapa kamu bilang dapat rotan tiga?"tanya pak Safrudin sambil tersenyum menggoda dan melirik murid lainnya.
Para murid menganga, karena bingung. Bahkan mereka pada berbisik sesama teman sebangkunya.
"Ih Anah gimana sih, kalau nilai delapan harusnya dua. Kenapa jadi tiga, di bilang bodoh ngitung dapat delapan."Bisiknya.
__ADS_1
"Iya ya, kenapa bodoh, orang pengen di kurangi ini malah nambah."Balas berbisik.
Kembali ke Anah, yang masih tawar-menawar dengan guru.
"Kan itu yang bapak coret tiga." Jawab Anah masih santai.
Membuat pak Safrudin geretan campur gemes. Bingung juga harus bagaimana dengan anak satu ini. Ada saja tingkah polah nya, sengaja atau gimana. Pak Safrudin sudah tidak mau ambil pusing.
"Apa kamu yakin? dengan nilai delapan di pukul tiga kali, coba tanya dengan teman mu."Kata pak Safrudin sambil menyangga dagu dengan tangan kirinya.
"Kenapa saya harus tanya mereka pak?" tanya Anah.
"Ya mungkin teman-teman kamu punya jawaban, kamu harus dapat pukul berapa?"Kata pak Safrudin.
"Bapak ini kelamaan, ini lo sudah jelas itu ada coretan bapak tiga juga."Kata Anah.
"Yakin gak nyesel nih?"tanyanya, sudah capek juga ngadepin murid satu ini pikirnya.
"Yakin pak." Jawab Anah dengan senyum dan santai.
"Baiklah sesuai permintaan mu Mariana." Lalu pak Safrudin pun memukul telapak tangan Anah.
"Terima kasih pak,"ucap Anah.
Setelah itu Anah kembali ke tempat duduknya dengan senyum tipis. Karena ada rasa ngilu di telapak tangan. Bahkan tadi teman temannya Anah ada yang nangis. Karena dia dapat pukulan lebih dari lima.
Kalau yang perempuan pasti ada yang nangis tapi yang laki-laki lebih kuat. Biar pun ada yang dapat 8 pukulan, hanya meringis nahan sakit.
"Ih Anah kamu itu gimana sih? coba kamu hitung kalau sepuluh di kurang delapan."Ujar Ani yang geregetan sama Anah.
"Aku yang mau memang kenapa? Bonus buat pak Safrudin. Siapa suruh bikin kita pusing dan tegang. Tadi kamu lihat gak pak Safrudin pusing ngadepin aku?"tanya Anah pada Ani.
"Jangankan pak guru, kita saja pusing lihat kelakuan mu An. Ada-ada saja kamu ini, di mana-mana orang gak mau di pukul. Lah kamu malah minta, sini lihat tangan mu."Kata Prehatin, bicara sambil menarik rambut kepangnya Anah.
"Ini kalau mau lihat, kenapa? kamu pasti lebih sakit lagi kan? Secara kamu dapat enam ya?"tanya Anah pada Prehatin, sambil memperlihatkan telapak tangannya.
"Memang kamu gak merasa sakit? perasaan tadi aku lihat pel Safrudin mukulnya sama rata. Cuma beda jumlah nya saja, kamu mala santai to?"tanya Prehatin heran pada temannya satu ini.
"Sudah biasa aja kali, cuma di pukul sedikit aja, kenapa harus nangis sih." Kata Anah santai kayak di pantai.
" Dasar ratu kepang." Kompak Ani, Prehatin, Nyoman dan Gusti.
Setelah itu mereka istirahat lagi, bertepatan dengan jam istirahat dengan kelas lainnya.
*****Bersambung....
__ADS_1