
Anah hanya menatap kepergian bapaknya, tidak lama dari itu dia mengganti baju.
Setelah itu dia langsung merebahkan diri di ranjang tempat tidur. Dia menangis dalam diam di dalam kamar, tidur pun tidak bisa.
Terus saja bayangan dirinya ketika sakit di kes empat. Bapaknya memberikan semangat, agar dia sembuh dan bisa sekolah lagi.
Kata demi kata, yang di ucapkan oleh pak Jumadi. Terus saja berputar dalam pikirannya, bahkan keinginannya tidak dapat kan.
"*Kenapa aku di lahir kan ke dunia, kalau aku cuma untuk menderita. Aku juga ingin apa pun yang aku inginkan, aku dapatkan. Kenapa selama ini, aku selalu di siksa dulu nenek. Yang selalu menjadi kan aku tempatnya marah. Dan sekarang aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan."
"Percuma aku pindah ke sini, bapak tidak lagi sayang seperti dulu. Yang paling di sayang adalah Udin, Monik dari dulu mendapatkan tempat yang enak. Makan enak, selalu di turunin setiap ada kemauan. Kalau aku bunuh diri, mungkin mereka juga gak akan merasa kehilangan."
"Sebenarnya aku ini anaknya kandung apa anak angkat sih. Seharusnya mereka itu memberikan yang sama pada setiap anaknya. Tapi aku selalu di suruh mengalah, untuk Monik bisa makan enak. Kalau aku juga anaknya pasti mereka akan membagi dua biar adil*." Anah bergumam dalam hati, dengan derai air mata.
Sorenya pak Jumadi pulang dari kebun, sudah mandi kita duduk di ruang tamu.
Melihat Monik dan Udin yang sedang bermain. Dia pun membiarkan Anah yang tidak keluar rumah sama sekali.
Sebenarnya pak Jumadi tidak tega, tapi kekhawatiran nya Anah akan putuskan sekolah di tengah jalan pun lebih kuat.
Tadinya ingin menyekolahkan Anah di SMPN saja. Yang menurutnya bisa di pantai setiap hari, dan berangkat pagi pulang sore.
Namun lagi-lagi rasa takutnya Anah pacaran dan berujung putus sekolah. Akhirnya tetap pada pendiriannya, lebih baik Anah tidak usah sekolah.
Dan dirinya yakin seiring berjalannya waktu Anah tidak akan lagi mengurung diri di kamar. Dan tidak akan marah lagi pada dirinya, terlebih Anah memiliki sifat yang pemaaf.
...****************...
Seminggu telah berlalu, Anah menjadi pendiam dan mudah tersinggung. Kalau sudah tersinggung, Anah seharian pun akan marah dan setiap bicara pun ketus.
Anah sejak saat itu sudah tidak pernah pergi mengaji lagi. Hanya Monik sendiri yang mengaji, dan Monik tidak luput dari pertanyaan teman sekelasnya Anah.
__ADS_1
Seperti Uliya, Sulastri, Maryati, Setiawan Supriyanto. Yang sering main di sekolah dan tempat mengaji.
"Monik Anah kalau di rumah ngapain aja?"tanya Maryati, yang merasa paling kehilangan Anah.
Dia memilih sekolah lanjut ke pondok pesantren itu atas ajakan Anah. Karena dirinya tidak merasa sendiri, di pondok nanti.
Tapi dia sudah selesai daftar sekolah di sana. Tidak ketemu dengan Anah, maka dari situ dirinya bertanya keberadaan Anah pada Monik.
"Dia di rumah paling menyapu sekeliling rumah, setelah itu paling tidur. Kadang menangis, marah-marah, dan paling tiduran aja."Jawab Monik.
"Apa mungkin dia bosan?"tanya Sulastri.
"Tapi si Anah tidak sekolah kenapa? bukannya dia bilang ingin sekali sekolah bahkan kalau bisa sampai kuliah?"tanya Uliya.
"Anah kenapa jadi pembohong, aku semangat sekolah karena dia. Tapi sekarang malah yang tidak sekolah, jangan aja nanti tau-tau dia nikah."Kata Maryati.
"Ih bibi kalau ngomong sembarangan, Anah kan tidak pernah pacaran, mana mungkin nikah."Kata Uliya.
Uliya adalah keponakan Maryati, anak dari kakak pertama Maryati. Uliya merupakan anak kedua dari bu Umayyah.
"Itu yang di pojokan mau ngobrol apa mau ngaji?"tanya ustadz Zainal Anshori.
"Ngaji pak ustadz." Jawab Monik dan yang lainnya.
"Ngaji mas,"jawab Maryati.
"Ngaji lek,"jawab Uliya.
Ya pak ustadz Zainal Anshori adalah suami Fatma, kakak kedua Maryati. Sehingga dia masih saja manggil ustadz tersebut dengan panggilan mas.
Uliya pun selaku keponakan, selalu manggil dengan panggilan lek. Seperti setiap hari di rumah, manggil dengan panggilan lek.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Monik sudah pulang dari masjid. Melihat Anah yang sedang menonton televisi, bahkan ikut tertawa saat yang di tonton ada yang lucu.
Ada rasa senang bisa melihat mbaknya tertawa lagi. Sudah berapa hari ini Anah tidak ikut nonton TV.
"Mbak besok ngaji ya, teman-teman pada tanyain mbak."Kata Monik, dengan hati-hati.
Tapi tetap hal itu masih tidak di respon sama Anah. Yang lebih tepatnya Anah masih belum bisa di ajak bicara. Jika itu berhubungan dengan keluar rumah, maka Anah akan marah.
"Tadi mereka pada tanyain, kenapa mbak tidak mau mengaji dan sekolah? Mbak Maryati juga tanya, kenapa mbak gak jadi mondok? Terus.... "Belum selesai ngomong sudah di bentak sama Anah.
"Terus apa? bilang saja kalau aku ini pembohong, atau mau bilang kalau tidak bisa di percaya!"bentak Anah. Langsung pergi ke kamar.
Monik masih mematung, sudah di duga mbak akan marah. "Tau begitu aku gak usah sampaikan semua pesan mereka." Kata Monik dalam hati.
Pak Jumadi yang melihat perubahan sikap dan sifat Anah. Ia tidak bisa diam saja, harus bicara dengan Anah.
Melihat keadaan rumah memang sepi tidak ada yang menonton TV di rumahnya selain keluarga sendiri. Lalu beranjak dari duduknya, berjalan menuju kamar Anah.
"Anah mulai besok kamu ikut ke kebun. Kamu itu harus bisa menghadapi kenyataan. Setiap orang itu pun kehidupan ya berbeda-beda. Jadi jangan merasa diri mu yang paling menderita, dengan keadaan mu ini. Masih ada yang lebih menderita dari kamu. Hanya saja kita belum pernah ketemu, sama orang yang lebih susah dari kamu."
(........)
"Kamu sudah besar jadi harus bisa menjadi diri sendiri. Dan orang hidup itu juga butuh makan, dan makanan itu butuh kita cari. Tidak ada yang ngasih makan dengan cuma-cuma.
Mulai besok kamu ikut bapak dan ibu kerja, lagian kamu bisa kenyang kalau cuma di rumah. Makanan yang kamu makan itu, juga boleh hasil kerja. Kamu harus belajar, karena sebentar lagi bakal nikah. Belajar dewasa jangan kayak anak kecil yang belum bisa apa-apa."Kata pak Jumadi memberi nasehat pada Anah.
Dengan maksud supaya Anah lebih baik dari sekarang. Dan lebih dewasa, karena sifatnya anak yang manja.
Sekarang dia sudah remaja, jadi perlu belajar bersikap dewasa. Supaya tidak bikin malu diri sendiri, di depan orang. Terutama saat berhadapan dengan keluarga Seswanto lelah. Atau siapa pun yang akan jadi suami Anah, karena sudah pasti dalam waktu dekat.
Anah yang mendengar ucapan bapaknya tidak menjawab sama sekali. Tapi Anah tau maksud dari ucapan bapaknya. Anah akan melakukan apa yang dikatakan bapaknya. Dengan begitu Anah tidak akan menyusahkan orang tuanya.
__ADS_1
Ia hanya berpikir, dengan dia ikut bekerja. Dirinya tidak akan bosan di rumah, dan dia tidak di cap makan gratis oleh orang tuanya.
*****Bersambung....