
"Ya gak papa mas Jum, kami malah ngerepotin mas Jum dan keluarga." Ujar pak Iman.
Tak lama Susi dan Parno yang membawa nampan gelas teh dan di serahkan pada para tamu. "Silahkan di minum" Kata Parno
"Monggo-monggo di minum hanya ini yang bisa saya suguhkan."Kata pak Jumadi.
"Ini sudah Alhamdulillah mas Jum." ucap Roni.
Setelah selesai mengeluarkan minuman, Parno mengajak Susi bergabung dengan bu Sarinem. Yang sedang duduk di sebelah Anah bersama Nenek, dan Monik. Mereka ngobrol hingga tak terasa sudah satu jam. Akhirnya mereka pulang, lagi-lagi mereka memberikan amplop masing-masing rombongan yaitu keluarga pak Iman dan keluarga Roni semua memberikan pada pak Jumadi untuk berobat Anah.
"Mas ini sekedar membantu meringankan berobat Anah."Kata pak Iman.
"Semoga Anah cepat sembuh ya mas, ini untuk tambahan berobat besok."Kata Roni.
"Ngomong-ngomong besok naik apa mas ke puskesmas nya?"tanya Roni.
"Rencananya mau cari ojek mas, paling tidak dua motor soalnya saya sama Parno yang akan berangkat."Pak Jumadi
"Ya sudah satu saya, satu lagi nanti saya coba ajak Riyadi."Kata Roni.
"Tapi mas roni gak ngasih gratis lagi kan. Bukan apa mas, saya niat cari ojek bukan cari bantuan lo."Kata pak Jumadi dengan senyum manis.
"Pengennya gratis mas, dari pada gak di terima mending ya in ajalah. Yang penting buat bensin bolak-balik aja."Balas Roni dengan canda.
"Sip kalau begini diel mas."Mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Roni.
Akhirnya mereka pulang terkecuali Parno dan Susi. Parno dan Susi malah cuci gelas di sumur. Setelah selesai mereka makan itu juga karena Parno yang lapar akhirnya Susi ikut makan walaupun sedikit. Dan lanjut dengan sholat isya, setelah selesai mereka bergabung dengan yang lain.
"/Par kamu tidur di kamar mas aja kasur lebih besar. Kalau kamar mamak cuma sebelah."Kata pak Jumadi.
"Gak mas biar mamak yang tidur kamarnya, Susi tidur sama mbak yu dan Monik. Kita tidur sama Anah."Kata Parno.
__ADS_1
"Alah alasan kamu aja Par, bilang aja kamu mau mas peluk lagi." Ledek pak Jumadi.
Susi tersenyum mendengar ucapan pak Jumadi dan melirik Parno. Parno yang merasa malu di depan Susi mengalihkan perhatian.
"Ck, sampean bilang aja cemburu Anah ku peluk." Kata Parno "kalau gak ada mas orang bilang Anah itu anakku."Lanjut Parno.
"Iya itu kalau kamu bapak angkat, karena kamu memang tinggal angkat ke dalam gendongan. Tapi mau sampai manapun kamu bawa Anah tetap aku yang di cari. Karena memang aku yang membuat dia ada atas izin Allah. Tapi kalau kamu sama Susi mau tidur dengan Anah, mas dengan senang hati."Kata pak Jumadi
"Et gak bisa mas, aku sudah prediksi ini dari siang. Kalau aku gak bisa, mas pun sama. Dek cepat masuk kamar yang biasa, mbak pinjam mas semalam ya aku masih kangen."Kata Parno pada kakak iparnya, dengan mengedipkan mata sebelah.
"Dek m...."
"Iya mas aku ke kamar, yu aku duluan sama Monik. Ayo Monik sama bibi ke kamar nanti ibu nyusul." Sambil menarik tangan Monik dengan lembut. Tak berani menatap kakak ipar atau pun suaminya. Parno tersenyum penuh kemenangan.
Bu Sarinem hanya menggeleng kepala, lalu berkata; "dasar bocah gendeng."Langsung ke kamar menyusul Susi dan Monik.
"Yes gak popo lah di bilang gendeng seng penting iso turu bareng Anah."Celoteh Parno sambil cengengesan.
"Ya kalau sudah punya cucu mas baru aku tua."Ikut naik ranjang, mereka tidak berbicara lagi dan langsung tidur.
...****************...
Pagi hari tepat jam 7 pagi, Roni dan Riyadi sudah sampai dan siap untuk mengantarkan pak Jumadi.
"Assalamualaikum"ucap Roni dan Riyadi.
"Wa'alaikumsalam, masuk dulu mas sudah ngopi sama sarapan belum, kalau belum biar di siapin ibunya Anah."Kata pak Jumadi.
"Alhamdulillah mas sudah, mending langsung jalan kalau sudah pada sarapan."Roni yang sudah semangat.
"Ya sudah kita jalan, dek kain sarung lagi buat tutup kepala. Kaos kaki juga takut kedinginan nanti." Pinta pak Jumadi, sambil mengangkat Anah dalam gendongan.
__ADS_1
"Iya mas ini tinggal pakai kan sudah di siapkan."Kata bu Sarinem.
"Ba...baa pak" kata Anah terbata dan lemah.
"Iya sayang kita mau berobat biar sembuh ya."Ujar pak Jumadi, tau maksudnya putrinya.
"Eem aa ku ma u see ko laah pak."Anah mau sekolah, cuma itu yang ia inginkan.
"Nanti kalau sudah sembuh baru sekolah, sekarang kita berobat yah."Berusaha memberi pengertian pada Anah.
"Iya cantik, mau minum dulu nih"bu Sarinem memberikan pada Anah air minum yang sudah di beri gula. Dan Anah minum hanya beberapa ceguk.
"Ya sudah mas berangkat ya doain selamat sampai pulang."Pamit pak Jumadi.
"Iya mas hati-hati."Jawab bu Sarinem.
Parno, Roni dan Riyadi, sudah siap di depan. Parno sama Riyadi dan pak Jumadi sama Roni. Mereka harus menempuh per jalan satu jam lebih, dengan motor, jika sepeda bisa 3 jaman.
Sampai di puskesmas langsung di tangani dokter, di periksa lebih detail. Hingga dokter menyarankan untuk di rawat inap di rumah sakit. Karena kondisi Anah dalam keadaan tidak sadar lagi setelah sampai puskesmas.
"Bagaimana, putri saya sakitnya apa bu dokter? apa tidak ada cara lain, kalau harus ke rumah sakit, sekarang itu tidak mungkin. Bu dokter tau sendiri biaya rumah harus banyak. Dan langsung tidak bisa besok, kalau mau anak saya di urus?"tanya pak Jumadi.
"Bisa saja pak mungkin kalau ada tabib, atau bapak bisa bantu dengan cacing tanah. Karena putri bapak sakit tipes, ini sudah parah pak kalau sampai anak bapak tidak sadar. Tidak hanya itu putri bapak terlalu banyak beban pikiran. Apa putri bapak mengalami tekanan, mungkin teman-teman nya atau itu orang sekitar? mungkin selama ini ia pendam sendiri. Coba nanti bapak tanyakan, dan bantu atasi masalah nya."Penjelasan dokter, pada pak Jumadi.
"Baiklah dok nanti saya akan obati secara tradisional saja. Kebetulan dulu almarhum bapak mertua seorang tabib dan sangkal putung(penyambung tulang, atau lebih dikenal mengobati orang patah tulang.) Bu dokter. Saya juga sering di ajak mengobati orang sakit malaria, dan tipes. Kalau masalah putri saya, nanti saya cari tahu. Karena sudah satu tahun saya tinggal sama neneknya dan saya pulang hanya beberapa bulan sekali. Saya pamit ya bu dokter, terima kasih banyak atas penjelasannya."Kata pak Jumadi
"Sama-sama pak."Jawab bu dokter.
Lalu pak Jumadi dan Parno keluar dari ruangan dokter umum. Dan menuju bagian obat Parno yang menyerahkan resep obat Anah. Setelah selesai mereka langsung pulang pikiran pak Jumadi kacau namun tetap berusaha tenang. Supaya istrinya juga ikut tenang, karena ia juga memikirkan kondisi istrinya yang sedang mengandung.
*****Bersambung.....
__ADS_1