TAKDIR KU

TAKDIR KU
112.TANTANGAN DARI KEPALA SEKOLAH


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu, pak Jumadi melihat lingkungan. Banyak gadis kecil yang putus sekolah, hanya karena sudah kenal yang namanya cinta. Memilih untuk berumah tangga ketimbang sekolah.


Jangan kan yang SMP atau SMA, yang masih SD saja memilih putus sekolah. Karena tidak bisa melanjutkan pendidikan, hanya karena tidak naik kelas beberapa kali.


Pak Jumadi sudah berencana akan menjodohkan dengan pemuda yang ikut dengan dirinya selama setahun lebih itu.


Pemuda itu pekerja keras, sayang keluarga, dan sudah di kenal sejak masih kecil. Di tambah lagi, melihat gelagat pemuda itu menyukai Anah sejak masih di kecil dulu.


Namun ada tawaran juga dari bosnya, pemuda ini buat rebutan antara pak Jumadi dan bosnya yaitu pak Yatno.


Yang pak Yatno memiliki anak bujang yang putus sekolah baru beberapa bulan lalu. Memilih putus sekolah karena turun peringkat, dari peringkat pertama jadi kedua. Dengan selisih nilai 1 angka saja, ini sudah menjadi patah semangat untuk dirinya.


Yang di ketahui anak pak Yatno ini, tidak pernah ada yang bisa menandingi sejak SD. Ketika kelas 2 SMA, ketika ujian kenaikan kelas. Sarwadi mendapat peringkat kedua, selisih nilai hanya satu angka.


Baginya itu sudah jatuh dan sulit untuk di dapatkan. Dan hari itu juga hari terakhir dia menginjakkan kakinya di sekolah.


Anak kedua pak Yatno, yaitu Darminah yang saat ini kelas 2 SMP. Anak yang penurut, cantik tidak kalah cantik dengan Anah. Memiliki tinggi badan yang ideal bak seorang model, seksi, putri.


Sedangkan Sarwadi hanya memiliki tinggi badan 160 cm. untuk ukuran laki-laki itu pendek, karena Sarwadi mengikuti perawan ibunya. Yang kecil mungil tak jauh beda dengan bu Sarinem.


Pak Jumadi dan pak Yatno mengucapkan kesepakatan untuk mendapatkan Seswanto. Siapa yang akan mendapatkan Seswanto untuk putrinya. Jika pak Yatno yang dapat, maka Anah harus menikah dengan Sarwadi.


Dan pak Jumadi sepakat untuk mendapatkan Seswanto. Tapi untuk menjodohkan Anah dan Sarwadi, itu tergantung Anah mau atau tidak.


Untuk saat ini Anah mendapatkan tantangan dari kepala sekolah. Hari esok akan di ajar langsung oleh kepala sekolah.

__ADS_1


Tantangan nya adalah, dalam tantangan tersebut melalui mata pelajaran matematika. Siapa yang mendapat nilai 5 kebawah tidak boleh sekolah lagi. Dan lebih baik di nikah kan saja, apa lagi yang sudah pada pacaran.


Di kelas Anah ada beberapa anak yang memang usia nya sudah 14 tahun ke atas. Mereka yang sudah beberapa kali tidak nak kelas. Ada juga yang memang sekolah sudah besar, di tambah lagi suka pacaran.


Secara tidak langsung kepala sekolah mendapatkan laporan dari para guru. Bahwa kelas Anah ini nilai banyak yang anjlok, di sebabkan sering pacaran. Ada juga karena tidak dapat mengikutinya. Termasuk Anah yang sulit mengikuti mata pelajaran satu ini.


"Semangat banget belajar tumben?"tanya bu Sarinem.


"Iya nih bu, besok ada tantangan dari kepala sekolah."Jawab Anah sambil menggaruk kepalanya.


"Tantangan apa, kayak berat begitu?"tanya bu Sarinem.


"Itu siapa yang pada pacaran, yang lain pada kena imbasnya. Padahal aku itu nilai nya jelek bukan karena pacaran."Jawab Anah dengan manyun.


Bu Sarinem yang tidak terlalu setuju dengan niat pak Jumadi dengan perjodohan. Karena ia tau di paksa itu sangat lak tidak enak. Terlebih mendapatkan mertua yang galak dan judes.


"Ah apa sih, boro-boro pacaran. Yang ada aku cuma di bully. Di sini aku itu cuma punya satu teman yang baik. Tapi dia tukang pacaran, lagi ngaji aja dia sempet-sempetnya pacaran sama cowok yang sudah dewasa."Jawab Anah makin cemberut aja itu Anah.


"Terus apa sama Prehatin itu apa gak pacaran. Kayaknya kalau lagi main dan bercanda, namanya di sebut-sebut?"tanya bu Sarinem semakin menggoda.


"Karena cuma dia, Nyoman dan Gusti yang baik sama aku. Tidak pernah menbully, mereka mau main dan bercanda sama aku. Kalau untuk pacar aku sih ya mau aja kalau Prehatin yang bilang duluan. Ya kali aku perempuan, emang aku si Maryati."Pengakuan Anah pada ibunya.


"Halah masih kecil gak usah pacaran dulu. Kalau memang sudah selesai sekolah, atau lulus SD nanti. Kalau mau langsung nikah saja, jangan pacaran nanti malu kalau kaya Ayuk Lisa."Kata pak Jumadi yang tiba-tiba nyaut obrolan Anah dan ibunya.


Dan itu juga di dengar oleh

__ADS_1


Seswanto, Suyono, Irwan dan Sarwadi. Mereka lagi main ke rumah pak Jumadi, seperti biasa ngobrol-ngobrol dengan pak Jumadi. Apa lagi Sarwadi yang sekarang cuma di rumah di temani para pekerja. Karena pak Yatno sudah membeli rumah di dekat pasar. Yang daerah sana adalah daerah yang ramai, karena sudah orang-orang kaya mampu membeli rumah di sana.


"Maksudnya bapak biar aku gak hamil kan? Kalau itu sih aku juga tau. Katakan Elis, Ayuk Lisa itu sering pergi bolos sekolah. Dan pacaran di pinggir kali, sama mas Rudi. Itu mas Rudi juga jadi cowok kok jahat banget."Kata Anah yang greget sendiri.


"Dah jadi ngomongin orang."Kata pak Jumadi.


"Lah dari tadi kan memang ngomongin orang. Padahal yang awalnya apa jadi apa. Jadi aku pula yang di salahkan, kan tadi ibu dan bapak."Kata Anah, yang kesal karena bapaknya menyalahkan dirinya.


Pak Jumadi cuma menggeleng kepala melihat tingkah laku Anah, dari dulu tidak mau kalah.


"Terus tadi apa tantangan dari pak kepala sekolah An?" tanya Seswanto, yang dari tadi hanya menyimak.


"Mata pelajaran matematika, tantangan nya siapa yang dapat nilai 5 ke atas boleh sekolah. Dan siapa saja yang dapat nilai 5 ke bawah gak boleh sekolah lagi. Terus katanya suruh ijab sah alias nikah, dari pada pacaran dan nilai sekolah jelek."Jawab Anah.


"Kira-kira kamu besok kalau dapat 5 ke bawah gimana apa masih sekolah?"tanya bu Sarinem.


"Kalau aku akan tetap sekolah, kan aku gak pacaran kenapa aku harus berhenti sekolah."Jawab Anah dengan gamblang.


"Tapi kan nilai nya 5 ke bawah, dan peraturan tidak boleh sekolah."Kata Sarwadi.


"Tapi aku tidak akan berhenti sekolah mas. Kalau aku berhenti sekolah berarti aku mengakui. Kalau aku tidak bisa menghitung, karena pacaran jadi tidak fokus sekolah."Jawab Anah dengan nada tinggi karena kesal.


Langsung beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan menuju kamarnya. Karena sudah tidak fokus untuk belajar lagi.


"Yah ngambek tu anak," Kata Seswanto yang sudah hafal karakter Anah.

__ADS_1


__ADS_2