TAKDIR KU

TAKDIR KU
42.PARNO ADIK SEKALIGUS ANAK SULUNG SAYA


__ADS_3

"I.. iya... lumayan mas, ini semua juga berkat kerja kerasnya Parno."Kata pak Iman dengan gagah di awal bicara.


"Wah ada kemajuan berarti, Parno sebelum menjadi menantu pak iman. Parno kalau tidak di gembleng tidak mau bekerja. Mungkin karena sudah punya istri, jadi punya rasa tanggung jawab."Kata pak Jumadi, sedikit merendahkan adiknya di hadapan pak iman.


"Ma..masak sih mas, tapi kalau di lihat dari cara kerjanya bagus tidak kurang sedikit pun."Kata pak Iman, sedikit bingung dengan ucapan pak Jumadi.


"Oh ya! apa dia kerja dengan senyum?"tanya pak Jumadi. Dari pertanyaan ini semakin membuat pak Iman tak mampu berkata-kata.


(*****)


"Saya ada rencana dua tahun lagi insya Allah, jika Allah berkehendak. Saya akan boyong mamak, Suparno dan Susi. Untuk ikut ke perkebunan, yang sedang saya garap sekarang. Yang di sini mungkin saya jual, untuk beli di sana."Pak Jumadi berkata seakan itu sebuah ancam besar bagi pak Iman.


"Mas Jum kalau bisa, Parno dan Susi biar bersama kami saja. Saya tidak bisa jauh dari Susi."Kata mamak Susi dengan mata berkaca-kaca.


"Bukannya seorang istri itu yang baik, adalah istri yang menurut pada suami ya bu?"tanya pak Jumadi.


"Benar mas, tapi Susi anak bungsu saya dan anak kesayangannya keluarga."Mamak Susi sudah tak bisa menahan air matanya yang sudah meluncur bebas.


"Apakah Parno bukan anak kesayangannya keluarga? Bahkan Parno adik sekaligus anak sulung saya. Dari bayi merah saya merawat dan membesarkan parno. Membesarkan anak seorang diri di usia anak-anak itu tidak mudah bu. Biarpun Parno tidak bicara apapun, pada saya. Saya tau bahwa anak saya, sedang tidak baik-baik saja. Apa ibu rela, kalau anak ibu tertekan? saya tau anak ibu kesayangannya keluarga ibu, tapi tidak keluarga pak Iman. Mereka menyayangi Susi karena pak Iman, bukan dengan tulus. Benar begitu pak Iman?"menoleh dan meminta kebenaran dari pak Iman.


"I...ya...mas benar, karena saya tidak mau mereka membuat Susi tidak betah karena merasa tak nyaman."Jawab pak Iman.


"Susi sekarang sudah dewasa, dia seorang istri. Yang berhak atas Susi bukan lagi ibu ataupun Supri. Tapi Parno yang lebih berhak atas Susi. Apakah ibu juga ikut orang tua ibu bukan suami ibu? Bisa saja saya tidak mengajaknya asal adik saya bahagia, tidak terpaksa tinggal di rumah ini. Kalau tidak ada yang berubah bahagia untuk mereka berdua. Maka saya akan tetap membawa mereka, tanpa restu dari kalian. Karena kami yang yang berhak atas Susi, terlebih Parno." Kata pak Jumadi penuh penekanan.


"Saya minta maaf pada mas Jum, saya ngaku salah pada mas Jum. Karena kurangnya perhatian pada Parno."Menunduk karena merasa malu dan bersalah jadi satu. Iya juga tak mau Susi di bawa besannya.


"Baiklah saya pegang ucapan pak Iman. Untuk maaf, saya tidak terima. Karena kesalahannya bukan pada saya, melainkan Parno."Dengan tegas mengatakan itu.


Semalam ia sudah pikirkan, masalah ini dan ia akan pastikan bahwa parno akan di terima dengan baik. Karena ia tau kelemahan pak Iman adalah Susi. Pak Iman tak bisa melihat istrinya rapuh.

__ADS_1


"Ya sudah karena tidak ada lagi, yang mau saya bicarakan saya permisi mau ke pasar."Kata pak Jumadi.


"Iya mas terima kasih atas kunjungannya ke rumah kami."Kata pak Iman.


"Adek ayo kita berangkat ke pasar, nanti keburu pesanan Unyil habis."Ajak pak Jumadi pada istrinya. Dan segera keluar dari rumah pak Iman.


Bertepatan dengan kepulangan Parno dari pasar. Parno bingung dengan masnya datang ke rumah mertuanya.


"Mas ada di sini apa marah sama aku. kan semalam aku udah bilang mau ke pasar dulu?"tanya Parno, bingung dengan kedatangan masnya.


"Oh jadi kamu gak suka, mas main di rumah mertuamu, ya sudah yok dek kita pergi dari sini pa...."belum selesai sudah di potong sama parno.


"Eh bukan begitu mas, aku kaget aja mas datang ke sini, semalam gak ngomong kalau mau ke sini, maafkan aku mas." Langsung memeluk masnya ia takut, kalau pak Jumadi marah dengan muka sendu.


"Mas cuma bercanda gak marah, kenapa harus marah coba?"tanya pak Jumadi, sambil melepaskan diri dari pelukan Parno


"Kamu ini, ya sudah mas mau ke pasar, nanti tidak dapat pesanan Anah bisa repot aku."Kata pak Jumadi.


"Ya sudah kalau begitu. Monik gak usah ikut bapak sama ibu, ikut lek pulang yok." Parno nyapa Monik.


"Gak mau, aku mau ikut ke pasar lek."Kata Monik.


"Ya lek pulang sendiri,"kata Parno.


"Kan ini rumah mu lek" tunjuk Monik, yang ia tau itu rumah pak leknya.


"Bukan cah ayu, itu rumah pak Iman. Dada cah ayu, jangan lupa belikan mbah Anah jajan ya."sedikit berteriak karena pak Jumadi sudah menjalankan sepedanya.


"IYA!"teriak Monik.

__ADS_1


"Monik itu diem ya mas, gak kaya Anah, banyak ngomong, cerewet tapi pinter."Kata Susi.


"Iya memang Monik, anak diam. Tapi tidak akan diam jika sudah bersama Anah. Makanya panggilan khusus itu dari tanah kelahirannya sana Unyil, lucu dan ceriwis."Kata Parno,


"Ya sudah yok aku lapar, habis ini aku mau berangkat langsung ke sawah masku."Lanjut Parno sambil menggandeng tangan Susi.


Pak Iman dari tadi melihat mereka dari ruang tamu, memang kaca transparan.


"Sudah mak jangan nangis lagi. Atau Susi akan lihat air matamu. Jangan sampai mereka tau ini, sebelum Parno menganggap kita keluarga."Kata pak Iman.


"Tak lama Parno dan Susi masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu tinggal pak Iman, karena istrinya sudah pergi ke dapur. Parno hanya melirik saja sambil jalan ke dapur. Untuk menyerahkan belanja ya ia tenteng pada ibu mertuanya. Dengan tetap menggenggam tangan Susi. Karena tak di tegur oleh Parno, akhirnya pak Iman menyusul ke dapur.


"Parno ayo sarapan nak, pasti kamu mau bantu masmu kan." Kata pak Iman dengan lembut mencoba mendekati Parno. Berharap Parno bisa nyaman berada di rumah.


"Ya pak, setelah sarapan saya berangkat."Heran dengan sikap pak Iman.


"Panennya banyak apa tidak, panen sekarang ini?"tanyanya lagi


"Lumayan pak, mas Jum juga panen wijen, sama jagung, setelah padi, langsung jagung."Jawab Parno sambil menyuap makanan ke mulut.


"Wah lumayan itu, dari dulu mas mu yang baru tinggal di sini. Itu di kenal rajin, makanya banyak yang kagum padanya, pemuda pekerja keras. Sama seperti kamu, dengan kerja keras mu. Panen ini hasilnya lumayan dari pada panen lalu."Kata pak Iman sedikit menyanjung Parno.


"Bukan karena saya pak, itu karena tahun ini keadaan lebih baik. Juga tak ada hama dan tikus yang merupakan penyebab gagal panen."Ujar Parno sesuai yang ia lihat di sawah.


"Tetap saja itu juga berkat kerja keras mu, membantu bapak mengelola sawah. Maafkan semua sikap dan perilaku bapak padamu yang kurang baik."Kata pak Iman.


"Sama-sama pak" hanya di katakan Parno.


*****Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2