TAKDIR KU

TAKDIR KU
145.MEMINTA MAAF


__ADS_3

"Iya mas maaf aku tidak mau anak-anak tersiksa lagi."Kata bu Sarinem.


"Mak, mamak jangan lagi lukai hati istri ku dan Anah. Kalau mamak masih ingin melihat aku hidup."Kata pak Jumadi sambil menatap wajah mamaknya yang kini menangis dalam diam.


"Maafkan mamak Nem, maafkan nenek Anah." Yang kini memeluk Anah dengan erat.


Nenek menangis sambil memeluk cucu pertama dengan begitu erat. Rasa bersalah pun membuat dirinya lemah, karena bayangan perlakuan nya pada Anah. Tangisnya Anah terngiang-ngiang di telinga nya, sungguh menyayat hati siapa pun yang mendengar nya.


Kini berdampak pada dirinya sendiri, seberapa besar penyesalan yang ia rasakan tidak akan bisa di lupakan. Meski pun mendapatkan maaf tidak tidak di pungkiri. bahwa Anah saat ini bisa memaafkan, tapi tetap saja tidak bisa menghilangkan bekas luka di hatinya.


"Iya nek aku sudah maafkan nenek kok,"kata Anah yang membalas pelukan neneknya, namun matanya masih terus menatap kedua orang tuanya.


Anah menatap kedua orang tuanya, ingin tahu apa yang akan bapaknya lakukan setelah ini. Dirinya tidak akan bisa menerima jika kedua orang tuanya berpisah atau kehilangan bapaknya. Dia tahu selama ini beban bapaknya lebih berat dari pada dirinya. Anah berusaha untuk tidak lagi merasa dikhianati oleh bapaknya sendiri. Mungkin ini sudah menjadi jalan takdir nya, yang tidak bisa sekolah lagi.


Anah pun bertekad akan belajar mandiri, tidak akan lagi membuat bapaknya terbebani. Karena tidak ingin ini terjadi lagi dan menjadikan bapak putus asa. Dan berujung dengan cara yang di benci Allah, dengan bunuh diri bentuk apa pun.


Anah melepaskan pelukannya dengan neneknya lalu melangkah ikut memeluk bapaknya. Lalu menoleh pada Monik dan Udin yang masih menatap dirinya dan kedua orang tuanya. Ia pun memberi kode dengan jarinya. Supaya ikut mendekati orang tuanya, sehingga membuat mereka berjalan dengan ragu untuk ikut memeluk bapaknya.


"Bapak, bapak gak boleh m*ti," Kata Udin "nanti gak punya bapak huhuhu." Terdengar tangis yang menyayat hati siapa pun.


Pak Jumadi melerai pelukan pada istrinya, membukukan badan untuk mengangkat Udin dalam gendongan.

__ADS_1


"Iya gak jadi, maafkan bapak ya. Sekarang Udin bobok sama bapak dan ibu yuk, bapak pengen bobok sama ibu."Ucapnya dengan mengusap air matanya sendiri, lalu mengusap air mata Udin.


Bu Sarinem, Anah, Monik dan nenek juga mengusap air matanya masih. Dengan senyuman yang sangat senang, karena pak Jumadi tidak lagi melakukan untuk mengakhiri hidupnya.


Nenek mendekati menantunya, lalu memeluk tubuhnya. Meminta maaf, ini ia lakukan juga karena tidak ingin anak bunuh diri. Hanya karena ulah yang ia lakukan, pada menantunya dan cucunya.


"Nduk maafkan mamak ya, dan semua kesalahanku pada mu dan Anah. Ternyata mamak malah menyakiti hati anak mamak sendiri. Kamu jangan pergi lagi, kalau tanpa izin nya. Sekarang dia sangat kurus, karena tidak makan kalau belum merasa lapar."Kata Nenek, dengan lembut, meski itu berat di hatinya.


Tapi demi anaknya lah ia lakukan, karena tidak mau kehilangan anaknya yang dari kecil sudah ia telantarkan. Tapi anak juga yang selalu menutupi kekurangan-kekurangan dirinya.


Sebagai seorang ibu ia belum yang melihat anaknya putus asa. Pasti akan merasakan sakit hati dan sesak dadanya. Karena tidak ada seorang ibu yang mampu melihat anaknya menderita yang tak berujung. Apa lagi dirinya lah segala penyebab nya, bertubi-tubi ia menyakiti hati anaknya. Maka sakit hati yang ia rasakan tidak lah sebanding, dengan yang di rasakan anaknya.


"Iya Mak, aku memaafkan, aku juga tidak akan pergi tanpa pamit lagi."Kata bu Sarinem.


"Dek ayo kita tidur sudah malam. Anak-anak juga besok kan sekolah, ini aku dan Udin pengen tidur di peluk mu dek."Kata pak Jumadi dengan tatapan penuh arti. Baginya ia sangat bahagia ketika ibu dan ibu bisa akur hanya karena takut kehilangan dirinya.


Bu Sarinem tersenyum melihat tatapan suaminya itu. Ia tau jika suaminya yang memang merindukan dirinya. Namun bu Sarinem lebih senang lagi suaminya tidak lagi melakukan hal yang sangat di benci Allah. Dirinya berharap apa pun masalah yang akan datang. Suaminya tidak lagi melakukan hal itu lagi, dan berharap bahwa dirinya bisa bersabar lagi untuk menghadapi mertuanya.


Entah mengapa hati berkata apa yang di katakan oleh mertuanya. Penuh keterpaksaan, tidak setulus hati, mungkin ini semua ia lakukan. Karena tidak ingin anaknya melakukan hal yang seperti tadi bahkan lebih lagi.


Setidaknya mertuanya tidak akan menyakiti Anah, walau pun itu terpaksa. Itu lebih baik dari pada seperti kemarin, karena sampai kapan pun ia tidak akan rela.

__ADS_1


"Iya mas, mas duluan ke kamar sama Udin, aku mau ke kamar mandi dulu."Kata Bu Sarinem, karena ia ingin cuci muka dan buang air kecil.


"Ikut," ucap keduanya, siapa lagi kalau bukan pak Jumadi dan Udin.


Karena keduanya takut bu Sarinem pergi lewat pintu belakang, dengan alasan ke kamar mandi. Belum sehari ada di rumah maka kedua lelaki ini, jadi tidak percaya begitu saja.


Bu Sarinem hanya tersenyum dan menggeleng kepala, melihat tingkah kedua lelaki beda usia itu. Kemudian berjalan menuju kamar mandi, tidak perduli di ikuti keduanya.


Pak Jumadi melihat senyum istrinya, pun hatinya berbunga-bunga. Sudah 20 hari ini dirinya baru melihat lagi, yang mana senyuman itu sangat ia rindukan.


Anah dan Monik tersenyum melihat kedua orang tuanya terlihat akur dan tidak berantem lagi. Dan bapaknya tidak berbuat apa-apa yang akan membuat mereka tidak punya bapak lagi.


Udin minta turun dari gendongan bapaknya saat di kamar mandi. Dirinya melakukan hal yang sama dengan bu Sarinem.


Begitu pun dengan pak Jumadi, setelah melihat Udin selesai. Namun berbeda dengan Udin, pak Jumadi selalu jongkok. Dirinya tidak pernah buang air kecil, dengan posisi berdiri. Dengan gerakan cepat ia menahan tangan istrinya, ia benar-benar tidak ingin berjauhan dengan istrinya.


Bu Sarinem menoleh saat melihat, tangan suaminya menggenggam pergelangan tangannya. Ia pun berhenti dan menunggu suaminya, heran kenapa suaminya jadi seperti anak kecil. Si Udin saja tidak seperti ini, pikir bu Sarinem melihat kelakuan suaminya.


Setelah selesai mereka berjalan ke kamar, dengan senyum bahagia dan tidak melepaskan genggaman tangannya. Lebih tepatnya pak Jumadi yang tidak mau melepaskan tangannya istrinya.


Nenek melihat rona bahagia di wajah anak dan menantunya. Hanya bisa melihat dengan tatapan mata yang tidak bisa di artikan oleh siapa pun.

__ADS_1


*****Bersambung.....


__ADS_2